INILAH JAWABAN KENAPA ORANG BERTERIAK KETIKA MARAH

Kenapa Orang Berteriak Ketika Marah?

Seorang Syeikh berjalan dengan para muridnya, mereka  melihat ada sebuah keluarga yang sedang bertengkar, dan saling berteriak.

Syeikh tersebut berpaling kepada muridnya dan bertanya : “Mengapa orang saling berteriak jika mereka sedang marah?”.

Salah satu murid menjawab : “Karena kehilangan sabar, makanya mereka  berteriak.”

“Tetapi , mengapa harus berteriak kepada orang yang tepat berada di sebelahnya?
Bukankah pesan yang ia sampaikan , bisa ia ucapkan dengan cara halus ?”. Tanya sang Syeikh menguji murid2nya.

Muridnya pun saling beradu jawaban, namun tidak satupun jawaban yang mereka sepakati.

Akhirnya sang Syeikh  berkata : “Bila dua orang sedang marah, maka hati mereka saling menjauh. Untuk dapat menempuh jarak yang jauh itu, mereka harus berteriak agar perkataannya dapat terdengar. Semakin marah, maka akan semakin keras teriakannya.  Karena jarak kedua hati semakin jauh”. 

“Begitu juga sebaliknya , di saat kedua insan saling jatuh cinta?” lanjut sang Syeikh.

“Mereka tidak saling berteriak antara yang satu dengan yang  lain. Mereka berbicara lembut karena hati mereka berdekatan. Jarak antara ke 2 hati sangat dekat.”

“Bila mereka semakin lagi saling mencintai, apa yang terjadi?”, Mereka tidak lagi bicara. Mereka Hanya berbisik dan saling mendekat dalam kasih-sayang. Pada Akhirnya , mereka bahkan tidak perlu lagi berbisik. Mereka cukup hanya dengan saling memandang. Itu saja. Sedekat itulah dua insan yang saling mengasihi.”

Sang Syeikh memandangi muridnya dan mengingatkan dengan lembut : “Jika terjadi pertengkaran diantara kalian, jangan biarkan hati kalian menjauh. Jangan ucapkan perkataan yang membuat hati kian menjauh. Karena jika kita biarkan, suatu hari jaraknya tidak akan lagi bisa ditempuh”….

Advertisements

Berpolitik Dalam Islam, Bolehkah?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

🍃🌷Kenapa dan Bagaimana? Serta Jawabannya🌷🍃

Ikhwah fillah …

Mungkin masih ada di antara kita bertanya kenapa   berpolitik.

Jawabannya adalah ….

✔ Karena politik juga ditempuh para nabi ‘Alaihimussalam.

Rasulullah  ﷺ telah bersabda:
كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمْ الْأَنْبِيَاءُ
“Adalah Bani Israil, dahulu mereka di-siyasah-kan oleh para nabi.” (HR. Bukhari No. 3268 dan Muslim No.1842)

Maka, berpolitik adalah jalannya para nabi  sebagaimana da’wah dan jihad.

✔Karena politik itu melayani

Imam An Nawawi Rahimahullah menjelaskan: “Yaitu: mereka (para nabi) mengurus urusan mereka (Bani Israil) sebagaimana yang dilakukan para pemimpin (umara’) dan penguasa terhadap rakyatnya.    (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 6/316)

✔ Karena prinsip politik yang hakiki itu mengajak kepada kebaikan dan menjauhi kerusakan

Imam Ibnu ‘Aqil Al Hambali Rahimahullah menjelaskan:

السِّيَاسَةُ مَا كَانَ مِنْ الْأَفْعَالِ بِحَيْثُ يَكُونُ النَّاسُ مَعَهُ أَقْرَبَ إلَى الصَّلَاحِ وَأَبْعَدَ عَنْ الْفَسَادِ

“As Siyaasah (politik) adalah aktifitas yang memang  melahirkan maslahat bagi manusia dan menjauhkannya dari kerusakan (Al fasad).” (I’lamul Muwaqi’in, 6/26)

✔Karena hakikatnya politik adalah salah satu wujud keadilan Allah dan RasulNya

Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah menjelaskan:

وَنَحْنُ نُسَمِّيهَا سِيَاسَةً تَبَعًا لِمُصْطَلَحِهِمْ ، وَإِنَّمَا هِيَ عَدْلُ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ، ظَهَرَ بِهَذِهِ الْأَمَارَاتِ وَالْعَلَامَاتِ .

“Kami menamakannya dengan politik karena mengikuti istilah yang mereka buat. Padahal itu adalah keadilan Allah dan RasulNya, yang ditampakkan tanda-tandanya melalui politik.”  (Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyah, Ath Thuruq Al Hukmiyah, Hal. 18. Mathba’ah Al Madani. Tahqiq: Muhammad Jamil Ghazi)

Ikhwah fillah ……

Mungkin ada di antara kita bertanya, kenapa kita ikut dalam kompetisi perebutan kekuasaan?

Jawabannya adalah:

✔ Karena agama dan kekuasaan adalah saudara kembar, maka satukanlah!

