Tips dan Trik Istiqomah Ibadah dan Amalan Sunnah

​Oleh : M. Lukmanul Hakim, S.Pd.I (Founder Komunitas Dhuha Ummat/KODHAM)

Untuk bisa istiqomah baca qur’an, tahajjud,dhuha dan ibadah wajib/sunnah triknya : 

Setelah kewajiban 5 waktu kita penuhi, bagaimana mengistiqomahkan ibadah dan amalan sunnah? 

✔Niatkan dulu karena Allah 

✔Tekadkan diri untuk bersungguh2

✔Bergabung dgn orang2 satu niat. 

✅Ingin  istiqomah 1 hari satu juz baca AlQur’an, maka kita gabung dengan ODOJ, daftarkan diri, nanti akan tergabung untuk saling mengingatkan. 

✅Jika ingin istoqomah berdhuha, gabung dgn yang seniat, daftarkan diri ke Komunitas Dhuha Ummat (KODHAM), nanti tergabung dgn grup yg antar anggota saling mengingatkan. 

✔Jika sudah bergabung, jgn kaget, setiap hari harus laporan, bukan tujuan riya, tetapi untuk memudahkan setiap member saling mengingatkan. Bukankah kl saling mengingatkan dlm satu kelompok pengajian tidak termasuk riya, tetapi saling mengokohkan satu sama lain. *watawa shoubil haq watawa shoubil shobr* (saling mengingatkan dalam kebenaran dan saling mengingatkan dlm kesabaran)
Real pengalaman ane : 

Awalnya mengaji 1 hal sehari pun sangat sulit, kemudian saya masuk grup ODOJ, ternyata kita dpt berteman dgn orang satu niat membuat kita kuat, setiap hari bisa menyelesaikan 1juz dgn baik Setahun kemudian mencoba masuk One Day Three Juz, ternyata 3 juz seharipun bisa, dibantu dgn orang2 soleh di sekeliling kita. 

Sampai akhirnya ane berfikir untuk membuat komunitas sendiri yg blm ada, komunitas dhuha ummat (kodham) yg alhamdulillah skrng sudah menjadi komunitas online interaktif terbesar ke-3 di Indonesia, dgn member lebih di 15 negara.

Berawal dari *nothing* menjadi *something*. 
InsyaAllah dgn niat baik akan menghasilkan lebih banyak kebaikan. 
Bukankah orang yg paling mulia di sisi Allah adalah orang yang bermanfaat bagi oranf lain? 

Masing2 dari kita pasti bisa dgn kelebihan berbeda yg Allah berikan pada kita.

Mau Istiqomah Shalat Dhuha?

Yuk Gabung Komunitas Dhuha Ummat (KODHAM) bersama member di lebih dari 15 Negara.. 

Klik tautan ini untuk daftar : 

https://chat.whatsapp.com/Hp5YJwloz40CNhs3YmBphO

Advertisements

Kajian Online KODHAM : MENCARI BERKAH DENGAN SEDEKAH

🌴 *KAJIAN ONLINE KODHAM* 🕋
Bersama : *ustadz Lukman*

Tema        : *SEDEKAH*
Tmpt         : Pejuang dhuha

Hari/tgl     :Ahad,02 dzulhijah 1437H/04 september 201

Pkl             :  19.30Wib          

Assalamu’alaikum wr wb…
Semoga Allah selalu menjaga kekuatan para pejuang dhuha ini agar selalu dpt berdakwah hingga akhir hayat..
Materi pada malam ini kita akan mengupas materi tentang sedekah.. 
Mhn maaf materinya panjang ..
Alhamdulillah kita dpt berkumpul di majlis online grup pejuang dhuha…
Semoga silaturahmi ini membawa berkah, serta dapat saling berbagi ilmu…

Shalawat serta salam semoga di curahkan kepada Nabi Besar Muhammad SAW, beserta keluarga, para tabiin, para ulama, orang2 shaleh, serta kepada kita semua…

