INILAH JAWABAN KENAPA ORANG BERTERIAK KETIKA MARAH

Kenapa Orang Berteriak Ketika Marah?

Seorang Syeikh berjalan dengan para muridnya, mereka  melihat ada sebuah keluarga yang sedang bertengkar, dan saling berteriak.

Syeikh tersebut berpaling kepada muridnya dan bertanya : “Mengapa orang saling berteriak jika mereka sedang marah?”.

Salah satu murid menjawab : “Karena kehilangan sabar, makanya mereka  berteriak.”

“Tetapi , mengapa harus berteriak kepada orang yang tepat berada di sebelahnya?
Bukankah pesan yang ia sampaikan , bisa ia ucapkan dengan cara halus ?”. Tanya sang Syeikh menguji murid2nya.

Muridnya pun saling beradu jawaban, namun tidak satupun jawaban yang mereka sepakati.

Akhirnya sang Syeikh  berkata : “Bila dua orang sedang marah, maka hati mereka saling menjauh. Untuk dapat menempuh jarak yang jauh itu, mereka harus berteriak agar perkataannya dapat terdengar. Semakin marah, maka akan semakin keras teriakannya.  Karena jarak kedua hati semakin jauh”. 

“Begitu juga sebaliknya , di saat kedua insan saling jatuh cinta?” lanjut sang Syeikh.

“Mereka tidak saling berteriak antara yang satu dengan yang  lain. Mereka berbicara lembut karena hati mereka berdekatan. Jarak antara ke 2 hati sangat dekat.”

“Bila mereka semakin lagi saling mencintai, apa yang terjadi?”, Mereka tidak lagi bicara. Mereka Hanya berbisik dan saling mendekat dalam kasih-sayang. Pada Akhirnya , mereka bahkan tidak perlu lagi berbisik. Mereka cukup hanya dengan saling memandang. Itu saja. Sedekat itulah dua insan yang saling mengasihi.”

Sang Syeikh memandangi muridnya dan mengingatkan dengan lembut : “Jika terjadi pertengkaran diantara kalian, jangan biarkan hati kalian menjauh. Jangan ucapkan perkataan yang membuat hati kian menjauh. Karena jika kita biarkan, suatu hari jaraknya tidak akan lagi bisa ditempuh”….

Advertisements

KAJIAN RIYADHUS SHOLIHIN

🌞SPIRIT DHUHA⏰

Kajian Riyadhus Shalihin

Bab 5  Muraqabah (Pengintaian)  Hadits 65

Keenam: Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya ia mendengar Nabi s.a.w. bersabda:

“Sesungguhnya ada tiga orang dari kaum Bani Israil,
Yaitu orang supak,yakni belang- belang kulitnya
Orang botak
dan orang buta.
Allah hendak menguji mereka itu, kemudian mengutus seorang malaikat kepada mereka.

Ia mendatangi orang supak lalu berkata: “Keadaan yang bagaimanakah yang amat tercinta bagimu?” Orang supak berkata: “Warna yang baik dan kulit yang bagus, juga lenyaplah kiranya penyakit yang menyebabkan orang- orang merasa jijik padaku ini.”
Malaikat itu lalu mengusapnya dan lenyaplah kotoran- kotoran itu dari tubuhnya dan dikaruniai -oleh Allah Ta’ala – warna yang baik dan kulit yang bagus.

Malaikat itu berkata pula: “Harta macam apakah yang amat tercinta bagimu?” Orang itu menjawab: “Unta.” Atau katanya: “Lembu,” yang merawikan Hadis ini sangsi – apakah unta ataukah lembu.
Ia lalu dikaruniai unta yang bunting, kemudian malaikat berkata: “Semoga Allah memberi keberkahan untukmu dalam unta ini.”
….

#SholatYuk
#SholatDhuhaYuk
@DhuhaUmat

Artikel Islami : Hati Sebagai Cermin Akhlaq dan Sensor Cahaya Ilahi

HATI SEBAGAI CERMIN AKHLAQ DAN SENSOR CAHAYA ILAHI                                                                                                       (Oleh Ir. Asep Candra Hidayat, M.Si)                                           

Keberadaan hati dalam diri manusia, tak ubahnya seperti lingkaran penala (sensor gelombang dalam sebuah pesawat radio atau televisi) yang berfungsi untuk menangkap frekuensi gelombang yang lewat di hadapannya.  Manakala sensor tersebut memiliki ferekuensi yang sama dengan frekuensi gelombang yang ada di hadapannya, maka secara otomatis frekuensi gelombang tersebut akan tertangkap oleh sensor tersebut dan kemudian diproses sedemikian rupa oleh suatu mekanisme tertentu yang ada di dalamnya sehingga pada akhirnya pesawat tersebut akan menampilkan pesan yang dibawa oleh frekuensi tersebut melalui manifestasi audio visual yang akan ditangkap oleh panca indrta kita.  Demikian pula halnya dengan hati manusia, ia tak ubahnya seperti sensor tersebut, artinya mekanismenya persis sama dengan cara kerja pesawat tersebut, dimana ia akan menangkap setiap getaran informasi datang ke hadapannya.  Jika getaran hatinya sama persis dengan getaran frekuensi yang ada di hadapannya, maka hati tersebut akan bergetar dan mampu menampilkan pesan yang sampai ke hadapannya.  Namun manakala frekuensi hati tersebut tidak sama dengan frekuensi yang masuk ke hadapannya, maka tentu saja ia tak akan mampu menampilkan pesan tersebut, karena ia tak mampu menangkapnya.