Hujjatul Islam, Imam Al Ghazali Rahimahullah menjelaskan:

“Sesungguhnya dunia adalah ladang bagi akhirat, tidaklah sempurna agama kecuali dengan dunia. Kekuasaan dan agama adalah saudara kembar; agama merupakan  pondasi dan penguasa adalah penjaganya. Apa saja yang tidak memiliki pondasi akan hancur, dan apa saja yang tidak memiliki penjaga akan hilang. Dan tidaklah sempurna kekuasaan dan hukum kecuali dengan adanya pemimpin.” (Imam Al Ghazali, Ihya ‘Ulumuddin, 1/17. Mawqi’ Al Warraq) 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahulkah menjelaskan:

            “Wajib diketahui bahwa kepemimpinan yang mengurus urusan manusia termasuk kewajiban agama yang paling besar, bahkan agama dan dunia tidaklah tegak kecuali dengannya. Segala kemaslahatan manusia tidaklah sempurna kecuali dengan memadukan antara keduanya,  di mana satu sama lain saling menguatkan. Dalam perkumpulan seperti inilah diwajibkan adanya kepemimpinan, sampai-sampai Nabi  ﷺ mengatakan: “Jika tiga orang keluar bepergian maka hendaknya salah seorang mereka menjadi pemimpinnya.” Diriwayatkan Abu Daud dari Abu Said dan Abu Hurairah.   (As Siyasah Asy Syar’iyyah, 169. Mawqi’ Al Islam)

✔ Karena kekuasaan merupakan alat pukul nahi munkar yang sangat efektif

Utsman bin ‘Affan Radhiallahu ‘Anhu menjelaskan:

إن الله ليزع بالسلطان ما لا يزع بالقرآن

“Sesungguhnya Allah ﷻ memberikan wewenang kepada penguasa untuk menghilangkan   sesuatu (kemungkaran) yang  tidak bisa dihilangkan oleh Al Quran.” (Imam Ibnu Katsir, Al Bidayah wan Nihayah, 2/12. Dar Ihya At Turats) 

Kita akui dan melihat adanya manusia atau kemungkaran yang tidak bisa berubah menuju baik, dengan hanya petuah, nasihat, dan bimbingan Kitabullah. Mereka baru dapat diubah dengan kekuatan dan wewenang penguasa dan kekuasaan, berupa aparat dan peraturan.

Seribu khutbah khatib Jumat yang berkhutbah tentang khamr, belum tentu  dalam waktu dekat mampu menghilangkan khamr. Bandingkan dengan tanda tangan satu orang penguasa (cth: wali kota, bupati, gubernur) yang mengatur peredaran khamr, yang dilengkapi hukuman bagi para pelanggarnya.

Inilah kekuasaan, dia bisa memaksa, berbeda dengan nasihat ulama yang tugasnya: fadzakkir innama anta mudzakkir lasta ‘alaihim bimushaythir – “Berikanlah peringatakan, sesungguhnya tugasmu hanya memberi peringatakan, kamu tidak ada kuasa memaksa mereka.”

Ikhwah fillah ….

Mungkin ada di antara kita bertanya, bukankah kita para da’i ilallah, apakah tidak mengapa meminta-minta jabatan dan kekuasaan?

Jawabannya adalah:

Ya, Karena hal itu tidak mengapa  jika dia punya kecakapan dan kelayakan, bukankah kita berdoa kepada Allah ﷻ : waj’alnaa lil muttaqiina imaama – dan jadikanlah kami sebagai PEMIMPIN bagi orang-orang bertaqwa. Bukankah kita sering memintanya kepada Allah ﷻ ?

✔Karena Nabi ﷺ tidak melarang seseorang minta jabatan kepemimpinan jika dia pantas.

Utsman bin Abu Al ‘Ash Radhiallahu ‘Anhu  berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ اجْعَلْنِي إِمَامَ قَوْمِي قَالَ أَنْتَ إِمَامُهُمْ وَاقْتَدِ بِأَضْعَفِهِمْ وَاتَّخِذْ مُؤَذِّنًا لَا يَأْخُذُ عَلَى أَذَانِهِ أَجْرًا

Wahai Rasulullah jadikanlah aku sebagai pemimpin bagi kaumku! Beliau bersabda: “Engkau adalah pemimpin bagi mereka, perhatikanlah orang yang paling lemah di antara mereka, dan angkatkah seorang muadzin dan jangan upah dia karena azannya.” (HR. Abu Daud No. 531, Ahmad No. 17906, Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Kabir No. 8365, An Nasa’i dalam As Sunan Al Kubra No. 1636, Al Hakim No. 715, katanya: shahih sesuai syarat Imam Muslim. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: shahih. Ta’liq Musnad Ahmad No. 17906)

✔Karena para ulama pun tidak memandang itu sebagai perbuatan terlarang demi maslahat yang syar’i

Imam Abul Hasan Al Mawardi Rahimahullah  berkata:

“Sebagian fuqaha mengatakan bahwa memperebutkan jabatan kepepimpinan tidaklah tercela dan  terlarang, dan mengincar jabatan imamah bukan suatu yang dibenci.” (Al Ahkam As Sulthaniyah, Hal. 7)

Imam Ash Shan’ani  Rahimahullah mengomentari:

Hadits ini menunjukkan kebolehan meminta jabatan kepemimpinan dalam kebaikan. Telah ada di antara doa-doa para ibadurrahman, di mana Allahq Ta’ala mensifati mereka dengan sifat tersebut,  bahwa mereka berkata (Dan jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang bertaqwa), dan   meminta jabatan itu bukanlah merupakan hal yang dibenci. (Subulus Salam, 1/128)

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz Rahimahullah  berkata:

“Beliau (Utsman) Radhiallahu ‘Anhu meminta jabatan sebagai pemimpin karena pertimbangan maslahat syar’i, dalam rangka mengantarkan manusia kepada kebaikan, mengajarkan mereka, dan memerintahkan yang baik, dan mencegah kemungkaran, sebagaimana yang dilakukan Yusuf ‘Alaihissalam .

Berkata para ulama: bahwasanya meminta jabatan adalah perkara yang terlarang, jika memang tidak ada keperluan untuk itu karena hal itu berbahaya sebagaimana diterangkan dalam hadits yang menyebutkannya. Tetapi jika karena didorong oleh keperluan dan maslahat yang syar’i untuk memintanya maka hal itu dibolehkan, berdasarkan kisah Nabi Yusuf ‘Alaihissalam dan hadits ‘Utsman (bin Abu Al ‘Ash) Radhiallahu ‘Anhu tersebut. (Majmu’ Fatawa Ibni Baaz, 7/232)

Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr  Hafizhahullah: 

Maka, bolehkah meminta menjadi seorang pemimpin? Jawabannya: jika hal itu membawa kepada maslahat tidaklah apa-apa, karena kepemimpinan adalah termasuk qurbah (mendekatkan diri kepada Allah ﷻ) dan ibadah. (Syarh Sunan Abi Daud, 3/404)

✔ Karena larangan meminta jabatan berlaku bagi yang lemah seperti kasus Abu Dzar Al Ghifari Radhiallahu ‘Anhu, juga karena ketamakkan, dan ada orang yang dikecualikan dari larangan tersebut

Abu Dzar  Radhiallahu ‘Anhu berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَا تَسْتَعْمِلُنِي قَالَ فَضَرَبَ بِيَدِهِ عَلَى مَنْكِبِي ثُمَّ قَالَ يَا أَبَا ذَرٍّ إِنَّكَ ضَعِيفٌ وَإِنَّهَا أَمَانَةُ وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ إِلَّا مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ فِيهَا

Wahai Rasulullah, tidakkah engkau memperkerjakan aku? Lalu dia menepuk tangannya ke pundakku, lalu bersabda: “Wahai Abu Dzar, kamu ini lemah, sedangkan tugas itu adalah amanah, dan pada hari kiamat hal itu akan menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang  mengambilnya sesuai haknya dan menjalankannya dengan baik.” (HR. Muslim No. 1725)

Hadits ini menunjukkan sebab larangan meminta jabatan, yakni kelemahan dari Abu Dzar Al Ghifari Radhiallahu ‘Anhu. Kelemahan itu dapat membuat seseorang tidak mampu menjalankan amanahnya sehingga akan membawa malapetaka dan penyesalan di akhirat. Sehingga larangan ini adalah khusus bagi mereka yang lemah. Ada pun bagi yang mampu menjalankan dengan baik dan sesuai haknya, maka ini diluar larangan tersebut dan tidak akan mengalami penyesalan yang dimaksud. Oleh karenanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan: “ …  kecuali bagi orang yang  mengambilnya sesuai haknya dan menjalankannya dengan baik.”

Pengecualian ini harus diperhatikan, jangan hanya melihat larangannya saja. Namun, di sisi lain pengecualian ini juga menunjukkan betapa hanya sedikit manusia yang mampu menjalankannya, sehingga dia dijadikan pengecualian, dan biasanya pengecualian selalu lebih sedikit dibanding umumnya.

Imam Abu Ja’far Ath Thahawi Rahimahullah   mengatakan:

Dan “dikecualikan bagi yang mengambilnya sesuai haknya dan menjalankannya dengan baik”, bahwasanya siapa saja yang seperti itu maka dia bukanlah termasuk yang dilarang dan bukan termasuk yang dibenci, sesungguhnya dibencinya itu adalah jika melekat padanya ketamakan untuk meminta jabatannya itu. (Bayan Musykil Al Aatsar, 1/26)

Imam An Nawawi Rahimahullah menjelaskan bahwa  penyesalan yang dihasilkan dari jabatan pada hari kiamat nanti adalah besar, tetapi pahalanya juga besar bagi yang benar menjalankannya. Beliau mengatakan:

“Hadits ini merupakan dasar yang agung dalam hal menjauhi dari jabatan kepemimpinan, apalagi bagi mereka yang lemah dalam menjalankan tugas-tugas kepemimpinan itu. Ada pun kehinaan dan penyesalan itu adalah hak bagi siapa yang bukan ahlinya (tidak memiliki kapasitas, pen), atau dia ahli tapi tidak menjalankannya secara adil, maka Allah  ﷺ akan membuatnya hina pada hari kiamat, dan akan membuka kejelekannya serta menyesali atas apa yang dia lalaikan. Sedangkan bagi orang yang ahli dan adil, maka baginya keutamaan yang agung,  seperti yang nampak dalam berbagai hadits shahih seperti hadits tujuh golongan manusia yang akan Allah  ﷻ  berikan naungan kepada mereka.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 12/211)

Ikhwah fillah …

Mungkin di antara kita ada yang bertanya, bagaimana kalau perjuangan politik kita gagal atau orang yang kita pilih melakukan penyimpangan?

Jawabannya:

✔  Terkadang kita melihat ada individu yang terseok-seok dalam menjalankan tugas-tugas publiknya, dia tidak mampu menghadapi ‘dunia  baru’ yang sebelumnya justru dia jauhi yakni pemerintahan ‘thaghut’. Namun akhirnya dia tenggelam dalam kesalahan baik yang prinsip atau partikular, baik kesalahan moralitas atau pemikiran. Kasus-kasus yang sifatnya perorangan ini tidak bisa dijadikan alasan melarang  atau menarik diri dari partisipasi politik yang lebih bermaslahat umum, sebab jika ternyata secara global dan lebih luas justru lebih mendatangkan maslahat yang langsung dirasakan masyarakat, maka tidak cukup alasan untuk menghentikan  partisipasi ini. Sebab kasus tersebut adalah akibat kelemahan individu itu sendiri.

Syaikh Ahmad Ar Raisuni Hafizhahullah menjelaskan:

“Sebenarnya adanya tantangan dan kesulitan adalah realita saat ini dan masa lalu. Itu semua bukan alasan bagi kita, itu adalah alasan bagi orang-orang yang lemah dan semisal mereka yang telah melakukan penyimpangan. Penyimpangan personal yang mereka lakukan merupakan bukti kelemahan pribadi yang bersangkutan, dan itu bukan berarti tidak ada lagi dari umat ini yang berhasil dalam partisipasi politiknya. Orang yang baik tidak hanya berfikir dua kemungkinan dalam berpolitik: gagal lalu keluar atau larut dalam penyimpangan. Di dalam umat dan jamaah ini pasti ada tambang berharga yang mampu berhasil dalam partisipasi politiknya. Kita saling tolong menolong dalam barisan  yang solid dan kokoh dalam rangka terus mewujudkan keberhasilan  partisiapasi dalam politik ini.”
(Lihat teks aslinya dalam http://www.raissouni.org/Docs/155200710648AM.doc)

Di atas semuanya adalah Ridha Allah dan SurgaNya. Jangan sampai target kemenangan politik sebagai penghalang tujuan tertinggi dan mulia. Sebab yang kita inginkan adalah keberkahan dan curahan rahmatNya, maka jalankanlah perjuangan dengan cara-cara yang mulia dan tetap dalam koridor syariatNya yang suci.

Wallahu

Apakah shalat ied bisa menggantikan shalat dhuha?

Tanya Jawab Seputar Dhuha
Bersama Ust. Lukman
Pendiri Komunitas Dhuha Ummat (KODHAM)

Tanya :
Assalamu’alaikum Ustad, pada hari raya idul fitri dan idul adha itu ada shalat ied, apakah shalat dhuha tidak perlu dikerjakan karena sudah ada shalat ied yg waktunya sama? Jika dikerjakan, mana lebih afdhol  shalat dhuha dulu baru shalat ied atau sebaliknya?
Mohon pencerahannya.

Jawab :
Waalaikum salam warohmatullahi wabarokatuh

Sebenarnya shalat ied dgn shalat sunnah lain tdk saling menggugurkan.
Saya belum menemukan dalil naqlinya.  Kecuali ied di hari jumat, maka boleh tdk melakukan shalat jumat tapi wajib melaksanskan shalat zhuhur.
Adapun baiknya shalat dhuha dilaksanakan setelah shalat ied. Karena shalat ied dilakukan saat matahari terbit, sedangkan shalat dhuha ketika matahari terbit naik sktr 1 hasta.

Wallahu a’lam bish showab…

100 Keutamaan Rasulullah SAW

100 Keutamaan Rasulullah Saw

Imam Shadiq berkata, “Saya tidak ingin seseorang meninggal dunia sementara ia belum mengetahui sebagian perilaku Rasulullah Saw.”

1. Ketika berjalan, beliau berjalan secara pelan-pelan dan wibawa.

2. Ketika berjalan, beliau tidak menyeret langkah kakinya.

3. Pandangan beliau selalu mengarah ke bawah.

4. Beliau senantiasa mengawali salam kepada siapa saja yang dilihatnya… tidak ada seorangpun yang mendahuluinya dalam mengucapkan salam.