*Mencari Berkah* *Dengan Sedekah*
(HR Bukhory Muslim dari ‘Adi bin Hatim
Rodhiyallohu ‘Anhu )
Ditulis oleh: Abu Ja’far Al-Harits Al-Andalasy -Saddadahulloh-
ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺍﻟﺮﺣﻴﻢ
ﺇﻥ ﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ ﻧﺴﺘﻌﻴﻨﻪ ﻭﻧﺴﺘﻐﻔﺮﻩ ﻭﺃﺷﻬﺪ ﺃﻥ ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺣﺪﻩ ﻻ ﺷﺮﻳﻚ ﻟﻪ ﻭﺃﺷﻬﺪ ﺃﻥ ﻣﺤﻤﺪﺍ ﻋﺒﺪﻩ ﻭﺭﺳﻮﻟﻪ
ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﻋﻠﻰ ﺁﻟﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺗﺴﻠﻴﻤﺎ ﻛﺜﻴﺮﺍ ﺃﻣﺎ ﺑﻌﺪ :
ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﺃَﻣْﻮَﺍﻟُﻜُﻢْ ﻭَﺃَﻭْﻟَﺎﺩُﻛُﻢْ ﻓِﺘْﻨَﺔٌ ﻭَﺍﻟﻠَﻪُ ﻋِﻨْﺪَﻩُ ﺃَﺟْﺮٌ ﻋَﻈِﻴﻢٌ ^ ﻓَﺎﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠَﻪَ ﻣَﺎ ﺍﺳْﺘَﻄَﻌْﺘُﻢْ ﻭَﺍﺳْﻤَﻌُﻮﺍ ﻭَﺃَﻃِﻴﻌُﻮﺍ ﻭَﺃَﻧْﻔِﻘُﻮﺍ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻟِﺄَﻧْﻔُﺴِﻜُﻢْ
ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﻮﻕَ ﺷُﺢَّ ﻧَﻔْﺴِﻪِ ﻓَﺄُﻭﻟَﺌِﻚَ ﻫُﻢُ ﺍﻟْﻤُﻔْﻠِﺤُﻮﻥَ
“Sesungguhnya harta-harta dan anak-anak kalian hanyalah cobaan (bagi kalian), sementara di sisi Allah-lah pahala yang besar. Maka bertakwalah kalian kepada Allah menurut kesanggupan dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk diri kalian. Barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (QS At-Taghobun 15-16)
Diantara alasan besar yang dikemukakan oleh para “aktivis” dakwah untuk meminta sumbangan atau mengajukan proposal adalah: “Kalau menunggu terus, penyumbang tak bakalan datang. Orang-orang kalau tidak dipancing dulu, kantongnya tak bisa dibuka”.
Memang dari satu sisi, bid’ah yayasan dakwah serta bentuk “perendahan” terhadap dakwah bukanlah perbuatan yang pantas dan bisa ditolerir. Namun di sisi lain terdapat sebuah fenomena yang tidak bisa kita pungkiri bahwa sebagian orang memang ogah-ogahan –kalau tidak mau dikatakan pelit- untuk merogoh koceknya, berinfak di jalan Alloh. Fenomena yang jauh dari akhlak para shohabat, orang-orang pilihan umat ini.
Abu Mas’ud Al-Anshory Rodhiyallohu ‘Anhu mengatakan: “Dahulu Rosululloh
Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam apabila menyuruh kami untuk bersedekah, maka salah seorang dari kami pergi ke pasar dan mengangkat barang (menjadi kuli –pent) sehingga dia mendapatkan upah satu mud (makanan, agar dia bisa bersedekah –pent). Sesungguhnya hari ini sebagian orang memiliki seratus ribu (dinar, dirham atau mud makanan, tapi dia tidak besedekah)”. (HR Al-Bukhory)
Karena itu ada baiknya kita merenungkan kembali permasalahan ini sehingga ta’awun yang benar bisa berjalan tanpa “memancing” orang lain untuk jadi pengemis, sekaligus menyadarkan kita akan keutamaan-keutamaan amalan yang mulia ini semoga bisa mengingatkan yang terlupa dan yang hanyut dengan fitnah dunia.
Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
ﺇﻥ ﺍﻟﻤﺆﻣﻦ ﺧﻠﻖ ﻣﻔﺘﻨﺎ ﺗﻮﺍﺏ ﻧﺴﺎﺀ، ﺇﺫﺍ ﺫﻛﺮ ﺫﻛﺮ
“Sesungguhnya seorang mukmin diciptakan (dengan kondisi) banyak menghadapi fitnah, banyak bertaubat, banyak lupa, apabila diingatkan maka dia akan ingat” (HR At-Thobrony dari Ibnu ‘Abbas Rodhiyallohu ‘Anhu, dishohihkan Syaikh Al-Albany)
Alloh Ta’ala berfirman:
ﻭَﺳَﺎﺭِﻋُﻮﺍ ﺇِﻟَﻰ ﻣَﻐْﻔِﺮَﺓٍ ﻣِﻦْ ﺭَﺑِّﻜُﻢْ ﻭَﺟَﻨَّﺔٍ ﻋَﺮْﺿُﻬَﺎ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﻭَﺍﺕُ ﻭَﺍﻟْﺄَﺭْﺽُ ﺃُﻋِﺪَّﺕْ ﻟِﻠْﻤُﺘَّﻘِﻴﻦَ ^ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳُﻨْﻔِﻘُﻮﻥَ ﻓِﻲ ﺍﻟﺴَّﺮَّﺍﺀِ ﻭَﺍﻟﻀَّﺮَّﺍﺀِ ﻭَﺍﻟْﻜَﺎﻇِﻤِﻴﻦَ ﺍﻟْﻐَﻴْﻆَ ﻭَﺍﻟْﻌَﺎﻓِﻴﻦَ ﻋَﻦِ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﻭَﺍﻟﻠَّﻪُ ﻳُﺤِﺐُّ ﺍﻟْﻤُﺤْﺴِﻨِﻴﻦَ ^ ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺇِﺫَﺍ ﻓَﻌَﻠُﻮﺍ ﻓَﺎﺣِﺸَﺔً ﺃَﻭْ ﻇَﻠَﻤُﻮﺍ ﺃَﻧْﻔُﺴَﻬُﻢْ ﺫَﻛَﺮُﻭﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻓَﺎﺳْﺘَﻐْﻔَﺮُﻭﺍ ﻟِﺬُﻧُﻮﺑِﻬِﻢْ ﻭَﻣَﻦْ ﻳَﻐْﻔِﺮُ ﺍﻟﺬُّﻧُﻮﺏَ ﺇِﻟَّﺎ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻭَﻟَﻢْ ﻳُﺼِﺮُّﻭﺍ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﺎ ﻓَﻌَﻠُﻮﺍ ﻭَﻫُﻢْ ﻳَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ
“Bersegeralah kalian kepada ampunan dari Robb kalian, serta kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. Yaitu orang-orang yang menafkahkan hartanya, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan kesalahan orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui”. (QS Ali-‘Imron 133-135)
*KECINTAAN MANUSIA TERHADAP DUNIA, PADAHAL DUNIA TIDAKLAH SEBERAPA*
Alloh Ta’ala berfirman:
ﺯُﻳِّﻦَ ﻟِﻠﻨَّﺎﺱِ ﺣُﺐُّ ﺍﻟﺸَّﻬَﻮَﺍﺕِ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨِّﺴَﺎﺀِ ﻭَﺍﻟْﺒَﻨِﻴﻦَ ﻭَﺍﻟْﻘَﻨَﺎﻃِﻴﺮِ ﺍﻟْﻤُﻘَﻨْﻄَﺮَﺓِ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺬَّﻫَﺐِ ﻭَﺍﻟْﻔِﻀَّﺔِ ﻭَﺍﻟْﺨَﻴْﻞِ ﺍﻟْﻤُﺴَﻮَّﻣَﺔِ ﻭَﺍﻟْﺄَﻧْﻌَﺎﻡِ ﻭَﺍﻟْﺤَﺮْﺙِ ﺫَﻟِﻚَ ﻣَﺘَﺎﻉُ ﺍﻟْﺤَﻴَﺎﺓِ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻭَﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋِﻨْﺪَﻩُ ﺣُﺴْﻦُ ﺍﻟْﻤَﺂﺏِ ^ ﻗُﻞْ ﺃَﺅُﻧَﺒِّﺌُﻜُﻢْ ﺑِﺨَﻴْﺮٍ ﻣِﻦْ ﺫَﻟِﻜُﻢْ ﻟِﻠَّﺬِﻳﻦَ ﺍﺗَّﻘَﻮْﺍ ﻋِﻨْﺪَ ﺭَﺑِّﻬِﻢْ ﺟَﻨَّﺎﺕٌ ﺗَﺠْﺮِﻱ ﻣِﻦْ ﺗَﺤْﺘِﻬَﺎ ﺍﻟْﺄَﻧْﻬَﺎﺭُ ﺧَﺎﻟِﺪِﻳﻦَ ﻓِﻴﻬَﺎ ﻭَﺃَﺯْﻭَﺍﺝٌ ﻣُﻄَﻬَّﺮَﺓٌ ﻭَﺭِﺿْﻮَﺍﻥٌ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﺍﻟﻠَﻪُ ﺑَﺼِﻴﺮٌ ﺑِﺎﻟْﻌِﺒَﺎﺩِ
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, Yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). Katakanlah Wahai Muhammad: “Inginkah aku kabarkan kepada kalian apa yang lebih baik dari yang demikian itu?”. Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Robb mereka ada surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, mereka kekal didalamnya. Mereka dikaruniai isteri-isteri yang disucikan serta keridhoan Allah. dan Allah Maha melihat akan hamba-hamba-Nya”. (QS Ali-‘Imron 14-15)
Syaikh As-Sa’dy Rahimahulloh mengatakan: “Ketika perkara-perkara tersebut dibuat indah bagi mereka dengan adanya bujukan-bujukan yang bergejolak, maka jiwa-jiwa manusia menjadi terikat kepadanya dan hati-hati pun condong. Pada kenyataannya (dalam menghadapi perkara ini –pen) manusia terbagi kepada dua kelompok:
Kelompok pertama adalah orang-orang yang menjadikan perkara-perkara di atas sebagai tujuan, sehingga pikiran-pikiran, apa-apa yang terlintas di benak, amalan-amalan lahir dan batin tercurah untuk itu. Mereka disibukkan dari tujuan penciptaan mereka (untuk mengesakan Alloh dalam peribadatan –pen) …
Kelompok kedua adalah orang-orang yang mengetahui maksud (diindahkannya perkara dunia tersebut –pen), bahwa sesungguhnya Alloh menjadikannya sebagai cobaa dan ujian bagi para hamba-Nya, agar Dia mengetahui mana hamba yang lebih mengedepankan ketaatan kepada-Nya, keridhoan-Nya daripada kelezatan-kelezatan dunia dan syahwatnya. Yaitu orang-orang yang menjadikan perkara-perkara dunia tersebut sebagai sarana dan jalan untuk mengumpulkan bekal darinya untuk akhirat mereka. Mereka menikmati perkara-perkara dunia tersebut adalah sebagai penolong mereka untuk mencapai keridhoan-Nya”.
Alloh tidak melarang manusia untuk mengecap kenikmatan itu semua, karena memang dunia ini telah Alloh jadikan untuk mereka:
ﻫُﻮَ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺧَﻠَﻖَ ﻟَﻜُﻢْ ﻣَﺎ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ﺟَﻤِﻴﻌًﺎ
“ Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kalian” (QS Al-Baqoroh 29)
Namun dunia yang dikaruniakan itu didasari hikmah yang mulia terkait pencapaian seseorang kelak di akhiratnya. Tempat penuh kenikmatan abadi yang tiada taranya, yang tak sebanding dengan dunia yang fana. Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam
bersabda:
ﻭﺍﻟﻠﻪ ﻣﺎ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﻓﻲ ﺍﻵﺧﺮﺓ ﺇﻻ ﻣﺜﻞ ﻣﺎ ﻳﺠﻌﻞ ﺃﺣﺪﻛﻢ ﺇﺻﺒﻌﻪ ﻫﺬﻩ ﻓﻲ ﺍﻟﻴﻢ، ﻓﻠﻴﻨﻈﺮ ﺑﻢ ﺗﺮﺟﻊ؟
“Demi Alloh, tidaklah dunia itu dibandingkan akhirat melainkan seperti yang bisa diperbuat seseorang diantara kalian dengan jarinya ini ke dalam lautan. Maka lihatnya seberapa (air pada jarinya) yang bisa didapatkannya” (HR Muslim dari Mustawrid Rodhiyallohu ‘Anhu )
Maka jika anda ingin masuk kepada kelompok yang kedua, sesungguhnya Islam telah menunjukkan jalan-jalannya. Namun jika anda merasa kecondongan terhadap dunia lebih mendominasi maka banyaklah meminta pertolongan dan ampunan-Nya, wallohul Musta’an .
ﺯُﻳِّﻦَ ﻟِﻠَّﺬِﻳﻦَ ﻛَﻔَﺮُﻭﺍ ﺍﻟْﺤَﻴَﺎﺓُ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻭَﻳَﺴْﺨَﺮُﻭﻥَ ﻣِﻦَ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺍﺗَّﻘَﻮْﺍ ﻓَﻮْﻗَﻬُﻢْ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ﻭَﺍﻟﻠَّﻪُ ﻳَﺮْﺯُﻕُ ﻣَﻦْ ﻳَﺸَﺎﺀُ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﺣِﺴَﺎﺏ
“Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. dan Allah memberi rezki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas”. (QS Al-Baqoroh 212)
ALOKASI HARTA: ANTARA ROYAL DAN PELIT
Alloh Ta’ala berfirman:
ﻭَﻟَﺎ ﺗَﺠْﻌَﻞْ ﻳَﺪَﻙَ ﻣَﻐْﻠُﻮﻟَﺔً ﺇِﻟَﻰ ﻋُﻨُﻘِﻚَ ﻭَﻟَﺎ ﺗَﺒْﺴُﻄْﻬَﺎ ﻛُﻞَّ ﺍﻟْﺒَﺴْﻂِ ﻓَﺘَﻘْﻌُﺪَ ﻣَﻠُﻮﻣًﺎ ﻣَﺤْﺴُﻮﺭًﺍ
“Janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal”. (QS Al-Isro’ 29)
Alloh melarang hamba untuk pelit: “Janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu”, dan Alloh juga melarangnya untuk boros: “janganlah kamu terlalu mengulurkannya”. Dengan demikian diketahui bahwa sikap yang benar adalah pertengahan antara keduanya, sebagaimana Alloh sebutkan dalam firman-Nya:
ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺇِﺫَﺍ ﺃَﻧْﻔَﻘُﻮﺍ ﻟَﻢْ ﻳُﺴْﺮِﻓُﻮﺍ ﻭَﻟَﻢْ ﻳَﻘْﺘُﺮُﻭﺍ ﻭَﻛَﺎﻥَ ﺑَﻴْﻦَ ﺫَﻟِﻚَ ﻗَﻮَﺍﻣًﺎ
“Orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian”.
(QS Al-Furqon 67)
Maka wajib bagi seseorang untuk mengetahui bahwa dermawan bukanlah boros dan hemat bukanlah pelit. Pelit adalah menahan harta pada tempat yang selayaknya, bahkan sampai tahap wajib baginya untuk memberi. Sementara boros adalah mengeluarkan harta pada perkara yang tidak pantas, bahkan sampai tahap haram baginya untuknya untuk memberi”. [Lihat, Adhwa’ul Bayan – Imam Syinqithy, tentang tafsir ayat di atas]
*DIANTARA ADAB-ADAB SEDEKAH DALAM KITABULLAH*
Jika kita cermati, ada empat sisi penting tentang sedekah yang banyak Alloh sebutkan di dalam kitab-Nya, yaitu: jenis harta yang diinfakkan, kemana harta diinfakkan, sikap orang yang berinfak dan cara berinfak. [Lihat, Adhwa’ul Bayan 8/ 47-50]
*JENIS HARTA YANG DIINFAKKAN*
Harta yang diinfakkan seorang hamba adalah harta yang halal dan baik, yang dia sendiri merasa lapang dada kalau diberi orang lain dengan pemberian yang semisal itu. Apabila harta yang diinfakkan di jalan Alloh adalah sesuatu yang berharga baginya, maka amalannya itu lebih sempurna.
Alloh Ta’ala berfirman:
ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﺃَﻧْﻔِﻘُﻮﺍ ﻣِﻦْ ﻃَﻴِّﺒَﺎﺕِ ﻣَﺎ ﻛَﺴَﺒْﺘُﻢْ ﻭَﻣِﻤَّﺎ ﺃَﺧْﺮَﺟْﻨَﺎ ﻟَﻜُﻢْ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ﻭَﻟَﺎ ﺗَﻴَﻤَّﻤُﻮﺍ ﺍﻟْﺨَﺒِﻴﺚَ ﻣِﻨْﻪُ ﺗُﻨْﻔِﻘُﻮﻥَ ﻭَﻟَﺴْﺘُﻢْ ﺑِﺂﺧِﺬِﻳﻪِ ﺇِﻟَّﺎ ﺃَﻥْ ﺗُﻐْﻤِﻀُﻮﺍ ﻓِﻴﻪ
“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya”. (QS Al-Baqoroh 267)
Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
ﻟَﻦْ ﺗَﻨَﺎﻟُﻮﺍ ﺍﻟْﺒِﺮَّ ﺣَﺘَّﻰ ﺗُﻨْﻔِﻘُﻮﺍ ﻣِﻤَّﺎ ﺗُﺤِﺒُّﻮﻥَ
“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai” (QS Ali ‘Imron 92)
*KEMANA HARTA DIINFAKKAN?*