Peristiwa tersebut adalah suatu mekanisme dari fenomena Hukum Alam (Sunatullah) yang mengikuti serangkaian hukum proses sebab akibat yang sudah ditentukan aturan dan kadarnya oleh Allah SWT.  Peristiwa tersebut sendiri secara ilmiah diistilahkan dengan istilah “Resonansi”  atau peristiwa turut bergetarnya materi/benda yang satu karena bergetarnya materi/benda yang lain yang memiliki frekuensi yang sama dengan dirinya.  Peristiwa tersebut sering kali dijumpai dalam kejadian dalam kehidupan sehari-hari seperti :

Peristiwa bergetarnya sebuah garpu tala karena bergetarnya garpu tala yang lain.Peristiwa bergetarnya telpon atau handphone karena frekuensinya digetarkan oleh telpon atau handphone yang lain.Peristiwa tertangkapnya suatu objek atau benda dalam layer suatu radar.Peristiwa tertangkapnya bayangan suatu objek/benda oleh sebuah kameraPeristiwa tertangkapnya bayangan suatu objek/benda oleh mata kitaPeristiwa bergetarnya kaca rumah karena lewatnya sebuah pesawat jet yang dekat dengan dirinya.Peristiwa pecahnya kaca sebuah bangunan karena ledakan sebuah bom yang ada di sekitarnya.dll

Peristiwa-peristiwa tersebut adalah sebagian fenomena yang sering kita saksikan sehari-hari.  Masih banyak fenomena lain yang tidak dapat kita saksikan dengan panca indra kita. Bahkan fenomena sesungguhnya yang tidak tertangkap dengan panca indra kita tersebut jumlahnya tak terhingga dan tak mungkin dapat kita hitung.

Fenomena-fenomena tersebut senantiasa ada selama kita hidup dan keberadaanya senantiasa meliputi kita dalam jumlah yang tak terhingga, baik yang nyata maupun yang tidak nyata, baik yang kita sadari maupun yang tidak kita sadari.

Bagaimana caranya agar kita bisa mengetahui keberadaan fenomena-fenomena baik yang nyata maupun yang tidak nyata tersebut ?  Apakah pancaindra kita mampu menangkap semua fenomena tersebut  ?  Jawabannya adalah tidak.  Kenapa ?  Karena panca indra kita yang kita miliki hanya mampu menangkap sebagian saja dari fenomena tersebut, mengingat tidak semua frekuensi yang dipancarkan oleh fenomena tersebut mampu ditangkap oleh panca indra kita. Kenapa ?  Panca indra kita memiliki kemampuan yang terbatas, yang hanya mampu menangkap frekuensi-frekuensi tertentu saja yang berada dalam batas ambang kemampuannya.  Kemampuan daya tangkap panca indra kita terhadap frekuensi yang ada berdasarkan hasil penelitian berkisar antara 16,5 hertz (getaran per detik) sampai dengan 20.000 hertz.

Jangkauan frekuensi yang sangat terbatas tersebut tidak akan mampu menangkap frekuensi gerakan semut di dinding yang berada di bawah 16.5 hertz, atau bahkan menangkap frekuensi radio atau televisi yang berada di atas 20.000 hertz.  Kenapa begitu ?  Karena Allah sebagai pencipta kita sangat menyayangi dan mengasihi kita, mengapa ?  Karena jika kita bisa mendengar frekuensi yang berada baik dibawah maupun di atas batas ambang frekuensi tersebut (di bawah 16.5 hertz dan di atas 20.000 hertz), maka kita selamanya tidak akan bisa tenang dan  tidak bisa tidur (istirahat) karena semua suara akan terdengar sama kita, baik itu suara yang berada dibawah frekuensi 16.5 hertz seperti halnya langkah semut, suara gerakan atom, suara gerakan amuba, semua gerakan molekul, semua gerakan dan suara binatang, dll maupun suara yang berada di atas frekuensi 20.000 hertz seperti siaran acara televisi, siaran radio, pesan frekeuensi telpon/handphone, wujud makhluk gaib seperti jin, setan dan malaikat, dll baik yang dekat maupun yang jauh dengan kita.

Sekarang muncul pertanyaan, apakah bisa kita menangkap semua frekuensi tersebut ? dan bagaimana caranya ?  Jawabannya adalah  bisa dan caranya adalah dengan hati.  Mengapa bisa begitu dan bagaimana caranya ? Mari kita pelajari dan pahami uraian dan penjelasan berikut ini.

Hati adalah sensor jiwa, dimana kita bisa menangkap dan merespon setiap informasi yang masuk.  Tentu saja informasi yang masuk tersebut dapat masuk baik melalui panca indra maupun langsung melalui getaran yang masuk ke dalam hati tersebut ?  Bagaimana bisa ?