5. Ketika menjabat tangan seseorang, beliau tidak pernah melepaskannya terlebih dahulu.

6. Beliau bergaul dengan masyarakat sedemikian rupa sehingga setiap orang berpikir bahwa dirinya adalah satu-satunya orang yang paling mulia di mata Rasulullah.

7. Bila memandang seseorang, beliau tidak memandang sinis bak pejabat pemerintah.

8. Beliau tidak pernah memelototi wajah seseorang.

9. Beliau senantiasa menggunakan tangan saat mengiyaratkan sesuatu dan tidak pernah mengisyaratkan dengan mata atau alis.

10. Beliau lebih banyak diam dan baru akan berbicara bila perlu.

11. Saat bercakap-cakap dengan seseorang, beliau mendengarkan dengan baik.

12. Senantiasa menghadap kepada orang yang berbicara dengannya.

13. Tidak pernah berdiri terlebih dahulu selama orang yang duduk bersamanya tidak ingin berdiri.

14. Tidak akan duduk dan berdiri dalam sebuah pertemuan melainkan dengan mengingat Allah.

15. Ketika masuk ke dalam sebuah pertemuan, beliau senantiasa duduk di tempat yang akhir dan dekat pintu, bukan di bagian depan.

16. Tidak menentukan satu tempat khusus untuk dirinya dan bahkan melarangnya.

17. Tidak pernah bersandar saat di hadapan masyarakat.

18. Kebanyakan duduknya menghadap kiblat.

19. Bila di hadapannya terjadi sesuatu yang tidak disukainya, beliau senantiasa mengabaikannya.

20. Bila seseorang melakukan kesalahan, beliau tidak pernah menyampaikannya kepada orang lain.

21. Tidak pernah mencela seseorang yang mengalami kesalahan bicara.

22. Tidak pernah berdebat dan berselisih dengan siapapun.

23. Tidak pernah memotong pembicaraan orang lain kecuali bila orang tersebut bicara sia-sia dan batil.

24. Senantiasa mengulang-ulangan jawabanya atas sebuah pertanyaan agar jawabannya tidak membingungkan pendengarnya.

25. Bila mendengar ucapan yang tidak baik dari seseorang, beliau tidak mengatakan mengapa si fulan berkata demikian, tapi beliau mengatakan, bagaimana mungkin sebagian orang mengatakan demikian?”

26. Banyak bergaul dengan fakir miskin dan makan bersama mereka.

27. Menerima undangan para abdi dan budak.

28. Senantiasa menerima hadiah, meski hanya seteguk susu.

29. Melakukan silaturahmi lebih dari yang lain.

30. Senantiasa berbuat baik kepada keluarganya tapi tidak melebihkan mereka dari yang lain.

31. Senantiasa memuji dan mendukung pekerjaan yang baik dan menilai buruk dan melarang perbuatan yang jelek.

32. Senantiasa menyampaikan hal-hal yang menyebabkan kebaikan agama dan dunia masyarakat kepada mereka dan berkali-kali mengatakan, “Orang-orang yang hadir hendaknya menyampaikan segala yang didengarnya kepada orang-orang yang tidak hadir.”

33. Senantiasa menerima uzur orang-orang yang punya uzur.

34. Tidak pernah merendahkan seseorang.

35. Tidak pernah memaki atau memanggil seseorang dengan gelar yang jelek.

36. Tidak pernah mengutuk orang-orang sekitar dan familinya.

37. Tidak pernah mencari-cari aib orang lain.

38. Senantiasa menghindari kejahatan masyarakat, namun tidak pernah menghidar dari mereka dan beliau selalu bersikap baik kepada semua orang.

39. Tidak pernah mencaci masyarakat dan tidak banyak memuji mereka.

40. Senantiasa bersabar menghadapi kekurangajaran orang lain dan membalas kejelekan mereka dengan kebaikan.

41. Selalu menjenguk orang yang sakit, meski tempat tinggalnya dipinggiran Madinah yang sangat jauh.

42. Senantiasa menanyakan kabar dan keadaan para sahabatnya.

43. Senantiasa memanggil nama sahabat-sahabatnya dengan panggilan yang terbaik.

44. Sering bermusyawarah dengan para sahabatnya dan menekankan untuk melakukannya.

45. Senantiasa duduk melingkar bersama para sahabatnya, sehingga bila ada orang yang baru datang, ia tidak bisa membedakan di antara mereka yang manakah Rasulullah.

46. Akrab dan dekat dengan para sahabatnya.

47. Beliau adalah orang yang paling setia dalam menepati janji.

48. Senantiasa memberikan sesuatu kepada fakir miskin dengan tangannya sendiri dan tidak pernah mewakilkannya kepada orang lain.

49. Bila sedang dalam shalat ada orang datang, beliau memendekkan shalatnya.

50. Bila sedang shalat ada anak kecil menangis, beliau memendekkan shalatnya.

51. Orang yang paling mulia di sisi beliau adalah orang yang paling banyak berbuat baik kepada orang lain.

52. Tidak ada seorangpun yang putus asa dari Rasulullah Saw. Beliau selalu mengatakan, “Sampaikan kebutuhan orang yang tidak bisa menyampaikan kebutuhannya kepada saya!”