Banyak sebenarnya tempat penyalurannya, mulai dari orang-orang yang membutuhkan, pada perkara-perkara yang dibutuhkan orang banyak, pengembangan dakwah dan amalan-amalan di jalan Alloh, serta masih banyak lagi. Namun yang mesti dicermati disini adalah cara memilih tempat penyalurannya. Jika ada dua tempat yang satunya mendesak dan satu masih bisa ditunda, maka yang mendesak mesti diutamakan. Apabila yang satu manfaat lebih besar -baik terkait dengan kepentingan umat atau jenis sedekah yang pahalanya bisa mengalir terus- maka yang seperti ini lebih dikedepankan dari pada perkara yang manfaatnya atau pahalanya terbatas. bersama. Demikian juga sedekah-sedekah wajib lebih didahulukan dari pada yang mustahab, penyalurannya ke tempat yang dekat lebih didahulukan dari tempat yang jauh jika manfaatnya tak jauh berbeda.
Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
ﺩِﻳﻨَﺎﺭٌ ﺃَﻧْﻔَﻘْﺘَﻪُ ﻓِﻲ ﺳَﺒِﻴﻞِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻋَﺰَّ ﻭَﺟَﻞَّ ﻭَﺩِﻳﻨَﺎﺭٌ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻤَﺴَﺎﻛِﻴﻦِ ﻭَﺩِﻳﻨَﺎﺭٌ ﻓِﻲ ﺭَﻗَﺒَﺔٍ ﻭَﺩِﻳﻨَﺎﺭٌ ﻓِﻲ ﺃَﻫْﻠِﻚَ ﺃَﻋْﻈَﻤُﻬَﺎ ﺃَﺟْﺮًﺍ ﺍﻟﺪِّﻳﻨَﺎﺭُ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺗُﻨْﻔِﻘُﻪُ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻫْﻠِﻚَ
“Dinar yang engkau nafkahkan di jalan Alloh. Dinar yang engkau nafkahkan untuk membebaskan budak. Dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu, maka yang paling besar pahalanya adalah dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu ” (HR Muslim dari Abu Hurairoh Rodhiyallohu ‘Anhu)
Hal itu karena menafkahi keluarga hukumnya wajib, maka memenuhi
kebutuhan yang wajar bagi orang yang berada di dalam tanggungannya, lebih dikedepankan.
Demikian juga jika sedekah atau infak itu merupakan perkara yang diwajibkan syari’at untuk dikeluarkan seperti zakat.
Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳَﻜْﻨِﺰُﻭﻥَ ﺍﻟﺬَّﻫَﺐَ ﻭَﺍﻟْﻔِﻀَّﺔَ ﻭَﻟَﺎ ﻳُﻨْﻔِﻘُﻮﻧَﻬَﺎ ﻓِﻲ ﺳَﺒِﻴﻞِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻓَﺒَﺸِّﺮْﻫُﻢْ ﺑِﻌَﺬَﺍﺏٍ ﺃَﻟِﻴﻢ
“Orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, Maka beritahukanlah kepada mereka, bahwa mereka akan mendapat siksa yang pedih” (QS At-Taubah 34)
Kemudian setelah kewajiban terpenuhi, maka sedekahkanlah kepada yang membutuhkan mulai dari yang terdekat. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
ﻳَﺴْﺄَﻟُﻮﻧَﻚَ ﻣَﺎﺫَﺍ ﻳُﻨْﻔِﻘُﻮﻥَ ﻗُﻞْ ﻣَﺎ ﺃَﻧْﻔَﻘْﺘُﻢْ ﻣِﻦْ ﺧَﻴْﺮٍ ﻓَﻠِﻠْﻮَﺍﻟِﺪَﻳْﻦِ ﻭَﺍﻟْﺄَﻗْﺮَﺑِﻴﻦَ ﻭَﺍﻟْﻴَﺘَﺎﻣَﻰ ﻭَﺍﻟْﻤَﺴَﺎﻛِﻴﻦِ ﻭَﺍﺑْﻦِ ﺍﻟﺴَّﺒِﻴﻞِ ﻭَﻣَﺎ ﺗَﻔْﻌَﻠُﻮﺍ ﻣِﻦْ ﺧَﻴْﺮٍ ﻓَﺈِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪَ ﺑِﻪِ ﻋَﻠِﻴﻢ
“Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: “Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan.” dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka Sesungguhnya Allah mengetahuinya”. (QS Al-Baqoroh 215)
Alloh memulai penyebutan orang tua karena hal itu juga termasuk perbuatan berbakti kepada mereka dan bisa jadi wajib jika orang tua tersebut tidak ada yang mengurus sehingga menjadi tanggungannya. Kemudian kepada kepada saudara dan kerabat karena padanya terdapat upaya mempererat tali silaturrahim. Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
ﺇِﻥَّ ﺍﻟﺼَّﺪَﻗَﺔَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻤِﺴْﻜِﻴﻦِ ﺻَﺪَﻗَﺔٌ، ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺫِﻱ ﺍﻟﺮَّﺣِﻢِ ﺍﺛْﻨَﺘَﺎﻥِ ﺻَﺪَﻗَﺔٌ ﻭَﺻِﻠَﺔ
“Sesungguhnya sedekah kepada orang miskin adalah sedekah (saja), sementara kepada kerabat yang memiliki pertalian darah –padanya- ada dua: Sedekah dan menyambung silaturrahim”. (HR Ahmad, An-Nasa’i dll, dishohihkan Syaikh Al-Albany Rahimahulloh )
Tentunya urutan dan objek pemberiannya bisa saja berubah sesuai kondisi dan waktu, sebagaimana telah disebutkan terdahulu wallohu a’lam .
*SIKAP ORANG YANG BERINFAK*
Islam mengajarkan adab yang mulia –yang berbeda dengan agama-agama lain ataupun model-model yang diada-adakan-, dimana agama ini menekankan kepada pemilik sedekah untuk menjaga perasaan orang yang diberi. Jangan sampai dia tersakiti, merasa terhina –apalagi di foto sebagai “bukti” yang pantas dikasihani-. Alloh Ta’ala berfirman:
ﻗَﻮْﻝٌ ﻣَﻌْﺮُﻭﻑٌ ﻭَﻣَﻐْﻔِﺮَﺓٌ ﺧَﻴْﺮٌ ﻣِﻦْ ﺻَﺪَﻗَﺔٍ ﻳَﺘْﺒَﻌُﻬَﺎ ﺃَﺫًﻯ ﻭَﺍﻟﻠَﻪُ ﻏَﻨِﻲٌّ ﺣَﻠِﻴﻢٌ ^ ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻟَﺎ ﺗُﺒْﻄِﻠُﻮﺍ ﺻَﺪَﻗَﺎﺗِﻜُﻢْ ﺑِﺎﻟْﻤَﻦِّ ﻭَﺍﻟْﺄَﺫَﻯ ﻛَﺎﻟَّﺬِﻱ ﻳُﻨْﻔِﻖُ ﻣَﺎﻟَﻪُ ﺭِﺋَﺎﺀَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﻭَﻟَﺎ ﻳُﺆْﻣِﻦُ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺍﻟْﻴَﻮْﻡِ ﺍﻟْﺂﺧِﺮِ ﻓَﻤَﺜَﻠُﻪُ ﻛَﻤَﺜَﻞِ ﺻَﻔْﻮَﺍﻥٍ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺗُﺮَﺍﺏٌ ﻓَﺄَﺻَﺎﺑَﻪُ ﻭَﺍﺑِﻞٌ ﻓَﺘَﺮَﻛَﻪُ ﺻَﻠْﺪًﺍ ﻟَﺎ ﻳَﻘْﺪِﺭُﻭﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﺷَﻲْﺀٍ ﻣِﻤَّﺎ ﻛَﺴَﺒُﻮﺍ ﻭَﺍﻟﻠَّﻪُ ﻟَﺎ ﻳَﻬْﺪِﻱ ﺍﻟْﻘَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻜَﺎﻓِﺮِﻳﻦ
“Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Al-Ghoniy (Dzat yang Maha Kaya) lagi Al-Halim (Dzat Maha Penyantun). Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menghilangkan (pahala) sedekah kalian dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan Dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, sehingga ia menjadi bersih (tidak menyisakan apa-apa). mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir”. (QS Al-Baqoroh 262-263)
Maka pemberian dengan disertai rasa sakit bagi yang menerima, sesungguhnya telah menjadikan amalan itu sia-sia.
*CARA BERINFAK*
Untuk menjaga perasaan penerima itulah, maka syari’at ini mendorong untuk mengeluarkan sedekah dengan sembunyi-sembunyi.
ﺇِﻥْ ﺗُﺒْﺪُﻭﺍ ﺍﻟﺼَّﺪَﻗَﺎﺕِ ﻓَﻨِﻌِﻤَّﺎ ﻫِﻲَ ﻭَﺇِﻥْ ﺗُﺨْﻔُﻮﻫَﺎ ﻭَﺗُﺆْﺗُﻮﻫَﺎ ﺍﻟْﻔُﻘَﺮَﺍﺀَ ﻓَﻬُﻮَ ﺧَﻴْﺮٌ ﻟَﻜُﻢْ
“Jika kalian menampakkan sedekah kalian, maka itu adalah baik sekali. Sementara jika kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka perbuatan itu lebih baik bagimu”. (QS Al-Baqoroh 271)
Salah satu kelompok -yang disebutkan Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam-
kelak di hari kiamat akan berada di bawah naungan ‘Arsy dimana tidak ada –pada hari itu- tempat bernaung selainnya:
َﺭَﺟُﻞٌ ﺗَﺼَﺪَّﻕَ، ﺃَﺧْﻔَﻰ ﺣَﺘَّﻰ ﻻَ ﺗَﻌْﻠَﻢَ ﺷِﻤَﺎﻟُﻪُ ﻣَﺎ ﺗُﻨْﻔِﻖُ ﻳَﻤِﻴﻨُﻪ
“Lelaki yang bersedekah dan menyembunyikannya, sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan tangan kanannya”. (HR Bukhory-Muslim, dari Abu Sa’id Al-Khudry Rodhiyallohu ‘Anhu )
Walaupun begitu, jika seseorang ingin mengeluarkannya secara terang-terangan tidak mengapa selama bisa menjaga adab-adab sehingga tidak menyakiti si penerima. Dan tentunya, cara sembunyi-sembunyi bisa lebih menjaga hati-hati ini dari penyakit yang mungkin timbul, wallohul musta’an . Alloh
Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳُﻨْﻔِﻘُﻮﻥَ ﺃَﻣْﻮَﺍﻟَﻬُﻢْ ﺑِﺎﻟﻠَّﻴْﻞِ ﻭَﺍﻟﻨَّﻬَﺎﺭِ ﺳِﺮًّﺍ ﻭَﻋَﻠَﺎﻧِﻴَﺔً ﻓَﻠَﻬُﻢْ ﺃَﺟْﺮُﻫُﻢْ ﻋِﻨْﺪَ ﺭَﺑِّﻬِﻢْ ﻭَﻟَﺎ ﺧَﻮْﻑٌ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﻭَﻟَﺎ ﻫُﻢْ ﻳَﺤْﺰَﻧُﻮﻥَ
“Orang-orang yang menginfakkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Robbnya. tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. (QS Al-Baqoroh 274)
YANG BUTUH, MESTI MENJAGA KEHORMATAN
Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
ﻟِﻠْﻔُﻘَﺮَﺍﺀِ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺃُﺣْﺼِﺮُﻭﺍ ﻓِﻲ ﺳَﺒِﻴﻞِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻟَﺎ ﻳَﺴْﺘَﻄِﻴﻌُﻮﻥَ ﺿَﺮْﺑًﺎ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ﻳَﺤْﺴَﺒُﻬُﻢُ ﺍﻟْﺠَﺎﻫِﻞُ ﺃَﻏْﻨِﻴَﺎﺀَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺘَّﻌَﻔُّﻒِ ﺗَﻌْﺮِﻓُﻬُﻢْ ﺑِﺴِﻴﻤَﺎﻫُﻢْ ﻟَﺎ ﻳَﺴْﺄَﻟُﻮﻥَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱَ ﺇِﻟْﺤَﺎﻓًﺎ
“Berinfaqlah kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah, mereka tidak dapat (berusaha) di bumi. Orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu bisa mengenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak”. (QS Al-Baqoroh 273)
Hal ini mencakup juga apa yang mereka katakan “untuk kepentingan dakwah”, ketahuilah bahwa Islam adalah agama yang mulia dan ditegakkan dengan cara yang mulia, tidak butuh kepada cara-cara yang hina.
*KEUTAMAAN MENGINFAKKAN HARTA DI JALAN ALLAH*
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳُﻨْﻔِﻘُﻮﻥَ ﺃَﻣْﻮَﺍﻟَﻬُﻢْ ﻓِﻲ ﺳَﺒِﻴﻞِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺛُﻢَّ ﻟَﺎ ﻳُﺘْﺒِﻌُﻮﻥَ ﻣَﺎ ﺃَﻧْﻔَﻘُﻮﺍ ﻣَﻨًّﺎ ﻭَﻟَﺎ ﺃَﺫًﻯ ﻟَﻬُﻢْ ﺃَﺟْﺮُﻫُﻢْ ﻋِﻨْﺪَ ﺭَﺑِّﻬِﻢْ ﻭَﻟَﺎ ﺧَﻮْﻑٌ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﻭَﻟَﺎ ﻫُﻢْ ﻳَﺤْﺰَﻧُﻮﻥَ
“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti perasaan si penerima, mereka memperoleh pahala di sisi Robb mereka. tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS Al-Baqoroh 262)
Alloh Subhananahu wa Ta’ala berfirman:
ﻣَﺜَﻞُ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳُﻨْﻔِﻘُﻮﻥَ ﺃَﻣْﻮَﺍﻟَﻬُﻢْ ﻓِﻲ ﺳَﺒِﻴﻞِ ﺍﻟﻠﻪِ ﻛَﻤَﺜَﻞِ ﺣَﺒَّﺔٍ ﺃَﻧْﺒَﺘَﺖْ ﺳَﺒْﻊَ ﺳَﻨَﺎﺑِﻞَ ﻓِﻲ ﻛُﻞِّ ﺳُﻨْﺒُﻠَﺔٍ ﻣِﺎﺋَﺔُ ﺣَﺒَّﺔٍ ﻭَﺍﻟﻠَﻪُ ﻳُﻀَﺎﻋِﻒُ ﻟِﻤَﻦْ ﻳَﺸَﺎﺀُ ﻭَﺍﻟﻠَﻪُ ﻭَﺍﺳِﻊٌ ﻋَﻠِﻴﻢٌ
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah adalah Al-Wasi’ (Maha Luas karunia-Nya) lagi Al-‘Alim (Maha mengetahui)”. (QS Al-Baqoroh 261)
Alloh Subhananahu wa Ta’ala berfirman:
ﻣَﺜَﻞُ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳُﻨْﻔِﻘُﻮﻥَ ﺃَﻣْﻮَﺍﻟَﻬُﻢُ ﺍﺑْﺘِﻐَﺎﺀَ ﻣَﺮْﺿَﺎﺕِ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﺗَﺜْﺒِﻴﺘًﺎ ﻣِﻦْ ﺃَﻧْﻔُﺴِﻬِﻢْ ﻛَﻤَﺜَﻞِ ﺟَﻨَّﺔٍ ﺑِﺮَﺑْﻮَﺓٍ ﺃَﺻَﺎﺑَﻬَﺎ ﻭَﺍﺑِﻞٌ ﻓَﺂﺗَﺖْ ﺃُﻛُﻠَﻬَﺎ ﺿِﻌْﻔَﻴْﻦِ ﻓَﺈِﻥْ ﻟَﻢْ ﻳُﺼِﺒْﻬَﺎ ﻭَﺍﺑِﻞٌ ﻓَﻄَﻞٌّ ﻭَﺍﻟﻠَﻪُ ﺑِﻤَﺎ ﺗَﻌْﻤَﻠُﻮﻥَ ﺑَﺼِﻴﺮٌ
“Perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat. Maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, Maka hujan gerimis (pun memadai). dan Allah Maha melihat apa yang kalian perbuat”. (QS Al-Baqoroh 265)
Alloh Subhananahu wa Ta’ala berfirman:
ﻭَﻣَﺎ ﺃَﻧْﻔَﻘْﺘُﻢْ ﻣِﻦْ ﺷَﻲْﺀٍ ﻓَﻬُﻮَ ﻳُﺨْﻠِﻔُﻪُ ﻭَﻫُﻮَ ﺧَﻴْﺮُ ﺍﻟﺮَّﺍﺯِﻗِﻴﻦ
“Barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah pemberi rezki yang sebaik-baiknya”. (QS Saba’ 39)
Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam
bersabda:
ﻣَﻦْ ﺃَﻧْﻔَﻖَ ﻧَﻔَﻘَﺔً ﻓِﻲ ﺳَﺒِﻴﻞِ ﺍﻟﻠﻪِ ﻛُﺘِﺒَﺖْ ﻟَﻪُ ﺑِﺴَﺒْﻊِ ﻣِﺎﺋَﺔِ ﺿِﻌْﻒٍ
“Barangsiapa yang mengeluarkan infak di jalan Alloh maka dituliskan baginya dengan tujuh ratus kali lipat” (HR Ahmad, An-Nasa’i dll dari Khuraim Rodiyallohu ‘Anhu)
Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam
bersabda:
ﻣَﺎ ﻣِﻦْ ﻳَﻮْﻡٍ ﻳُﺼْﺒِﺢُ ﺍﻟﻌِﺒَﺎﺩُ ﻓِﻴﻪِ، ﺇِﻟَّﺎ ﻣَﻠَﻜَﺎﻥِ ﻳَﻨْﺰِﻻَﻥِ، ﻓَﻴَﻘُﻮﻝُ ﺃَﺣَﺪُﻫُﻤَﺎ : ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺃَﻋْﻂِ ﻣُﻨْﻔِﻘًﺎ ﺧَﻠَﻔًﺎ، ﻭَﻳَﻘُﻮﻝُ ﺍﻵﺧَﺮُ : ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺃَﻋْﻂِ ﻣُﻤْﺴِﻜًﺎ ﺗَﻠَﻔًﺎ
“Tidak ada hari yang para hamba menjumpai paginya, kecuali ketika itu dua malaikat turun. Maka salah satunya berkata: “Yaa Alloh berilah orang yang berinfak penggantian dan berilah orang yang menahan (hartanya) kepunahan” (HR Bukhory-Muslim dari Abu Huraroh
Rodhiyallohu ‘Anhu )
*MENINGGALKAN SEDEKAH DI JALAN ALLOH ADALAH JALAN MENUJU GERBANG KEBINASAAN*
Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
ﻭَﺃَﻧْﻔِﻘُﻮﺍ ﻓِﻲ ﺳَﺒِﻴﻞِ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﻟَﺎ ﺗُﻠْﻘُﻮﺍ ﺑِﺄَﻳْﺪِﻳﻜُﻢْ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﺘَّﻬْﻠُﻜَﺔِ
“Infakkanlah (harta benda) kalian di jalan Allah, dan janganlah kalian menjatuhkan diri kalian sendiri ke dalam kebinasaan” . (QS Al-Baqoroh 195)