Coba kita perhatikan lampu yang menyala di rumah kita, ia dapat menyala karena kita menekan tombol saklarnya bukan ?  Begitu saklar tersebut ditekan maka dengan otomatis lampu tersebut akan menyala pada saat bersamaan kita menekan saklarnya, nyaris tanpa jeda sedikitpun.  Begitu pula coba kita perhatikan pada saat kita menonton siaran langsung pertandingan sepak bola dari luar negeri.  Meskipun kita dipisahkan oleh jarak yang sangat jauh, namun kita bisa menyaksikan siaran tersebut nyaris pada saat yang bersamaan.  Hal tersebut terjadi juga dengan hati kita,  sebenarnya hati kita tersebut mirip sebuah cermin atau sensor .  Manakala cermin itu persis menangkap frekuensi cahaya yang menimpa dirinya maka tentu saja kita dapat menangkap fantulan bayangan tersebut asalkan sudut pantulnya tepat berada di depan mata kita.  Sama halnya dengan sebuah sensor, iapun akan mampu menangkap frekuensi gelombang yang datang kepadanya asalkan sesuai dengan frekeunsi sensornya itu sendiri.  Namun akan muncul satu pertanyaan, apakah cermin atau sensor tersebut akan mampu menangkap setiap bayangan atau getaran yang ada ?  Jawabanya tidak ?  Mengapa ?  Karena belum tentu cermin atau sensor tersebut berada dalam kondisi yang baik, artinya belum tentu cermin tersebut bersih, belum tentu sensor itu tersebut juga sensitif terhadap getaran.  Kalau cermin itu kusam atau berkarat, maka ia tidak akan mampu menangkap bayangkan dengan sempurna, apalagi cermin tersebut kotor, maka ia tidak akan mampu menangkap bayangan tersebut sama sekali.  Begitu pula dengan sensor, jika sensor tersebut tidak sensitif, maka sensor tersebut tidak akan mampu menangkap getaran halus yang masuk dengan baik, terlebih sensor tersebut rusak , maka jangan harap ia akan mampu menangkap getaran yang tinggi sekalipun

Begitu halnya dengan hati kita, hati kita akan mampu menangkap frekuensi gelombang yang datang ke hadapannya, jika dan hanya jika hati kita tersebut suci dan bersih dari kotoran hati, namun jika tidak artinya jika hati tersebut diliputi oleh kotoran yang melekat pada dirinya, maka ia tidak akan mampu menangkapnya dengan baik.  Terlebih jika hati itu sudah terlanjur kotor sama sekali, maka jangan harap hati kita akan mampu menangkap semua informasi yang masuk, karena informasi tersebut akan terhalang oleh kotoran tersebut.

Hati yang bersih, akan mampu menangkap frekuensi informasi yang lewat ke hadapannya, selemah apapun frekuensi tersebut. Hati yang bersih akan mampu menangkap getaran sinyal dari sekelilingnya baik yang baik maupun yang buruk, baik yang datang dari makhluk hidup maupun yang datang dari alam lingkungan sekelilingnya.  Baik yang muncul dari sikaf, perilaku maupun dari tindakan yang nyata.  Baik yang nyata, maupun yang abstrak.  Baik yang lahir maupun yang dzohir.  Bahkan lebih dari itu iapun akan mampu menangkap getaran frekuensi cahaya Ilahi (Hidayah) yang datang ke hadapannya. Hidayah Allah hanya akan dapat ditangkap oleh orang yang memiliki hati yang bersih dan suci. Hidayah Allah itu sendiri sebenarnya amat luas seluas langit dan bumi, namun hidayah seluas itu justru tidak akan memiliki makna sama sekali dan tidak ada artinya apa-apa bagi orang yang memiliki hati yang kotor.

Setiap orang tentunya senantiasa mengharapkan sekali akan Hidayat Allah tersebut, untuk menuntun jalan kehidupannya ke arah jalan yang benar jalan yang diridhoi Allah.  Kalau begitu maka sebenarnya sangat mudah untuk menangkap Hidayat tersebut kapan saja dimana saja dan bagi siapa saja. Caranya adalah bersihkan hati kita dari segala macam kotoran yang melekat tersebut.  Pertanyaannya adalah, apa saja yang bisa menyebabkan hati kita kotor ?  Jawabannya sangat sederhana yaitu segala sesuatu yang akan mengarahkan hati kita untuk tidak berbuat ikhlas. Tentu kita bertanya apa sebenarnya definisi ikhlas itu ?  Ikhlas adalah sikap hati yang mengarahkan hati untuk berniat dan berbuat dalam segala sesuatu hanya karena Allah semata. Artinya Ikhlas adalah orientasi positif yang hanya untuk Allah semata, tidak untuk yang lain. Masalahnya adalah justru sekarang sebagian besar orang pada umumnya sangat jauh dari dari sandaran ikhlas hanya karena Allah semata, sekarang orang lebih cenderung bahkan seratus persen bersandar pada aspek non Ilahi, aspek keduniawian yang notabene adalah perangkap setan.  Orang sekarang semakin terpedaya oleh gemerlapnya duniawi, baik itu harta (materi), tahta (kedudukan/jabatan), popuratitas dan hal-hal lain yang dapat dianggap dapat memuaskan dorongan bathin dan hawa napsunya.