53. Bila ada seseorang membutuhkan sesuatu kepada beliau, Rasulullah Saw pasti memenuhinya bila mampu, namun bila tidak mampu beliau menjawabnya dengan ucapan atau janji yang baik.

54. Tidak pernah menolak permintaan seseorang, kecuali permintaan untuk maksiat.

55. Beliau sangat menghormati orang tua dan menyayangi anak-anak.

56. Rasulullah Saw sangat menjaga perasaan orang-orang asing.

57. Beliau selalu menarik perhatian orang-orang jahat dan membuat mereka cenderung kepadanya dengan cara berbuat baik kepada mereka.

58. Beliau senantiasa tersenyum sementara pada saat yang sama beliau sangat takut kepada Allah.

59. Saat gembira, Rasulullah Saw memejamkan kedua matanya dan tidak banyak menunjukkan kegembiraannya.

60. Tertawanya kebanyakan berupa senyuman dan tidak pernah tertawa terbahak-bahak.

61. Beliau banyak bercanda namun tidak pernah mengeluarkan ucapan sia-sia atau batil karena bercanda.

62. Rasulullah Saw mengubah nama yang jelek dengan nama yang baik.

63. Kesabarannya mendahului kemarahannya.

64. Tidak sedih dan marah karena kehilangan dunia.

65. Saat marah karena Allah, tidak seoranpun yang akan mengenalnya.

66. Rasulullah Saw tidak pernah membalas dendam karena dirinya sendiri melainkan bila kebenaran terinjak-injak.

67. Tidak ada sifat yang paling dibenci oleh Rasulullah selain bohong.

68. Dalam kondisi senang atau susah tidak lain hanya menyebut nama Allah.

69. Beliau tidak pernah menyimpan Dirham maupun Dinar.

70. Dalam hal makanan dan pakaian tidak melebihi yang dimiliki oleh para pembantunya.

71. Duduk dan makan di atas tanah.

72. Tidur di atas tanah.

73. Menjahit sendiri pakaian dan sandalnya.

74. Memerah susu dan mengikat sendiri kaki ontanya.

75. Kendaraan apa saja yang siap untuknya, Rasulullah pasti mengendarainya dan tidak ada beda baginya.

76. Kemana saja pergi, beliau selalu beralaskan abanya sendiri.

77. Baju beliau lebih banyak berwarna putih.

78. Bila memakai baju baru, maka baju sebelumny pasti diberikan kepada fakir miskin.

79. Baju kebesarannya khusus dipakai untuk hari Jumat.

80. Ketika memakai baju dan sandal, beliau memulainya dari sebelah kanan.

81. Beliau menilai makruh rambut yang awut-awutan.

82. Senantiasa berbau harum dan kebanyakan pengeluarannya untuk minyak wangi.

83. Senantiasa dalam kondisi memiliki wudu dan setiap mengambil wudu pasti menyikat giginya.

84. Cahaya mata beliau adalah shalat. Beliau merasa menemukan ketenangan dan ketentraman saat shalat.

85. Beliau senantiasa berpuasa pada tanggal 13, 14 dan 15 setiap bulan.

86. Tidak pernah mencaci nikmat sama sekali.

87. Menganggap besar nikmat Allah yang sedikit.

88. Tidak pernah memuji makanan dan tidak juga mencelanya.

89. Memakan makanan apa saja yang dihidangkan kepadanya.

90. Di depan hidangan makanan beliau senantiasa makan makanan yang ada di depannya.

91. Di depan hidangan makanan, beliau yang paling duluan hadir dan paling akhir meninggalkannya.

92. Tidak akan makan sebelum lapar dan akan berhenti dari makan sebelum kenyang.

93. Tidak pernah makan dua model makanan.

94. Ketika makan tidak pernah sendawa.

95. Sebisa mungkin beliau tidak makan sendirian.

96. Mencuci kedua tangan setelah selesai makan kemudian mengusapkannya ke wajah.

97. Ketika minum, beliau meneguknya sebanyak 3 kali. Awalnya baca Bismillah dan akhirnya baca Alhamdulillah.

98. Rasulullah lebih memiliki rasa malu daripada gadis-gadis pingitan.

99. Bila ingin masuk rumah, beliau meminta izin sampai tiga kali.

100. Waktu di dalam rumah, beliau bagi menjadi tiga bagian: satu bagian untuk Allah, satu bagian untuk keluarga dan satu bagian lagi untuk dirinya sendiri. Sedangkan waktu untuk dirinya sendiri beliau bagi dengan masyarakat.

Bagaimana Sedekah Yang Sesuai Syariah?

Tanya-Jawab Syariah

Nara Sumber : Tim Assatid IHQ

Tanya : Asalamu alaikum ..
Ada tetangga saya pernah  bertanya, bagaimana hukumnya jika kita ingin berniat sedekah secara sembunyi-sembunyi, kepada seseorang yang kurang mampu ,, tapi kita mengambil uang suami tanpa sepengetahuannya. mohon penjelasannya Syukron.