Hudzaifah Rodhiyallohu ‘Anhu mengatakan: “Ayat ini turun dalam masalah infak” (HR Al-Bukhory)
Dalam riwayat lain dengan sanad yang shohih, Hudzaifah Rodhiyallohu ‘Anhu menafsirkan makna janganlah kalian menjatuhkan diri kalian sendiri ke dalam kebinasaan” : “Yaitu meninggalkan infak di jalan Alloh” (HR Ath-Thobari di tafsirnya)
*ORANG KAFIR JUGA MENGINFAKKAN HARTANYA*
Alloh Ta’ala berfirman:
ﺇِﻥَّ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻛَﻔَﺮُﻭﺍ ﻳُﻨْﻔِﻘُﻮﻥَ ﺃَﻣْﻮَﺍﻟَﻬُﻢْ ﻟِﻴَﺼُﺪُّﻭﺍ ﻋَﻦْ ﺳَﺒِﻴﻞِ ﺍﻟﻠﻪ
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah”. (QS Al-Anfal 36)
Syaikh ‘Abdurrohman As-Sa’dy
Rahimahulloh mengatakan: “Mereka (orang-orang kafir) akan terus menerus memerangi yang selainnya sampai mereka bisa mengeluarkan orang selain mereka dari agamanya. Terlebih-lebih ahlul Kitab seperti Yahudi dan Nashoro yang mengerahkan yayasan-yayasan, menyebarkan para da’i, mengutus para dokter, membangun sekolah-sekolah untuk menarik umat kepada agama mereka. Serta menyusupkan kepada mereka apa-apa yang bisa menjadi syubhat bagi mereka, yang dapat meragukan mereka terhadap agama mereka”. [Tafsir As-Sa’dy surat Al-Baqoroh ayat 217]
Di zaman ini yang terlihat giat menempuh cara-cara tersebut adalah Rofidhoh, mereka sangat gencar dalam menyebarkan pemahaman zindiq dan munafik. Syaikh kami Yahya Al-Hajury
Hafizhohulloh mengatakan bahwa negara yang paling bersemangat untuk mengembangkan dakwah saat ini adalah Iran. Mereka mengalokasikan dana besar-besaran untuk kepentingan dakwah meski perekonomian mereka pas-pasan. Mereka menyebarkan kezindikan, kekafiran dan kemunafikan dengan mengirim da’i-da’i Rofidhoh ke berbagai negara dan membuat yayasan-yayasan ahlut bait, menerima pelajar-pelajar undangan dari berbagai negara, menyebarkan buku-buku dengan harga yang murah dengan jumlah besar bahkan memberi sokongan dana untuk kepentingan perang dalam mengembangkan pemahaman rofidhoh.
Padahal kaum musliminlah yang paling berhak untuk mengerahkan usahanya dan menginfakkan harta mereka untuk agamanya, karena apa yang mereka perjuangkan adalah perkara yang mulia. Perkara yang diridhoi Robb manusia.
*SEDEKAH ADALAH KEUNTUNGAN YANG TERSISA BUKANLAH KERUGIAN YANG SIRNA*
Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
ﺇِﻥْ ﺗُﻘْﺮِﺿُﻮﺍ ﺍﻟﻠَﻪَ ﻗَﺮْﺿًﺎ ﺣَﺴَﻨًﺎ ﻳُﻀَﺎﻋِﻔْﻪُ ﻟَﻜُﻢْ ﻭَﻳَﻐْﻔِﺮْ ﻟَﻜُﻢْ
“Jika kalian meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipat gandakan balasannya dan mengampuni kalian”. (QS At-Taghobun 17)
Jika kalian menginfakkan harta kalian di jalan Alloh, mengeluarkan infak yang baik dan mengharapkan pahala serta ganjaran dari Alloh dengan infak kalian tersebut, niscaya Robb kalian akan melipat gandakannya untuk kalian dan menggantikan satu dengan tujuh ratus kali lipat atau lebih bagi yang Dia kehendaki. Bersamaan dengan pelipat gandaan tersebut, Dia juga akan mengampuni azab yang bakal ditimpakan kepada kalian dengan sebab harta yang kalian infakkan di jalan Alloh.
[Lihat Tafsir Ath-Thobary]
‘Aisyah Rodhiyallohu ‘Anha mengatakan bahwa dahulu shohabat menyembelih kambing dan menyedekahkannya, kemudian Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Salam datang dan berkata: “Apa yang tersisa darinya?”. ‘Aisyah menjawab: “Tidak ada yang tersisa kecuali tulang belikatnya”. Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Salam berkata: “(Bahkan) tersisa semuanya kecuali tulang belikatnya”. (HR Tirmidzi dishohihkan Syaikh Muqbil dan Syaikh Al-Albany)
Hal itu karena yang dimakan itulah yang lenyap, sementara yang disedekahkan akan tetap tersisa di sisi Alloh. Alloh Ta’ala berfirman:
ﻣَﺎ ﻋِﻨْﺪَﻛُﻢْ ﻳَﻨْﻔَﺪُ ﻭَﻣَﺎ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟﻠﻪِ ﺑَﺎﻕ
“Apa yang di sisi kalian akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal”.
(QS An-Nahl 96)
Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Salam
bersabda:
ﻳﻘﻮﻝ ﺍﻟﻌﺒﺪ : ﻣﺎﻟﻲ، ﻣﺎﻟﻲ، ﺇﻧﻤﺎ ﻟﻪ ﻣﻦ ﻣﺎﻟﻪ ﺛﻼﺙ : ﻣﺎ ﺃﻛﻞ ﻓﺄﻓﻨﻰ، ﺃﻭ ﻟﺒﺲ ﻓﺄﺑﻠﻰ، ﺃﻭ ﺃﻋﻄﻰ ﻓﺎﻗﺘﻨﻰ، ﻭﻣﺎ ﺳﻮﻯ ﺫﻟﻚ ﻓﻬﻮ ﺫﺍﻫﺐ، ﻭﺗﺎﺭﻛﻪ ﻟﻠﻨﺎﺱ
“Hamba berkata: “(Begini) hartaku, (begitu) hartaku, hartaku”. Sesungguhnya baginya dari hartanya hanyalah tiga: “Yang dia makan, maka itu akan lenyap. Yang dia pakai, maka itu akan lusuh. Yang dia sedekahkan, maka itu akan tersimpan. Sementara yang selain itu semua akan pergi dan dia tinggalkan untuk manusia”
(HR Muslim dari Abu Hurairoh
Rodhiyallohu ‘Anhu )
Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Salam
bersabda:
ﻣَﺎ ﻧَﻘَﺼَﺖْ ﺻَﺪَﻗَﺔٌ ﻣِﻦْ ﻣَﺎﻝ
“Shodaqoh tidaklah mengurangi harta” (HR Muslim)
Imam An-Nawawy Rahimahulloh
mengatakan: “Para ulama menyebutkan dua sisi makna, pertama maknanya adalah bahwa orang tersebut diberkahi pada sedekahnya dan ditolak bahaya sehingga “bentuk” kekurangan harta terganti dengan berkah yang ringan, perkara ini terjangkau oleh indera dan kebiasaan. Yang kedua, walaupun dalam “bentuk” berkurang namun pahala yang dihasilkan mengganti kekurangannya serta menambahnya dengan lipan ganda yang banyak”. [Syarh Shohih Muslim]
*JANGAN HITUNG-HITUNG JASA TERHADAP DAKWAH, JUSTERU SEMESTINYA KITA BERSYUKUR ALLOH MEMBERI TAUFIK KEPADA KITA UNTUK BEKERJA SAMA DALAM DAKWAH YANG PENUH BERKAH INI. ADANYA KITA ATAU TIDAK DAKWAH SALAFIYYAH TETAP BERJALAN*
Alloh Ta’ala berfirman:
ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﺍﻟْﺤَﻴَﺎﺓُ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻟَﻌِﺐٌ ﻭَﻟَﻬْﻮٌ ﻭَﺇِﻥْ ﺗُﺆْﻣِﻨُﻮﺍ ﻭَﺗَﺘَّﻘُﻮﺍ ﻳُﺆْﺗِﻜُﻢْ ﺃُﺟُﻮﺭَﻛُﻢْ ﻭَﻟَﺎ ﻳَﺴْﺄَﻟْﻜُﻢْ ﺃَﻣْﻮَﺍﻟَﻜُﻢْ ^ ﺇِﻥْ ﻳَﺴْﺄَﻟْﻜُﻤُﻮﻫَﺎ ﻓَﻴُﺤْﻔِﻜُﻢْ ﺗَﺒْﺨَﻠُﻮﺍ ﻭَﻳُﺨْﺮِﺝْ ﺃَﺿْﻐَﺎﻧَﻜُﻢْ ^ ﻫَﺎ ﺃَﻧْﺘُﻢْ ﻫَﺆُﻟَﺎﺀِ ﺗُﺪْﻋَﻮْﻥَ ﻟِﺘُﻨْﻔِﻘُﻮﺍ ﻓِﻲ ﺳَﺒِﻴﻞِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻓَﻤِﻨْﻜُﻢْ ﻣَﻦْ ﻳَﺒْﺨَﻞُ ﻭَﻣَﻦْ ﻳَﺒْﺨَﻞْ ﻓَﺈِﻧَّﻤَﺎ ﻳَﺒْﺨَﻞُ ﻋَﻦْ ﻧَﻔْﺴِﻪِ ﻭَﺍﻟﻠَّﻪُ ﺍﻟْﻐَﻨِﻲُّ ﻭَﺃَﻧْﺘُﻢُ ﺍﻟْﻔُﻘَﺮَﺍﺀُ ﻭَﺇِﻥْ ﺗَﺘَﻮَﻟَّﻮْﺍ ﻳَﺴْﺘَﺒْﺪِﻝْ ﻗَﻮْﻣًﺎ ﻏَﻴْﺮَﻛُﻢْ ﺛُﻢَّ ﻟَﺎ ﻳَﻜُﻮﻧُﻮﺍ ﺃَﻣْﺜَﺎﻟَﻜُﻢ
“Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu. Jika Dia meminta harta kepadamu lalu mendesak kamu (supaya memberikan semuanya) niscaya kamu akan kikir dan Dia akan menampakkan kedengkianmu. Ingatlah, kalian adalah orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (harta) pada jalan Allah, maka di antara kalian ada yang kikir. Barang siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Allah adalah Al-Ghony (Dzat yang Maha Kaya) sedangkan kalianlah orang-orang yang membutuhkan (kepada-Nya). Jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kalian) dengan kaum yang lain dan mereka tidak akan seperti kalian ini”. (QS Muhammad 36-38)
Orang yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri karena dia telah mengharamkan pahala Alloh baginya. Alloh tidak rugi sedikitpun karena orang tersebut meninggalkan infak dan Alloh adalah Al-Ghoniy (Maha Kaya), tidak butuh kepada harta hamba-Nya. [Lihat tafsir Al-Qurthuby dan Ibnu Kasir]
TUNGGU APA LAGI?
Alloh Ta’ala berfirman:
ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺇِﺫَﺍ ﺫُﻛِﺮَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻭَﺟِﻠَﺖْ ﻗُﻠُﻮﺑُﻬُﻢْ ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺗُﻠِﻴَﺖْ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﺁﻳَﺎﺗُﻪُ ﺯَﺍﺩَﺗْﻬُﻢْ ﺇِﻳﻤَﺎﻧًﺎ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺭَﺑِّﻬِﻢْ ﻳَﺘَﻮَﻛَّﻠُﻮﻥَ
Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Robblah mereka bertawakkal”. (QS Al-Anfal 36)
Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
ﻭَﺃَﻧْﻔِﻘُﻮﺍ ﻣِﻦْ ﻣَﺎ ﺭَﺯَﻗْﻨَﺎﻛُﻢْ ﻣِﻦْ ﻗَﺒْﻞِ ﺃَﻥْ ﻳَﺄْﺗِﻲَ ﺃَﺣَﺪَﻛُﻢُ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕُ ﻓَﻴَﻘُﻮﻝَ ﺭَﺏِّ ﻟَﻮْﻟَﺎ ﺃَﺧَّﺮْﺗَﻨِﻲ ﺇِﻟَﻰ ﺃَﺟَﻞٍ ﻗَﺮِﻳﺐٍ ﻓَﺄَﺻَّﺪَّﻕَ ﻭَﺃَﻛُﻦْ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤِﻴﻦ
“Infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepada kalian sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kalian, lalu ia berkata: “Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?”. (QS Al-Munafiqun 10)
Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﺃَﻧْﻔِﻘُﻮﺍ ﻣِﻤَّﺎ ﺭَﺯَﻗْﻨَﺎﻛُﻢْ ﻣِﻦْ ﻗَﺒْﻞِ ﺃَﻥْ ﻳَﺄْﺗِﻲَ ﻳَﻮْﻡٌ ﻟَﺎ ﺑَﻴْﻊٌ ﻓِﻴﻪِ ﻭَﻟَﺎ ﺧُﻠَّﺔٌ ﻭَﻟَﺎ ﺷَﻔَﺎﻋَﺔٌ
“Wahai orang-orang yang beriman, infakkanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezki yang telah Kami berikan kepada kalian sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafa’at”. (QS Al-Baqoroh 254)
Imam Ibnu Katsir Rahimahullohu Ta’ala –
dalam tafsirnya- mengatakan: “Alloh Ta’ala memerintahkan para hamba-Nya untuk menginfakkan -dari rezki yang telah Dia berikan- di jalan-Nya, di jalan-jalan kebaikan, agar mereka menabung pahala kelak di sisi Robb sekaligus Pemilik mereka, dan Dia juga memerintahkan agar mereka bersegera untuk melakukan hal itu di kehidupan dunia”.
Alloh Ta’ala berfirman:
ﻭَﻣَﺎ ﻟَﻜُﻢْ ﺃَﻟَّﺎ ﺗُﻨْﻔِﻘُﻮﺍ ﻓِﻲ ﺳَﺒِﻴﻞِ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﻟِﻠﻪِ ﻣِﻴﺮَﺍﺙُ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﻭَﺍﺕِ ﻭَﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ
“Mengapa kalian tidak menafkahkan harta kalian pada jalan Allah, Padahal Allah-lah yang mempunyai langit dan bumi?”. (QS Al-Hadid 10)
Imam Abu Ja’far Ath-Thobary mengatakan: “Alloh Ta’ala mengatakan, “Kenapa kalian wahai manusia tidak menginfakkan di jalan Alloh apa-apa yang telah Dia rezkikan kepada kalian?”. (Padahal) kepada-Nyalah harta-harta kalian tetap akan kembali walau kalian tidak menginfakkannya di jalan-Nya ketika kalian masih hidup. Karena Dialah yang memiliki perbendaharaan langit dan bumi. Hanya saja Dia Jalla Tsana’uhu memotivasi kalian untuk bagian kalian sendiri. Dia berkata kepada mereka, “Infakkanlah harta kalian di jalan Alloh agar hal itu menjadi simpanan bagi kalian di sisi Alloh, sebelum kalian meninggal dan kalian tidak mampu untuk itu”.
“Apa yang menghalangi kalian untuk berinfak di jalan Alloh?, sementara semua jalan kebaikan ada padanya. Apa yang mengharuskan kalian untuk pelit? Sementara itu bukanlah milik kalian bahkan semua perbendaharaan di langit dan bumi adalah milik Alloh, semuanya akan berpindah atau dipindahkan dari tangan kalian, kemudian kembali kepemilikannya kepada pemiliknya Alloh Tabaroka wa Ta’ala. Maka ambillah harta itu untuk berinfak selama masih berada di tangan kalian, ambillah kesempatan”.
[Lihat Tafsir As-Sa’dy tentang ayat di atas]
Bersedekahlah mumpung masih dalam kelapangan. Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam ditanya tentang sedekah yang paling banyak pahalanya, maka beliau menjawab:
ﺃَﻥْ ﺗَﺼَﺪَّﻕَ ﻭَﺃَﻧْﺖَ ﺻَﺤِﻴﺢٌ ﺷَﺤِﻴﺢٌ ﺗَﺨْﺸَﻰ ﺍﻟﻔَﻘْﺮَ، ﻭَﺗَﺄْﻣُﻞُ ﺍﻟﻐِﻨَﻰ، ﻭَﻻَ ﺗُﻤْﻬِﻞُ ﺣَﺘَّﻰ ﺇِﺫَﺍ ﺑَﻠَﻐَﺖِ ﺍﻟﺤُﻠْﻘُﻮﻡَ، ﻗُﻠْﺖَ ﻟِﻔُﻼَﻥٍ ﻛَﺬَﺍ، ﻭَﻟِﻔُﻼَﻥٍ ﻛَﺬَﺍ ﻭَﻗَﺪْ ﻛَﺎﻥَ ﻟِﻔُﻼَﻥٍ
“Engkau bersedekah dalam keadaan badanmu masih sehat dan jiwamu merasa pelit, engkau takut miskin dan mengangankan kekayaan. Janganlah engkau berlambat-lambat, sampai ketika nyawa suah sampai ke tenggorokan engkau baru berkata: “Untuk si fulan segini, untuk si fulan segitu, ini dulu aku peruntukkan bagi fulan …” (HR Bukhory Muslim dari Abu Hurairoh Rodhiyallohu ‘Anhu)
ﺳﺒﺤﻨﻚ ﻭﺑﺤﻤﺪﻙ ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ ﺃﻧﺖ ﺃﺳﺘﻐﻔﺮﻙ ﻭﺃﺗﻮﺏ ﺇﻟﻴﻚ
Sumber: ahlussunnah.web.id