Dengan materi/dunia yang ia miliki, sebenarnya disadari atau tidak ia secara langsung telah terjebak dalam pilihan yang salah, artinya orientasi yang ia tuju sudah salah arah, tidak lagi dalam kerangka mencari ridho Allah, melainkan dalam kerangka mencari kepuasa duniawi.  Jika ini yang terjadi, maka bukanlah pahala yang akan ia dapatkan, melainkan dosa.  Nauzubilaahimindzalik.

Dalam ilmu teknik pengambilan keputusan, jika kita salah dalam menentukan pilihan, maka konsekuensi dan implikasinya adalah bisa berdampak luas, paling tidak adalah sebagai berikut :

Tujuan tidak akan tercapaiDampak negatif akan segera kita hadapiKerugian-kerugian lain akan segera kita dapatkan, misalnya kerugian waktu, biaya, tenaga, sosial (dikucilkan orang), moral (malu), dllMembahayakan keselamatan kitaMendapatkan murka dan azab Allah

Supaya kita terhindar dari hal-hal tersebut, maka seyogyanya kita mengetahui hal-hal apa saja secara kongkret yang harus kita hindari jauh-jauh untuk tidak kita lakukan.  Hal-hal yang harus kita hindari jumlahnya sangat banyak, namun secara umum dapat disimpulkan ke dalam satu hal, yaitu hindari penyakit hati, yaitu penyakit yang akan membuat hati tidak sehat lagi, karena diracuni oleh hal-hal yang sifanya dapat merusak hati itu sendiri.  Apa sajakah itu ?  Jawabannya sangat luas, namun dapat dikelompokkan sebagai berikut :

Hindari suu’zon (berprasangka buruk kepada orang lain)Hindari sifat iri dan dengki terhadap orang lainHindari perasaan dendamHindari hal-hal yang akan menimbulkan fitnah bagi orang lainHindari mencari-cari kesalahan orang lainHindari menggunjing dan menjelek-jelekkan orang lainHindari sifat sombong dan takaburHindari hal-hal yang akan merusak nilai-nilai akidah dan keimananHindari hal-hal yang akan membawa kemaksiatan dan kemungkaran, seperti judi, mabuk, madat, prostitusi, tindak kriminak, kekerasan, pemerkosaan dan kekejaman terhadap orang lain.Dll

Hal-hal tersebut di atas seringkali melekat pada diri kita selaku orang yang mengaku beriman kepada Allah SWT.  Kalau itu yang terjadi, maka azab Allah akan lebih dahsyat lagi kita dapatkan di yaumil akherat kelak.  Mengapa ?  karena hukuman yang keras hanya berlaku bagi orang yang tahu aturan main, tetapi melanggarnya, sedangkan bagi orang yang belum tahu aturan mainnya, masih ada kemungkinan untuk bisa dimaklumi dan dimaapkan kekeliruannya tersebut Oleh Allah SWT.

Kala kita mengaku sebagai orang yang beriman, maka hendaknya aturan main tersebut dipegang untuk dijadikan pegangan agar kita tidak melenceng dan salah arah dari aturang yang sudah ditentukan tersebut.

Terhadap hal-hal tersebut di atas, umumnya orang masih bisa menghindari untuk satu hal, tetapi tidak dapat menghidari untuk hal lain.  Sifat suu’dzon misalnya, ini hampir menerpa setiap orang yang mengaku dirinya beriman, dimanapun ia berada, kapanpun dan dimanapun.  Sifat suu’dzon tersebut senantiasa melekat dalam hatinya.  Mengapa ?  Karena sifat suu’dzon tersebut muncul karena pengaruh kita terlalu mencintai dunia dibanding keyakinan dan keimanan kita tentang adanya hari perhitungan dan pembalasan di akhirat yang akan memperhitungkan dan menghukum sifat suu’zdon tersebut.  Sifat suu’dzon muncul pada diri seseorang dimana orang tersebut lebih menghargai nilai sebuah materi (harta) dibanding pentingnya nilai hubungan kemanusiaan.  Ia lebih takut kehilangan materi (harta) yang nilainya mungkin tidak seberapa dibandingkan dengan hilangnya nilai persaudaraan, persahabatan dan pertemanan.  Orang seperti ini dalam setiap pergaulan akan senantiasa selalu waspada dan selalu menaruh rasa curiga yang mestinya tidak terjadi.  Orang seperti ini senantiasa menuruti dorongan hati dan hawa napsunya ketimbang akal sehat dan iman.   Orang seperti ini manakala bergaul dengan orang lain akan senantiasa mengecek barang milik dirinya, misalnya handphone, dompet, dll, manakala orang lain tersebut dekat dengan dirinya.  Atau mungkin ia akan selalu menjaga barang yang ia anggap sangat berharga tersebut sampai orang yang ia curigai tersebut pergi atau pulang.  Ia mungkin tidak menyadari bahwa apa yang ia lakukan tersebut dirasakan dan diketahui oleh orang tersebut yang justru sangat menyinggung dan melukai perasaannya.  Akibatnya apa ?  Akibatnya adalah :