🍹Jawab :

🍣 Bersedekahlah dengan cara yang makruf dan kepastian harta kita yg di berikan adalah halal, yang lebih penting bukan sedekah tapi memberi pemahaman kepada suami. Dakwahi keutamaan berbagi ,, Sehingga tidak harus sembunyi-sembunyi dalam memberikan shodaqoh.
Jelasnya ada dlm hadits di bawah ini :

Rasulullah صلى الله عليه وسلم: 

عَنْ أَسْمَاءَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « أَنْفِقِى وَلاَ تُحْصِى فَيُحْصِىَ اللَّهُ عَلَيْكِ ، وَلاَ تُوعِى فَيُوعِىَ اللَّهُ عَلَيْكِ »

Dari Asma’, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepadanya, “Berinfaklah dan jangan dihitung-hitung (sehingga engkau merasa sudah banyak berinfak dan pada akhirnya kau berhenti berinfak). Jika demikian maka ALLAH akan perhitungan denganmu dalam anugrahNya dan jangan kau simpan kelebihan hartanya sehingga ALLAH akan menyimpan (baca: menahan) anugrahNya kepadamu” (HR Bukhari no 2451 dan Muslim no 1029).

🍔 Dalam hadist ini Nabi memerintahkan Asma untuk banyak-banyak berinfak dan Nabi tidak memerintahkannya untuk minta izin terlebih dahulu kepada suaminya yaitu az Zubair. Andai itu sebuah keharusan tentu Nabi akan memerintahkannya.

عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « لاَ يَجُوزُ لاِمْرَأَةٍ أَمْرٌ فِى مَالِهَا إِذَا مَلَكَ زَوْجُهَا عِصْمَتَهَا ».

🍤 Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Tidak boleh bagi seorang perempuan yang bersuami untuk membelanjakan harta pribadinya (tanpa seizin suaminya)” (HR Abu Daud no 3546, Nasai no 3756, Ibnu Majah no 2388 dan dinilai al Albani sebagai hadits hasan shahih).

🍡Hadist ini kita kompromikan dengan hadits-hadits di atas dengan kita katakan bahwa di antara bentuk pergaulan yang baik antara suami dan istri adalah jika seorang istri ingin membelanjakan harta pribadinya untuk membeli sesuatu atau berinfak hendaknya bercerita kepada suaminya terlebih dahulu. Inilah adab yang hendaknya dimiliki oleh seorang istri dan itulah yang terbaik.
Berdasarkan uraian di atas maka istri  boleh shodaqoh  dengan harta pribadi,  meski dengan cara diam-diam dan tanpa sepengetahuan suami namun lebih baik jika istri  bercerita kepada suami tentang apa yang ibu lakukan.

🍧Sedangkan penjelasan mengenai seorang istri yang bersedekah dengan menggunakan uang belanja tanpa seizin suami adalah sebagai berikut. Bahwa uang belanja tersebut pada dasarnya adalah harta suami, seorang istri hanya sebagai pihak yang mengelola harta tersebut, tentu dengan izin sang suami. Para fuqaha` sepakat bahwa seorang istri boleh memberikan sedekah dari harta suaminaya dengan izin yang jelas darinya. Sedangkan jika tanpa izin, menurut jumhurul ulama diperbolehkan sepanjang tidak dilarang sang suami dan jumlahnya sedekahnya sedikit. Hal ini sebagaimana dikemukakan dalam kitab yang sama dengan di atas.  

اتَّفَقَ الْفُقَهَاءُ عَلَى أَنَّهُ يَجُوزُ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَتَصَدَّقَ مِنْ بَيْتِ زَوْجِهَا لِلسَّائِل وَغَيْرِهِ بِمَا أَذِنَ الزَّوْجُ صَرِيحًا . كَمَا يَجُوزُ التَّصَدُّقُ مِنْ مَال الزَّوْجِ بِمَا لَمْ يَأْذَنْ فِيهِ ، وَلَمْ يَنْهَ عَنْهُ إِذَا كَانَ يَسِيرًا عِنْدَ جُمْهُورِ الْفُقَهَاءِ 

🍭“Para fuqaha’ telah sepakat bahwa boleh bagi seorang istri bersedekah dari rumah (harta) suaminya kepada peminta atau selainnya dengan izin yang jelas dari sang suami. Sebagaimana boleh menurut jumhurul ulama bagi seorang istri bersedekah dari harta suaminya dimana sang suami tidak mengizinkan dan tidak melarangnya. Hal ini ketika harta yang disedekahkan itu jumlahnya sedikit.” (Kementrian Wakaf dan Urusan Islam Kuwait, al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, cet-1, Mesir-Dar ash-Shofwah, juz, 36, h. 326).

🍫Dari pemaparan mengenai pandangan jumhurul ulama yang memperbolehkan seorang istri memberikan sedekah dari harta suaminya setidaknya bisa diambil kesimpulan bahwa dalam sedekah tersebut tidak mengganggu kebutuhan primer keluarga seperti kebutuhan suami dan anak. Pihak suami mengetahui bahwa sang istri bersedekah dengan hartanya tetapi mendiamkan saja. Sepanjang hal ini terpenuhi maka tidak menjadi persoalan. Namun jika suami melarang tentunya tidak diperbolehkan.