Saling berdiskusi mengenai tema kajian malam ini…
Dengan tidak bermaksud menggurui kpd para asatidzah di sini…
Kajian ini sifatnya saling share ilmu..

🙋🏻Season Tanya/jwb

*T* Ijinbertanya..sodakoh itu selain berbentuk uang boleh dgn berbentuk apa aja ya?

*J* Sodakoh selain harta:
1. Perkataan yg baik
    Contoh:  Nasehat, mengajak pada kebaikan, dsb
2. Perbuatan yang baik
Melakukan perbuatan amar ma’ruf nahi mungkar, tersenyum, ramah, sopan santun, menyenangkan orang lain dsb.

*T* Assalamuallaikum ust
Mau bertanya
Apa hukum nya bersedekah dg hasil usaha yg Subhat?

*J*  Jangan campur adukan yang hak dan yg bathil…
Mendermakan harta haram hukumnya haram pula…

*Titik 204*afwan kl menyimpang dr materi.

Ustad,bolehkah kulit & kepala hewan qurban,dijual yg hasil penjualannya digunakan untuk biaya operasional panitia qurban? Ex: utk biaya penyembelihan,kelet & plastik pembungkus daging qurban

*J* kulit & isi perut biasanya tdk dibagikan karena sebab tertentu (tdk layak konsumsi DLL yg bisa menyebabkan kemudharatan)..
Itu bisa dimanfaatkan apalg bisa dijual untuk kebaikan…misal biaya operation.