Orang lain tersebut secara diam-diam mulai tidak respek dan antipati terhadapnya.Ia akan memetik dosa dari apa yang ia lakukan.Ia beresiko untuk mendapatkan hal terburuk akibat do’a buruk dari orang yang dizaliminya.Azab akhirat telah menantinya

Mengapa azab di akhirat akan ia dapatkan ?  Karena apa yang ia lakukan tersebut tak ubahnya seperti perbuatan setan.  Dimana Allah berfirman bahwa “Janganlah kau turuti langkah-langkah setan, karena setan itu musuh yang nyat bagimu”  Perbuatan berprasangka buruk (suu’dzon) tersebut jelas-jelas merupakan bisikan setan, karena Allah telah berpirman bahwa “…… yang menghembuskan prasangka buruk tersebut adalah setan, yaitu dari bangsa jin dan manusia”  Apa artinya ini ?  Artinya adalah ada 2 hal, yaitu yang pertama adalah bahwa hembusan prasangka  buruk itu dihembuskan sendiri oleh setan yang membisikan ke dalam hati busuknya, dan yang kedua adalah bahwa setelah ia terpengaruh oleh bisikan setan tersebut, maka ia sendiri menjadi setan.  Lantas bagaimana kalau ia sendiri telah menjadi setan ?  Kalau ia sudah menjadi setan, maka jelas hukumannya adalah azab api neraka.

Demikianlah hukumannya orang yang punya hati yang selalu diisi dengan sifat suu’dzon atau hal-hal buruk lainnya karena mengikuti cumbu rayu dan bisikan setan yang menganggap dunia ini indah dibanding keindahan surga di akhirat. Nauzubillahiminzalik.

Mudah-mudahan setelah kita memahami ini semua, kita bisa merubah diri kita 180 derajat ke arah sifat yang baik, sifat yang diisi oleh prasangka baik dan hal-hal atau perbuatan-perbuatan yang terpuji dan membawa kemaslahatan baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain. Amiin

KEUTAMAAN SHALAT SHUBUH

📣 Kodham Media
📚 Motivasi Shalat Shubuh

Hari Tanggal : Kamis, 10 September 2015 🌝 26 Dzulqo’dah 1436 H
No                   : 10/KOM/09/2015
Tujuan         : Sahabat Kodham dan Umum

🍂🍃🍂🍃🍂🍃🍂🍃

🌞Keutamaan Shalat Shubuh

Apabila seseorang mengerjakan shalat shubuh, niscaya ia akan dapati banyak keutamaan. Di antara keutamaannya adalah

(1) Salah satu penyebab masuk surga

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

مَنْ صَلَّى الْبَرْدَيْنِ دَخَلَ الْجَنَّة
“Barangsiapa yang mengerjakan shalat bardain (yaitu shalat shubuh dan ashar) maka dia akan masuk surga.” (HR. Bukhari no. 574 dan Muslim no. 635)

(2) Salah satu penghalang masuk neraka

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

لَنْ يَلِجَ النَّارَ أَحَدٌ صَلَّى قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا
“Tidaklah akan masuk neraka orang yang melaksanakan shalat sebelum terbitnya matahari (yaitu shalat shubuh) dan shalat sebelum tenggelamnya matahari (yaitu shalat ashar).” (HR. Muslim no. 634)

(3) Berada di dalam jaminan Allah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

مَنْ صَلَّى صَلَاةَ الصُّبْحِ فَهُوَ فِي ذِمَّةِ اللَّهِ فَلَا يَطْلُبَنَّكُمْ اللَّهُ مِنْ ذِمَّتِهِ بِشَيْءٍ فَإِنَّهُ مَنْ يَطْلُبْهُ مِنْ ذِمَّتِهِ بِشَيْءٍ يُدْرِكْهُ ثُمَّ يَكُبَّهُ عَلَى وَجْهِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ
“Barangsiapa yang shalat subuh maka dia berada dalam jaminan Allah. Oleh karena itu jangan sampai Allah menuntut sesuatu kepada kalian dari jaminan-Nya. Karena siapa yang Allah menuntutnya dengan sesuatu dari jaminan-Nya, maka Allah pasti akan menemukannya, dan akan menelungkupkannya di atas wajahnya dalam neraka jahannam.” (HR. Muslim no. 163)

(4) Dihitung seperti shalat semalam penuh

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda ,

مَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا قَامَ نِصْفَ اللَّيْلِ وَمَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا صَلَّى اللَّيْلَ كُلَّهُ
“Barangsiapa yang shalat isya` berjama’ah maka seolah-olah dia telahshalat malam selama separuh malam. Dan barangsiapa yang shalat shubuh berjamaah maka seolah-olah dia telah shalat seluruh malamnya.” (HR. Muslim no. 656)