*T* Gini tadz, sedekah niat ikhlas dari hati. Tiap mampir masjid ato musolah in syaa Allah nyisihin buat sedekah..

Dalem hati juga ada niat buat contoh temen-temen biar ikutan sedekah. Tapi mereka nilainya beda, ana dikira sombong, pegawe penghasilan nggak seberapa sok-sokan tiap hari sedekah..

Nahh niat awal yang murni ingin sedekah karena dapet omongan kek gitu ana ikutan sombong ustadz, dalem hati juga ngomong dari pada kalian yang nggak mauk sedekah..

Gimana itu ustadz..??
Jazakillahi khairan khatsiran..

*J*  Sedekah itu boleh sembunyi2 atau terang 2an, yang menilai keikhlasan sedekah adalah Allah SWT…
jadi jangan terbawa oleh hasutan orang2 yg iri krn dia tdk bisa bersodakoh.

*Ega w2.145*
*T* Ustadz sy mau tanya,
Sedekah, kadang terasa berat, berat akan kecintaan dunia..
Masih kepikiran oh iya nanti buat beli ini buat beli itu yg pada kenyataanya itu adalah perihal duniawi.. Wah aku ga punya uang buat ini itu apalagi kalau harus sedekah. Padahal notabene hapenya bagus, kendaraannya bagus, dan banyak barang2 lain yg terhitung bisa diuangkan dengan nominal lumayan. Barang2 yg dirasa butuh, tp padahal kita tidak punya pun tidak masalah ga dosa.

Bagaimana ya ustadz menghilangkan rasa berat untuk melepaskan dan mengikhlaskan barang2 duniawi yg kita miliki untuk disedekahkan?

*J*  Sedekah memang berat, karena manusia di beri akal dan nafsu..
Logika kita mengatakan jika harta disedekahkan akan berkurang..
Tetapi logika iman mengatakan bahwa harta yang diinfaqkan dijalan Allah seperti satu biji padi ditanam tumbuh 7 batang, masing2 batang berbuah 100..

Agar ikhlas pilih logika iman..

Triknya agar sedekah selalu berjalan..
hitung pengeluaran kita dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi berapa rupiah…
2,5% nya adalah hak fakir miskin.
Besok paginya masukan ke keropak disekitar kita…
Awalnya berat, insyaallah akan terbiasa, dan malah senang… karena harta kita bersih dan selalu dimudahkan rizki kita oleh Allah dgn rizki yg diterima tanpa terduga

*Lilis w260*
*T* Tanya: tad saya dan teman2 sedekah nasi uduk setiap hr jumat kurang lebih 120-140 bungkus /minggu nah makin hr makin banyak yg ikutan sedekah nah mulau dr minggu kemarin saya pisahin uang yg lebih dr target itu niat mau disedekahin di akhir taun nah pertannyaannya apakah tidak salah mengingat saya tidak memberi tahukan niatan itu ke semua teman sedekah saya.

*J* Sedekah yg dititipkan pd seseorang atau Lembaga memiliki nilai yg lebih,karena dpt dikontrol & saring mana yg butuh atau tdk..
Pengurus jg sdh diberi wewenang oleh penyumbang tuk disalurkan sesuai kebutuhan.
Jika dinilai menyalurkan seluruhnya jd berlebih & tdk efektif bisa disalurkan dilain tmpt & waktu.
Itu tdk menyalahi..yg salah apabila tdk disalurkan.

*Yenny W2.93*.
*T* ..mohon ijin bertanya sekali lagi:  kalo kita sodakoh misalnya berbentuk uang…terus kita niatkan misalnya: mudah2han pahalanya sampe kepada almarhum/almarhumah pulan..nah itu pahalanya sampe tdk buat beliau? Dan apakah kita jg masih dapat kebagian pahalanya?…hatur nuhun.

*J* Amalan yang masih terus mengalir walau seseorang sudah meninggal: 
1. Amal baik ketika di dunia
2. Doa anak yg shaleh
3. Ilmu yang bermanfaat.
Selain itu tidak akan sampai.

*T* Assalamu’alaikum..
kalo sodaqoh buat almarhum orang tua apakah pahalanya sampai ke pada orang tua?

dan boleh gak sodaqoh yg setiap 30% dari gaji kita.. kita ganti dengan memberi anak yatim makan.uang. tapi hanya tiap 2 atau 3 bulan sekali???
syukron.

*J*  Sodaqoh tidak ditentukan jumlahnya, tetapi jangan pelit Dan jangan pula berlebihan.
jika mampu 2 atau 3 bulan sekali bersedekah untuk fakir miskin atau yatim piatu itu lebih baik..

*T*  Kalo kurban bukannya harus bersih hewan hanya untuk kurban yaa tadz..?? Nggak boleh buat biaya lainnya. Apa lagi biaya untuk penyembelihannya..

Nah untuk biaya penyembelihan gimana ustadz..??

*J*  Sebaiknya yg kurban sekaligus memberi biaya operasional sehingga proses qurbannya jadi lebih afdhol.

*T*  Assalamuallaikum ust…blh ga sodaqoh tanpa izin suami dan ngasih uang ke orang tua tanpa sepengetahuan suami (degan menggunakan jatah bulanan keluarga)..

*J*Jika itu uang hasil usaha sendiri dibolehkan, tapi sebaiknya dibicarakan dulu dengan suami.
Jika itu adalah nafkah harta  yg diberikan suami, harus minta izin dulu..
Biasanya suami akan senang bahkan menganjurkan…
Tetapi jgn berlebihan dan jangan juga pelit

*W 2. 279 Niar*
*T* Afwan ustad, apa perbedaan antara Sedekah dan infaq?

*J*  Sedekah adalah harta yg dikeluarkan tanpa ada kewajiban membayar, karena manfaat harta tersebut sepenuhnya untuk yg diberi sedekah

Infaq:  harta yg dikeluarkan untuk yg berhak menerima, tetapi dari harta itu terdapat manfaat yg diambil si pemberi infaq… contoh:  SPP sekolah termasuk infaq.

Kajian dicukupkan sampai disini dl.. Semoga kita bisa bersua kembali di materi yang berbeda. 

Kebenaran datangnya dari Allah SWT, kesalahan datang dari kekhilafan dan kebodohan diri ana…

Billahi taufiq walhidayah wassalam’alaikum wr. wb.

Ane sangat berterimakasih sekali kepada para admin, pejuang dhuha tanpa lelah…
Semoga perjuangan kita mencapai tujuan yaitu *menduniakan dhuha, dan mendhuhakan dunia*…
Kokohkan tekad, berdakwah hingga akhir hayat…
Allahu akbar✊🏼✊🏼✊🏼💪💪💪
Selanjutnya mohon sukseskan program yuk berkurban dgn memblast ke grup kominfonya…
Semakin sering…
Mudah2an target tahun lalu bisa tercapai bahkan lebih…

Syukron semua..
Atas dedikasi dan perjuangannya dalam dakwah mengkampanyekan  dhuha..

Alhamdulillah KOL kali ini kita tutup dng hamdalah
Alhamdulillah…..

KIAT-KIAT HIDUP AGAR SELALU “ON”

KIAT-KIAT HIDUP AGAR SELALU ON

Disampaikan pada kajian Online RDI, Rabu 18 Mei 2016, Pkl 20.00 – 21.30 WIB

Oleh : M. Lukmanul Hakim , S.Pd.I ( Founder Komunitas Dhuha Ummat)

Manusia diciptakan Allah SWT dengan kehidupan yang penuh liku-liku, yang Allah atur sedemikian rupa agar kelak terseleksi siapa hamba sebenarnya hamba yang benar-benar beriman di sisi Allah, yaitu otang yang menggunakan akal dan nafsunya berimbang dan dijadikan bekal untuk selalu taat dan beribadah kepada Allah SWT.

Hidup bersemangat, hidup bergairah setiap hari merupakan kunci untuk menjalani hidup selanjutnya. Agar selalu “ON” dan siap dalam berbagai masalah yang akan dihadapi hari ini dan dan masa yang kan datang maka berikut adalah tipsnya antara lain :

  1. Positive Thinking

Positif Thinking dalam bahasa arabnya “Husnudzon” artinya berbaik sangka terhadap sesama makhluk dan kepada Sang Kholik.  Sifat “husnudzon” akan menghilangkan prasangka buruk setiap kejadian yang menimpa diri sendiri atau orang lain, sehingga lebih cenderung melihat sebuah kejadian itu dari hikmah yang diperoleh.

Sebaliknya Suudzon (berburuk sangka) akan menimbulkan :

  1. Fitnah
  2. Mencari kesalahan orang lain
  3. Merasa diri benar
  4. Sulit intropeksi diri

Firman Allah dalam surat Al Hujarat : 12

Artinya :

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka. Sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.

  1. Pandai Bersyukur

Hidup kita akan lebih bermakna jika kita pandai bersyukur. Bersyukur adalah menerima  atas nikmat  yang dianugerahkan Allah SWT dan menunjukkan rasa terimakasih  dengan ucapan  dan perbuatan.

Ada juga yang mendefinisikan syukur dengan makna lain seperti:
1.    Mengakui nikmat yang diberikan dengan penuh ketundukan.
2.    Memuji yang memberi nikmat atas nikmat yang diberikannya.
3.    Cinta hati kepada yang memberi nikmat dan (tunduknya) anggota badan dengan ketaatan serta lisan dengan cara memuji dan menyanjungnya.
4.    Menyaksikan kenikmatan dan menjaga (diri dari) keharaman.
5.    Mengetahui kelemahan diri dari bersyukur.
6.    Menyandarkan nikmat tersebut kepada pemberinya dengan ketenangan.
7.    Engkau melihat dirimu orang yang tidak pantas untuk mendapatkan nikmat.
8.    Mengikat nikmat yang ada dan mencari nikmat yang tidak ada.

 

Allah berfirman dalam Surat Ibrohim ayat 7 :

“ Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS Ibrohim : 7)

  1. Istiqomah Sedekah

Sedekah adalah meninfaqkan sebagian rizki yang kita terima kepada fakir miskin, anak-anak terlantar dan orang-orang yang membutuhkan. Sedekah yang iklas merupakan kunci utama menuju kekayaan hakiki. Dengan bersedekah kita akan dapat banyak do’a baik dari orang yang kita beri sedekah dan orang disekeliling mereka.  Do’a orang lapar atau orang teraniaya itu tidak terhijab dan akan Allah kabulkan.

Allah berfirman dalam surat  Al Baqoroh ayat 261 :

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui” (QS Al Baqoroh : 261).

Pengertian menafkahkan harta di jalan Allah meliputi belanja untuk kepentingan jihad, pembangunan perguruan, rumah sakit, usaha penyelidikan ilmiah dan lain-lain, dalil-dalil lanjutan mengenai bersyukur dapat dilihat di surat Al Baqoroh : 262-271.

  1. Senang menyampaikan berita baik.

Setiap orang senantiasa gembira apabila mendapatkan kabar yang baik tentang dirinya atau kerabatnya. Agar bergaul dapat diterima dengan baik, mulailah dengan menceritakan hal yang baik-baik yang membuat orang disekitar kita gembira dan tidak tersinggung dengan apa yang kita ceritakan.

Untuk menjadi pribadi yang menarik juga harus bisa mendengrkan keluh keah orang lain dan senantiasa memberikan masukan yang baik.

Sebagaimana rasulullah SAW diutus oleh Allah untuk menyampaikanberita baik dan perngatan.

  1. Senantiasa memperbanyak bersilaturahmi

Menyambungkan tali silaturahim adalah sebuah perbuatan terpuji yang akan mendatangkan berbagai kemanfaatan antara lain :

  1. Dapat berkumpul dengan orang-orang sholeh/sholehah
  2. Mendatangkan keberkahan dan rizki yang tidak terduga
  3. Memprerat tali persaudaraan antar sesama muslim

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ ، وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barangsiapa yang ingin rizqinya diperluas dan umurnya ditambah, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi.”
Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنِ اتَّقَى رَبَّهُ ، وَوَصَلَ رَحِمَهُ ، نُسِّئَ فِي أَجَلِهِ ، وَثَرَى مَالُهُ ، وَأَحَبَّهُ أَهْلُهُ

“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah dan menyambung silaturahmi, maka ajalnya akan diundur, hartanya akan diperbanyak, dan akan dicintai oleh keluarganya.”