(5) Disaksikan para malaikat

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

وَتَجْتَمِعُ مَلَائِكَةُ اللَّيْلِ وَمَلَائِكَةُ النَّهَارِ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ 
“Dan para malaikat malam dan malaikat siang berkumpul pada shalat fajar (subuh).” (HR. Bukhari no. 137 dan Muslim no.632)

Sumber :
http://bit.ly/1MTE4RA

Kodham Center:
089502816008
=========================
FB : Komunitas Dhuha Ummat
FP : Komunitas Dhuha Ummat
Twitter : @DhuhaUmmat
Website:kodham.org
=========================
Cara gabung kodham
Ketik : GabungKodham#nama#L/P#umur#no WA/PIN BBM#domisili#aktivitas
Kirim ke
⏩ WA
Ikhwan : Akh Irawan (089630319724 )
Akhwat: Ukh Suzan (08563212921)
⏩ BBM
Ikhwan : Akh Rocky (553F7F7F)
Akhwat : Ukh indri (28645022)
========================

SOP KODHAM Edisi 17 April 2015

No          :002/INFO/IV/2015
Tanggal : 17 April 2014
Perihal   : SOP Kodham Revisi 1
Tujuan    : Kormin, Admin, dan seluruh anggota Kodham

###########################

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Judul : SOP Komunitas Dhuha Ummat
Revisi: 01
Tanggal Terbit: 17 April 2015

A. Pengertian

Mengatur mekanisme pembagian grup, pembagian anggota, proses dalam group KODHAM dan tugas serta tanggung jawab admin, Penanggung Jawab Harian (PJH), PJ Unit, dan anggota dalam group.

B. Tujuan

1. Menjadi panduan yang jelas bagi admin dan anggota KODHAM
2. Menciptakan keseragaman aturan di semua grup KODHAM
3. Memberikan kenyamanan bagi admin dan anggota di dalam grup KODHAM
4. Terbentuk grup KODHAM yang kondusif, saling memotivasi dalam mengingatkan dan istiqomah shalat dhuha
5. Terbentuknya sistem pelaporan mutaba’ah shalat dhuha yang tertib sebagai bentuk kontrol mutaba’ah bagi semua anggota KODHAM.

C. Prosedur

C.1. PEMBAGIAN GRUP

1. Grup KODHAM terpisah antara laki-laki dan perempuan. Setiap grup terdiri dari 20 anggota dan dibagi unit @5 anggota atau sesuai kesepakatan

2. Grup terdiri dari:

a. Admin, bertanggung jawab penuh mengendalikan grup, melaporkan mutaba’ah shalat dhuha anggota ke kormin dan memoderasi grup bila ada diskusi. Admin adalah pengambil keputusan tertinggi dalam grup dengan tetap mematuhi SOP yang berlaku.

b.  PJ unit, bertanggung jawab pada unit masing2 untuk mengingatkan shalat dhuha, mengingatkan laporan anggota dan menanyakan kendala yg tidak dhuha

c. PJH, ditunjuk secara bergiliran, bertanggung jawab mengingatkan, merekap laporan anggota dan menanyakan anggota yg berhalangan shalat dhuha. Setiap anggota wajib bersedia jadi PJH, kecuali ada halangan dan sudah menunjuk anggota lain untuk menggantikannya.

d. Anggota, peserta dalam grup yang bertanggung jawab menjaga ketertiban grup dengan mematuhi SOP yang berlaku. Anggota juga bertanggung jawab dalam menghidupkan grup dan menjaga kondusifitas grup.

e. Co – admin, bertanggung jawab membantu admin dalam menyelesaikan tugasnya. Co – admin optional tergantung kebijakan admin masing-masing.

3. Setiap orang hanya boleh menjadi anggota di satu grup KODHAM.

C.2. ADMIN

1. Admin menerangkan bahwa setiap anggota akan laporan mutaba’ah shalat dhuha setiap hari

2. Mengarahkan grup utk menunjuk PJ Harian yg bergantian berurutan setiap hari sesuai dgn kesepakatan grup.

3. Mengarahkan grup utk menyepakati waktu batas laporan grup maksimal pkl 16:00 WIB (laporan ke grup), atau sesuai kesepakatan grup masing-masing yg tidak melebihi pkl 16:00 WIB.

4. Memotivasi, memonitor, dan mengevaluasi grup.

5. Setiap hari menyampaikan laporan mutaba’ah shalat dhuha dan evaluasi grup ke kormin.

C.3. PENANGGUNG JAWAB HARIAN

A. PJH membuat daftar list laporan untuk mempermudah member lain melihat laporan dan PJ unit masing2.

B. PJH merekap laporan mutaba’ah shalat dhuha anggota secara berkala, misal setiap jam, dll.

C. PJH aktif memotivasi semua anggota untuk sholat dhuha dan laporan mutaba’ah shalat dhuha, baik lewat grup atau jaringan pribadi (japri).