  1. Mudah meminta maaf dan memaafkan kesalahan

Kadang seseorang gengsi untuk meminta maaf jika telah berbuat kesalahan atau memberi maaf terhadap kesalahan orang lain, padahal itu adalah perbuatan yang akan mempersempit ruang gerak diri sendiri. Mulailah melakukan rutinitas dalam keluarga dengan melakukan ritual minta maaf setiap hari kepada anggota keluarga sehingga ganti hari dosa antar sesama keluarga nol kembali. Jangan memulai menumpuk-numpuk dosa, apalagi meminta maafnya setahun sekali saat hari raya idul fitri.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللهِ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa. Barangsiapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (Asy-Syura: 40)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (At-Taghabun: 14)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللهُ

Shadaqah –hakikatnya– tidaklah mengurangi harta, dan tidaklah Allah Subhanahu wa Ta’ala menambah seorang hamba karena memaafkan kecuali kemuliaan, dan tiada seorang yang rendah hati (tawadhu’) karena Allah Subhanahu wa Ta’ala melainkan diangkat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

  1. Senang menolong orang susah

Salah satu orang yang patut kita tolong adalah orang yang dalam keadaan kesusahan baik dalam menjalani hidup, berjuang melawan penyakit, tidak berdaya dan teraniaya. Menolong orang yang susah akan menimbulkan aura positif yang dipancar dari do’a-do’a orang yang kita tolong.

Dari Abu Hurairah ra, Nabi SAW, bersabda: “Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong hamba Nya selama hamba Nya itu suka menolong saudaranya”. (HR. Muslim, lihat juga Kumpulan Hadits Arba’in An Nawawi hadits ke 36).

Demikian tips yang bisa disampaikan pada kajian kali ini, semoga bermanfaat.

HUKUMAN TIDAK TERASA

HUKUMAN YANG TIDAK TERASA

Seorang murid mengadu kepada gurunya:

“Ustadz, betapa banyak kita berdosa kepada Allah dan tidak menunaikan hakNya sebagaimana mestinya, tapi saya kok tidak melihat Allah menghukum kita”

Sang Guru menjawab dengan tenang:
_”Betapa sering Allah menghukummu tapi engkau tidak terasa”_.

_”Sesungguhnya salah satu hukuman Allah yang terbesar yang bisa menimpamu wahai anakku, ialah: *Sedikitnya taufiq*  (kemudahan) untuk mengamalkan ketaatan dan amal amal kebaikan”_.

Tidaklah seseorang diuji dengan musibah yang lebih besar dari *”kekerasan hatinya dan kematian hatinya”*.

Sebagai contoh:
Sadarkah engkau, bahwa Allah telah *mencabut darimu rasa bahagia dan senang* dengan munajat kepadaNya, merendahkan diri kepadaNya, menyungkurkan diri di harapannya..?

Sadarkah engkau *tidak diberikan rasa khusyu’* dalam shalat..?

Sadarkah engkau, bahwa  beberapa hari2 mu telah berlalu dari hidupmu, tanpa membaca Al-Qur’an, padahal engkau mengetahui firman Allah:
_”Sekiranya Kami turunkan Al-Qur’an ini ke gunung, niscaya engkau melihatnya tunduk, retak, karena takut kepada Allah”_.

Tapi engkau tidak tersentuh dengan Ayat Ayat Al-Qur’an, seakan engkau tidak mendengarnya…

Sadarkah engkau, telah berlalu beberapa malam yang panjang sedang engkau tidak melakukan Qiyamullail di hadapan Allah, walaupun terkadang engkau begadang…

Sadarkah engkau, bahwa telah berlalu atasmu musim musim kebaikan seperti: Ramadhan.. Enam hari di bulan Syawwal.. Sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, dst.. tapi engkau belum diberi taufiq untuk memanfaatkannya sebagaimana mestinya..??

Hukuman apa lagi yang lebih berat dari itu..???
Tidakkah engkau merasakan beratnya mengamalkan banyak ketaatan (amal ibadah)..???

Tidakkah Allah menahan lidahmu untuk berdzikir, beristighfar dan berdo’a kepadanya..???

Tidakkah terkadang engkau merasakan bahwa engkau lemah di hadapan hawa nafsu..???

Hukuman apa lagi yang lebih berat dari semua ini..???

Sadarkah engkau, yang mudah bagimu berghibah, mengadu domba, berdusta, memandang ke yang haram..???

Sadarkah engkau, bahwa Allah membuatmu lupa kepada Akhirat, lalu Allah menjadikan dunia sebagai perhatian terbesarmu dan ilmu tertinggi..???

Semua *bentuk pembiaran* ini dengan berbagai bentuknya ini, hanyalah beberapa bentuk hukuman Allah kepadamu, sedang engkau menyadarinya, atau tidak menyadarinya…

Waspadalah wahai sahabatku, agar engkau tidak terjatuh ke dalam dosa dosa dan meninggalkan kewajiban kewajiban.

Karena *hukuman yang paling ringan* dari Allah terhadap hambaNya ialah:
_*”Hukuman yang terasa”* pada harta, atau anak, atau kesehatan._

Sesungguhnya *hukuman terberat* ialah: _*”Hukuman yang tidak terasa”*_ pada kematian hati, lalu ia tidak merasakan nikmatnya ketaatan, dan tidak merasakan sakitnya dosa._

Karena itu wahai sahabat2ku, *Perbanyaklah di sela sela harimu, amalan taubat dan istighfar, semoga Allah menghidupkan hatimu…*

(Diterjemahkan dari Taushiyah Syaikh Abdullah Al-‘Aidan di Masjidil Haram)
Sumber:  Silaturahim Founder (SF) Komunitas Islam Indonesia

Mau Istiqomah Shalat Dhuha?

Yuk Gabung Komunitas Dhuha Ummat (KODHAM) bersama member di lebih dari 15 Negara.. 

Klik tautan ini untuk daftar : 

https://chat.whatsapp.com/Hp5YJwloz40CNhs3YmBphO

BAHAYA PEMAHAMAN PARSIAL TERHADAP ISLAM

BAHAYA PEMAHAMAN PARSIAL TERHADAP ISLAM

Ust. DR. Amir Faishol Fath, MA

1. Pemahaman parsial terhadap Islam akan menyempitkan Islam pada sisi tertentu, sehingga Islam seakan hanya agama ritual yang beku di pojok masjid. Sementara urusan sosial, ekonomi, politik dan negara dianggap tidak ada hubungannya dengan Islam.

2. Pemahaman parsial akan pojokkan sunnah Nabi hanya sekitar shalat, jenggot dan lain sebagainya. Sementara sunnah Nabi yang besar, di mana Nabi tidak hanya memimpin shalat tetapi juga memimpin pasar, pasukan dan negara, itu tidak diutamakan. Akibatnya sibuk menyerang sesama muslim sekitar ritual dan tampilan saja.

3. Pemahaman parsial cenderung ekstrim sebab dianggap Islam sangat kecil urusannya. Dari sini muncul penyimpangan-penyimpangan dalam akidah, ibadah dan bahkan permusuhan. Sebab dari sikap ekstrim akan muncul fanatisme golongan. Akibatnya warisan ilmu Islam yang agung diabaikan begitu saja.

4. Pemahaman Islam parsial cenderung membuat definisi yang parsial. Seperti seorang buta mendefinisikan gajah. Satunya mengatakan gajah itu seperti kipas karena yang ia sentuh hanya telinganya. Satunya mengatakan gajah itu seperti tiang karena yang ia sentuh kakinya. Satunya mengatakan gajah itu seperti cemeti karena yang ia sentuh belalainya. Akhirnya saling menghakimi dan saling menyalahkan. Padahal semuanya salah.

5. Pemahaman Islam parsial tidak akan bisa bedakan mana ushul, mana furu’. Maka semua dianggap ushul. Akibatnya yang furu’iyah diserang habis, dengan alasan tidak ada dalilnya. Dan pelaku furuiyah dianggap sesat. Padahal kaidah ushul fikih mengatakan “Laa inkaara fil mukhtalaf fiihi” (tidak boleh ada pengingkaran dalam masalah khilafiyah).

6. Dari sini kita paham mengapa Allah berfirman “Udkhuluu fissilmi kaaffah” (masuklah Islam secara keseluruhan, bukan sebagian-sebagian). Lalu firman “Walaa tattabi’uu khuthwaatisy-syaithan”  (dan janganlah ikuti langkah-langkah syetan). Sebab setiap pemahaman yang tidak kaffah akan mudah dipermainkan syetan.

Semoga Allah berkahi umat ini. Ayo, kita bersatu agar kita kuat..

Kodham Media : Inilah Cara Mendidik Anak Dengan Cinta

[Kajian Ahad Pagi Pekan ke-4, Kajian Ketahanan Keluarga]

Assalaamu’alaykum Wr Wb

✨ Mendidik Anak dengan Cinta ✨

Bersama :
👳🏼 Ustadz Bendri Jaisyurrahman
(Penggiat Komunitas @SahabatAyah)

📅 Ahad, 27 Desember 2015
⏰ 07.00-09.00 WIB
🏡 Aula Utama Masjid UI Depok

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang

🌻Hiburan terbaik saat liburan adalah pergi ke taman-taman surga, yaitu ke majelis ilmu, majelis dzikir, karena di dalamnya banyak disebut asma-Nya yg maha Indah.

🌻Saat ini banyak anak tumbuh besar tanpa dididik dengan cinta. Sesungguhnya kalau kita mau melihat ruh islam, yg berhak mengklaim agama kasih dan cinta adalah Islam. Allah SWT sendiri yg menyebutnya, hampir di setiap surat Allah SWT menyebutkan sifat islam yaitu Ar-Rahmah dan Ar-Rahim. Bukan hanya kepada anak, istri, orang tua, ataupun sahabat, melainkan juga kepada seluruh alam, hatta musuh pun juga. Hal ini yang dicontohkan Rasulullah SAW.

🌻Ketika berumah tangga, ajaran mana yg diikuti, ajaran mana yg diajarkan saat anaknya melakukan kesalahan matanya melotot, tangannya menampar, kakinya menendang. Sedangkan Rasulullah saat mendakwahkan agama ini (Islam) memulainya dengan menyentuh hatinya. Sehingga tidak satupun yg tidak mencintai beliau. Rasul memulainya dengan cinta. Ciri orang yg beriman adalah akan ditanamkan rasa kasih sayang ke dalam hatinya.

📜🌻 Islam Agama Cinta dan Kasih Sayang

💎Q. S. Ali-Imran : 159💎

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.

📜Rasulullah dengan sikap lemah lembut, hadir kepada umatnya. Yang kemudian Islam dikenal karena Dai, sang orang tua menampilkan sikap Ar-Rahman-Ar-Rahim.

💎Q. S. Maryam : 96💎

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَٰنُ وُدًّا

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.

💎Q. S. At-Taubah : 128💎

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.

📜Karena sangat memuliakan orang-orang mukmin, sehingga suatu ketika ada yang baru datang dalam majelis ilmu Rasul menyambutnya dengan, “Marhaban ya Thalabal Ilmi”,
Dimana kata Marhaban adalah kata sambutan untuk tamu yg diagungkan.

📜Rasul juga pernah menyambut anak yg baru masuk masjid dengan sambutan Marhaban, hal ini dikarenakan Rasul ingin menunjukkan bahwa beliau sangat memuliakan anak kecil, sangat mencintai mereka. Anak adalah tunas peradaban, calon generasi penerus, yang nantinya akan menjadi mujahid hebat, maka dari itu Rasulullah SAW menyambutnya dengan penuh cinta.

💎Barang siapa tidak menyayangi manusia, maka Allah tidak akan menyayanginya.
[HR.Muslim]

💎Sesungguhnya Allah akan menyayangi hamba-hamba-Nya yang penyayang.
[HR. Bukhari Muslim]

💎Sungguh, segala sesuatu yg dihiasi kelembutan akan nampak indah. Sebaliknya, tanpa kelembutan segala sesuatu akan nampak jelek.
[HR. Muslim No. 2594]

📜🌻Ciri seorang anak yg dididik dengan cinta :
🔹Menguatkan self esteem
Karena pada dasarnya seorang anak itu penakut. Melalui cinta, dorongan, dan perhatian orang tua-lah seorang anak menjadi pemberani. Karena orang tua yg bisa menumbuhkan rasa percaya diri pada anak
🔹Gak Caper
Seorang anak yg mendapatkan cinta dari kedua orang tuanya akan menjadi pribadi yg tidak suka caper. Karena apa yg dia butuhkan sudah dia peroleh dari kedua orang tuanya. Namun fenomena anak sekarang suka pakai tato, anting (laki-laki), menjadi cabe2-an, hal ini mengindikasikan kurangnya cinta dan perhatian dari kedua orang tuanya.
🔹Berpikir positif dan optimis
Anak akan selalu mencari celah positif ketika dimarahi. Tidak mudah marah, tersinggung, ataupun sakit hati.
🔹Mudah memaafkan
Karena memori cinta dari kedua orang tuanya telah membuatnya menjadi seorang yg berjiwa pemaaf.
🔹Tak mudah putus asa
🔹Mudah menerima masukan
Tidak mudah tersinggung

📜🌻Ciri anak yg kurang mendapatkan cinta di rumahnya :
🔹Penakut
🔹Ekspresinya minimalis
🔹Tidak berani menatap lawan bicara ketika sedang berbicara

📜🌻Kebutuhan Anak Akan Cinta

📜Anak yg dibesarkan dengan cinta, akan mudah memaafkan orang lain. Karena lautan cintanya lebih banyak daripada garamnya. Sehingga sedikit garam yg dimasukkan tidak memberikan rasa asin. Namun berbeda halnya dengan seorang anak yg dibesarkan tidak dengan cinta, dia akan tumbuh menjadi pribadi yg tempramental, mudah tersinggung, ibarat segelas air yg diberi satu sendok garam, asin itu akan terasa. Maka kita berhak belajar dari Rasul, yaitu dengan cinta dan kasih sayang.

📜🌻Belajar dari Yusuf AS :

Seseorang dikatakan tangguh, apabila mampu menghadapi ujian dalam 3 hal (Merujuk kisah Yusuf AS) :
1⃣Ujian dalam situasi sulit, yaitu ketika hampir dibunuh oleh saudara kandungnya, karena merasa iri. Saudaranya cemburu karena Yusuf AS paling disayangi oleh ayahnya.
2⃣Ujian syahwat, yaitu ketika digoda oleh Zulaikhah
3⃣Ujian kemarahan, saat bertemu kembali dengan saudaranya, yang dulu pernah ingin membunuhnya, namun beliau tidak membalas dan mencacinya. Hal ini menunjukkan kematangan emosional.

🌻Yusuf AS :
🔹Mampu menguasai dendam yg ada dalam jiwanya kepada yg mendzaliminya. Yusuf AS tidak membalas apa yg dulu diperlakukan oleh saudaranya, menahan diri dari memaki saudaranya yg dulu pernah menyakitinya. Yusuf mampu melewati ini. Dan ini hanya dimiliki oleh seorang yg memiliki kematangan emosional yg baik.
💎Q. S. Yusuf : 92💎

قَالَ لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ ۖ يَغْفِرُ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

Dia (Yusuf) berkata: “Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang diantara para penyayang”.
🔹Cinta dan kasih sayang yg berlimpah di masa kecil menjadikan anak memiliki pribadi yg positive thinking, positive feeling, dan mudah memaafkan.

💖Pribadi yg penuh dengan cinta maka akan memiliki jiwa yg pemaaf. Karena Allah menyandingkan Ghafur dengan Rahiim, itu artinya orang-orang yang memiliki jiwa pemaaf itu adalah seorang yang penyayang 🙂
Hanya yg penyayang yang mudah memaafkan.

📜Yusuf AS mendapatkan cinta dari Yaqub, dari kecil diperlakukan dengan istimewa.

📜Seorang yg negative thinking, dendaman, suka mencaci, karena kekurangan cinta di masa kecilnya.

📜🌻Cinta bermula dari Persepsi
🔹Bukan sekedar mencintai, namun sang anak juga merasakan cinta dari orang tua melalui perbuatan, perilaku, dan sikap orang tua kepada sang anak
🔹Saudara dari yusuf tumbuh menjadi pendendam, karena menganggap ayahnya hanya cinta kepada Yusuf.
💎Q. S. Yusuf : 08💎

إِذْ قَالُوا لَيُوسُفُ وَأَخُوهُ أَحَبُّ إِلَىٰ أَبِينَا مِنَّا وَنَحْنُ عُصْبَةٌ إِنَّ أَبَانَا لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

(Yaitu) ketika mereka berkata: “Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya (Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah kita dari pada kita sendiri, padahal kita (ini) adalah satu golongan (yang kuat). Sesungguhnya ayah kita adalah dalam kekeliruan yang nyata.

📜🌻Bentuk Cinta yg Diharapkan Anak :
1⃣ Ucapan cinta
🌻Dari Usamah bin Zaid : Dahulu Rasulullah SAW pernah mengambilku dan mendudukanku di atas pahanya dan mendudukkan Al-Hasan bin Ali diatas sebelah paha yg lain, kemudian beliau memeluk kami berdua lalu berdoa: ya Allah sayangilah keduanya, karena sesungguhnya aku menyayangi kedunya.
[HR. Bukhari]

📜Teriakan kepada seorang anak akan mengakibatkan :
🔹10.000 sel otak mati
🔹 Short term memory-nya rusak

📜Berkata yg baik kepada anak dan lembut  karena kata yg baik adalah sedekah.

💎Q. S. Al-Waqiah : 25💎

لَا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْوًا وَلَا تَأْثِيمًا

Mereka tidak mendengar di dalamnya perkataan yang sia-sia dan tidak pula perkataan yang menimbulkan dosa,

📜Memberikan senyuman dan berwajah cerah
🌻Jangan sekali-kali engkau meremahkan perkara kebaikan walaupun hanya berwajah cerah ketika engkau bertemu dengan saudaramu.
[HR. Muslim]

2⃣ Ciuman dan pelukan kasih sayang
🌻Dari Abu Hurairah ra : ia berkata bahwa Aqra’ bin Habis pernah melihat Nabi SAW sedang mencium Hasan. Dia (Aqra bin Habis ) lalu berkata : Sesungguhnya aku mempunyai sepuluh orang anak namun aku tidak pernah mencium satupun dari mereka. Kemudian Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya barang siapa yg tidak menyayangi maka dia tidak akan disayangi.”
[HR. Muslim]

3⃣ Bermain bersama
Dari Abdullah bin Al-Harist, dia berkata,”Rasulullah SAW membariskan Abdullah, Ubaidillah dan Katsir bin Al-Abbas, yang semuanya masih kecil-kecil, lalu bersabda, “Siapa yg lebih dahulu dapat memegangku, maka dia akan mendapatkan hadiah begini dan begitu.” Maka mereka bertiga berlomba untuk dapat memegamg beliau. Di antara mereka ada yg dapat memegang punggung dan ada yg memegang dada, lalu beliau memeluk mereka.
[HR. Ahmad]

4⃣ Hadir di waktu berharga anak
🔹 Saat sedih
🔹 Sakit
🔹 Unjuk prestasi
🌻Nabi SAW pernah melewati sekelompok Bani Aslam yang berlomba memanah. Lalu beliau bersabda “Memanahlah kalian wahai anak keturunan Ismail, karena sungguh ayah kalian adalah seorang pemanah.”
[HR. Bukhari]

5⃣ Memberi hadiah
– Tahaduu Tahabbuu
🌻Saling menghadiahilah kalian niscaya kalian akan saling mencintai.”
[HR. Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 594]

– Memberi hadiah tanpa syarat, lebih berkesan. Sehingga anak akan merasa disayangi.

6⃣ Memberikan rahasia
7⃣ Doa
Karena doa adalah sejatinya cinta

🌻Tiga doa yg mustajab yg tidak diragukan lagi yaitu doa orang tua, doa orang yg bepergian (safar), dan doa orang yg dizalimi.
[HR. Abu Daud]

🌻Tiga doa yg tidak tertolak yaitu doa orang tua, doa orang yg berpuasa, dan seorang musafir.
[HR. Al-Baihaqi dalam sunan Al-Kubro]

📜Hikmah berdoa di depan anak :
🔹Mengajarkan tauhid, bahwa sandaran permohonan hanya kepada Allah SWT
🔹Mengajarkan kepedulian
🔹Memberitahukan harapan

Kalau kita sudah memberikan cinta, maka ketika anak dewasa tidak akan membangkang kepada kita. Anak akan menyadari ketika kita marah, dan akan berusaha untuk tidak mengecewakan kita lagi.

Wallahu a’lam bishshawab

✨Karena kami tidak sekedar memberi informasi tapi senantiasa untuk selalu menginspirasi😄

Wassalaamu’alaykum Wr Wb

🌏 : mesjidui.ui.ac.id
📹 : bit.ly/mesjidui
🐤 : @masjidUI

-mari sebarkan-

INILAH AKIBAT TIDAK SERIUS DALAM TILAWAH

📖 📖 📖
AKIBAT TIDAK SERIUS MELAKUKAN TILAWAH 

Ust  :  Abdul Aziz Abdur Rauf,Lc

🚨 Sedikitnya BAROKAH  DAKWAH  atau AMAL JIHADI  kita dan menjadi indikasi lemahnya hubungan kita sebagai jundi  kepada  ALLAH SWT.

Boleh jadi  BANYAK PRODUKTIVITAS DAKWAH DAN AMAL JIHADI, tetapi semua keberhasilan itu justru dikhawatirkan berdampak pada hal-hal yang  tidak kita inginkan.

🚨Kemungkinan lainnya-bahkan lebih besar- adalah tertundanya PERTOLONGAN ALLAH SWT dalam AMAL JIHADI kita.

Jika Jihad Salafush Shalih saja tertunda kemenangannya  hanya karena meninggalkan sunah bersiwak,apalagi jika meninggalkan  amal yang bobotnya  jauh lebih besar  dari itu? Oleh karena itu,interaksi dengan AL QUR’AN selalu disinggung  dalam ayat-ayat jihad,seperti di surat al anfal  dan al qital   (Muhammad)

🚨Semakin jauhnya ASHSHALAH (orisinalitas) dakwah.

Sejak awal dakwah ini dikumandangkan, semangatnya adalah DAKWAH BIL QUR’AN, jika interaksi  kita sendiri bersama Al Qur’an  sangat Lemah, bahkan tidak mencapai tingkat interaksi yang minim seperti  sekedar  tilawah  1Juz  perhari ?

🚨Semakin jauh dakwah yang memiliki  JAWWUL  ‘ILMI   (nuansa  ilmu)

Padahal Hakekat  Dakwah adalah meningkatkan kualitas keilmuan  umat yang sumber  utamanya  AL QUR’AN.
Minimnya  pengetahuan Al Qur’an  kita akan berdampak pada lemahnya  bobot  ilmu dinniyah  kita.
Seandainya  setiap kita BER-ILTIZAM  dengan manhaj  tarbiyyah  yang sudah ada pasti  kita akan mendapati  potret  Harokah  Dakwah yang jauh lebih cantik  dan lebih ilmiah.

🚨Semakin jauhnya  dakwah dari shalatul  manhaj.

Bacalah semua kitab yang menjelaskan  dakwah ini,wa bil  khusus  MAJMU’ATUR  RASA’IL ,  Pasti kita dapatkan begitu kentalnya  dakwah ini  memberi  perhatian  pada INTERAKSI  BERSAMA AL QUR’AN.

📝diambil  dari buku “Tarbiyah  Syakhsiyah  Qur’aniyah

Diposting kembali oleh M. Lukmanul Hakim
kodham.WordPress.com
Kodham.org