C.4. ANGGOTA

1. Berkomitmen kuat untuk shalat dhuha setiap hari dan melapor ke grup/ PJH
2. Bila ada udzur syari (sakit atau bepergian jauh) sangat dianjurkan untuk tetap shalat dhuha, dan anggota melaporkan udzurnya ke grup.
3. Iqob apabila anggota tidak shalat dhuha adalah membaca Istighfar, Shalawat, dan Laa Ilaaha Ilallaah @100x
4. Bagi anggota wanita yang haid/nifas silakan lapor pada admin atau PJH atau PJ unit sebagai pengurang pembagi saat dipresentasekan.
5. Di dalam grup, anggota tidak diperbolehkan untuk :
a. Berjualan
b. Menyebarkan hal-hal yang berkaitan dengan partai politik, berbau SARA, atau paham-paham yang bisa memecah belah hubungan anggota di dalam grup.
_____________________________

Catatan :
Diharapkan kepada setiap admin grup agar sudah menyesuaikan SOP grup dengan SOP revisi 1 ini dalam rentang waktu 2 minggu – 1 bulan sejak diterbitkannya informasi ini.

Terimakasih

Wassalamu’allaikum Wr. Wb.
-Pengurus Kodham-

Hari ini ODOJ Untuk Negeri di Gelar

http:// onedayonejuz.org/uploads/media_gallery/944bd5bd4ee7e01261d38fe8e6eba5c0de535d1c.jpg

Jakarta, 30 Agustus 2015
Sekitar 300 ribu orang jamaah One Day One Juz( ODOJ) akan kembali mengguncang masjid termegah di Asia Tenggara Mesjid Istiqlal dan kembali memecahkan rekor Muri membaca quran dengan jamaah terbanyak.
KODHAM ( Komunitas dhuha Ummat ) adalah salah satu komunitas ibadah yang selalu mendukung kegiatan ODOJ mengerahkan membernya yang berdomisili di jabodetabek dan luar daerah diberbagai propinsi.
Menurut pendiri kodham ust. Lukman kegiatan ODOJ untuk negeri patut di hadiri dan didukung semua elemen masyarakat dalam memelihara dan membumikan alquran di berbagai pelosok negeri. Dan terbukti sudah bahwa tilawatil quran setiap hari akan membawa ketenangan jiwa dan Allah akan meninggikan derajat hambanya yang rajin membaca Al Qur’an.
ODOJ UNTUK NEGERI InsyaAllah akan dibuka oleh Presiden RI Ir. JOKO Widodo.
Kesuksesan acara OUN tidak terlepas dari kerja keras Panitia pelaksana yg sudah mensosialisasikan lebih dari 6 bulan.

Reporter : Pramdani Hakim
Buka juga Bahan kuliah, skripsi, tugas, makalah dan materi kuliah ada di sini

Mendidik Anak dan Kesholehan Orang Tua

💞 MENDIDIK ANAK PERLU KESALIHAN ORANG TUA

Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., M.A.  hafidzohulloh

Tentu Anda masih ingat kisah ‘petualangan’ Nabi Khidir dengan Nabi Musa „alaihimas salam.Ya, di antara penggalan kisahnya adalah apa yang Allah sebutkan dalam surat al-Kahfi. Manakala mereka berdua memasuki suatu kampung dan penduduknya enggan untuk sekadar menjamu mereka berdua. Sebelum meninggalkan kampung tersebut, mereka menemukan rumah yang hampir ambruk. Dengan ringan tangan Nabi Khidir memperbaiki tembok rumah tersebut, tanpa meminta upah dari penduduk kampung. Nabi Musa terheran-heran melihat tindakannya. Nabi Khidir pun beralasan, bahwa rumah tersebut milik dua anak yatim dan di bawahnya terpendam harta peninggalan orang tua mereka yang salih. Allah berkehendak menjaga harta tersebut hingga kedua anak tersebut dewasa dan mengambil manfaat dari harta itu.

Para ahli tafsir menyebutkan, bahwa di antara pelajaran yang bisa dipetik dari kisah di atas adalah: Allah akan menjaga keturunan seseorang manakala ia salih, walaupun ia telah meninggal dunia sekalipun.1

Subhânallâh, begitulah dampak positif kesalihan orang tua! Sekalipun telah meninggal dunia masih tetap dirasakan oleh keturunannya. Bagaimana halnya ketika ia masih hidup?? Tentu lebih besar dan lebih besar lagi dampak positifnya.

💦Urgensi Kesalihan Orang Tua dalam Mendidik Anak

Kita semua mempunyai keinginan dan cita-cita yang sama. Ingin agar keturunan kita menjadi anak yang salih dan salihah. Namun, terkadang kita lupa bahwa modal utama untuk mencapai citacita mulia tersebut ternyata adalah: kesalihan dan ketakwaan kita selaku orang tua. Alangkah lucunya, manakala kita berharap anak menjadi salih dan bertakwa, sedangkan kita sendiri berkubang dalam maksiat dan dosa!

Kesalihan jiwa dan perilaku orangtua mempunyai andil yang sangat besar dalam membentuk kesalihan anak. Sebab ketika si anak membuka matanya di muka bumi ini, yang pertama kali ia lihat adalah ayah dan bundanya. Manakala ia melihat orangtuanya berhias akhlak mulia serta tekun beribadah, niscaya itulah yang akan terekam dengan kuat di benaknya. Dan insyaAllah itupun juga yang akan ia praktekkan dalam kesehariannya. Pepatah mengatakan, “buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya”. Betapa banyak ketakwaan pada diri anak disebabkan ia mengikuti ketakwaan kedua orangtuanya atau salah seorang dari mereka. Ingat karakter dasar manusia, terutama anak kecil, yang suka meniru!

🌻Beberapa Contoh Aplikasi Nyatanya

Manakala kita menginginkan anak kita rajin untuk mendirikan shalat lima waktu, gamitlah tangannya dan berangkatlah ke masjid bersama. Bukan hanya dengan berteriak memerintahkan anak pergi ke masjid, sedangkan Anda asyik menonton televisi.

Jika Anda berharap anak rajin membaca Alquran, ramaikanlah rumah dengan lantunan ayat-ayat suci Alquran yang keluar dari lisan ayah, ibu ataupun kaset dan radio. Jangan malah Anda menghabiskan hari-hari dengan membaca koran, diiringi lantunan langgam gendingan atau suara biduanita yang mendayu-dayu!

Kalau Anda menginginkan anak jujur dalam bertutur kata, hindarilah berbohong sekecil apapun. Tanpa disadari, ternyata sebagai orang tua kita sering membohongi anak untuk menghindari keinginannya. Salah satu contoh pada saat kita terburu-buru pergi ke kantor di pagi hari, anak kita meminta ikut atau mengajak jalan-jalan mengelilingi perumahan. Apa yang kita lakukan? Apakah kita menjelaskannya dengan kalimat yang jujur? Atau kita lebih memilih berbohong dengan mengatakan, “Bapak hanya sebentar kok, hanya ke depan saja ya. Sebentaaar saja ya sayang…”.
Tapi ternyata, kita malah pulang malam!

Dalam contoh di atas, sejatinya kita telah berbohong kepada anak, dan itu akan ditiru olehnya.

Terus apa yang sebaiknya kita lakukan? Berkatalah dengan jujur kepada anak. Ungkapkan dengan lembut dan penuh kasih serta pengertian, “Sayang, bapak mau pergi ke kantor. Kamu tidak bisa ikut. Tapi kalo bapak ke kebun binatang, insya Allah kamu bisa ikut”.

Kita tak perlu merasa khawatir dan menjadi terburu-buru dengan keadaan ini. Pastinya akan membutuhkan waktu lebih untuk memberi pengertian kepada anak karena biasanya mereka menangis. Anak menangis karena ia belum memahami keadaan mengapa orang tuanya harus selalu pergi di pagi hari. Kita perlu bersabar dan melakukan pengertian kepada mereka secara terus menerus. Perlahan anak akan memahami mengapa orang tuanya selalu pergi di pagi hari dan bila pergi bekerja, anak tidak bisa ikut.

Anda ingin anak jujur? Mulailah dari diri Anda sendiri!

🌵Sebuah Renungan Penutup

Tidak ada salahnya kita putar ingatan kepada beberapa puluh tahun ke belakang, saat sarana informasi dan telekomunikasi masih amat terbatas, lalu kita bandingkan dengan zaman ini dan dampaknya yang luar biasa untuk para orang tua dan anak.

Dulu, masih banyak ibu-ibu yang rajin mengajari anaknya mengaji, namun sekarang mereka telah sibuk dengan acara televisi. Dahulu ibu-ibu dengan sabar bercerita tentang kisah para nabi, para sahabat hingga teladan dari para ulama, sekarang mereka lebih nyaman untuk menghabiskan waktu ber-facebook-an dan akrab dengan artis di televisi. Dulu bapak-bapak mengajari anaknya sejak dini tatacara wudhu, shalat dan ibadah primer lainnya, sekarang mereka sibuk mengikuti berita transfer pemain bola!

Bagaimana kondisi anak-anak saat ini, dan apa yang akan terjadi di negeri kita lima puluh tahun ke depan, jika kondisi kita terus seperti ini??

Jika kita tidak ingin menjumpai mimpi buruk kehancuran negeri ini, persiapkan generasi muda sejak sekarang. Dan untuk merealisasikan itu, mulailah dengan memperbaiki diri kita sendiri selaku orangtua! Sebab mendidik anak memerlukan kesalihan orangtua.

Semoga Allah senantiasa meridhai setiap langkah baik kita, amien…

_____
Catatan Kaki:

– 1 . Lihat: Tafsîr ath-Thabary (XV/366), Tafsîr al-Baghawy (V/196), Tafsîr al-Qurthuby (XIII/356), Tafsîr Ibn Katsîr
(V/186-187), Tafsîr al-Jalâlain (hal. 302-303) dan Tafsîr as-Sa‟dy (hal. 435).

Pesantren Tunas Ilmu, Kedungwuluh Purbalingga, 9 Ramadhan 1432 / 9 Agustus 2011
Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., M.A. hafidzohulloh

📚Sumber: Jurus Jitu Mendidik Anak – Serial Ebook Islami http://www.yufid.com
______
Diposting kembali:
Kodham Media, Edisi 25 Agustus 2015.
Silahkan di share dgn mencantumkan sumbernya…