[Ustadz Suhendi]

والله أعلم بالصواب

Tim Assatidz IHQ🌴

🍓🍋🍓🍋🍓🍋🍓🍋🍓🍋🍓🍋

🍳 Saya mau bertanya
tentang shodaqoh. saya pernah dengar sebaik-baik shodaqoh adalah lebih utama untuk karib kerabatnya terlebih dahulu sebelum ke orang lain … jika disekitar kita ada yang kekurangan mana yang lebih baik untuk kita beri shodaqoh ?? tetangga kita atau tetap sodara yang masih kekurangan walau tempat tinggalnya jauh dari kita?? syukron.

🍩Jawab :

🍱 Benar bunda .. penerima shodaqoh itu sudah
ada tuntunannya dalam syariah ini. sebagaimana yang ALLAH ta’ala katakan dalam firmanNya, yg maknanya adalah :

” Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada ALLAH, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan salat dan menunaikan zakat, serta orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar, dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (Al-Baqarah [2]: 177)

🍰 Dalam ayat di atas  di jelaskan tentang pemberian harta yang disenangi (shodaqoh) seseorang kepada :
🎍kerabat
🎍anak yatim
🎍orang-orang miskin
🎍orang-orang yang dalam perjalanan (musafir)
🎍peminta-minta 
🎍untuk memerdekakan hamba sahaya.

🍟Perihal shodaqoh banyak hadist yang menjelaskan tentang keutamaan pemberian kepada orang yang berhak.  salah satunya di bawah ini :

🍞Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

« دِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى رَقَبَةٍ وَدِينَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِى أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ » .

“Ada dinar yang kamu infakkan di jalan Allah, dinar yang kamu infakkan untuk memerdekakan budak dan dinar yang kamu sedekahkan kepada orang miskin. Namun dinar yang kamu keluarkan untuk keluargamu (anak-isteri) lebih besar pahalanya.” (HR. Muslim)

🍛 Dari sejumlah referensi terutama kitab-kitab tafsir, yang saya baca terkait dengan ayat di atas, saya dapat mencatat dua hal yang patut kita perhatikan dalam mengeluarkan harta kita. 
📂 harta yang kita keluarkan adalah harta yang kita senangi.
Penjelasan ini juga dikuatkan dengan firman ALLAH SWT di dalam surah Âli ‘Imrân, ayat 92.

📂 Kita memberikan harta kepada golongan yang disebutkan didalam ayat tersebut sesuai dengan prioritas yang disebutkan di dalam ayat tersebut. Prioritas yang dimaksud adalah sesuai dengan urutan penyebutan golongan tersebut. Kerabat lebih prioritas daripada anak yatim. Anak yatim lebih prioritas dari pada orang-orang miskin. Orang-orang miskin lebih prioritas daripada musafir. Dan begitu seterusnya. Karena itu, jika kita hendak menyedekahkan harta kita, sejatinya kita merangkingkan golongan yang berhak menerima sedekah yang disebutkan di dalam ayat tersebut sebagai berikut.

✒ Kerabat (yang fakir).
✏Anak yatim (yang fakir).
✒Orang-orang miskin.
✏Musafir.
✒Peminta-minta.
✏(Biaya) untuk memerdekakan hamba sahaya.

🍦Dalam menyalurkan harta, jika memang terbatas, sebaiknya diberikan kepada pihak penerima nomor satu terlebih dahulu, sebelum diberikan kepada pihak penerima nomor dua. Jangan dilongkap! Jika di antara kerabat kita masih ada yang membutuhkan bantuan finansial dari kita, kita harus lebih memerhatikan mereka. Mereka lebih berhak untuk mendapat perhatian dan menerima bantuan kita. Daripada pihak penerima sedekah yang lain. Hal itu karena kita yang lebih bertanggung jawab untuk mengayomi kerabat dan atau keluarga kita daripada orang lain.

🍴Saya rasa sudah jelas, dari jawaban tersebut berikanlah kepada orang yang lebih membutuhkan (skala prioritas sesuai urutanya).

☕ Maksudnya jika saudara bunda orang yang lebih berkecukupan maka boleh Harta shodaqoh diberikan kepada orang lain meskipun jauh lokasinya jika benar-benar membutuhkannya.

[Ustadz Suhendi]

والله أعلم بالصواب

Tim Assatidz IHQ🌴

🍋🍓🍋🍓🍋🍓🍋🍓🍋🍓🍋🍓

Tanya : Bagaimana caranya agar kita bisa hidup produktif dan berkualitas?

🍝 Jawab :

Ukhti penanya yang InsyaaALLAH dirahmati ALLAH …

🍵 Dalam sebuah hadist yang mulia, RasuluLLAH berpesan kepada seluruh umatnya bahwa,

خير الناس انفعهم للناس…

“Sebaik-baik manusia adalah mereka yang bermanfaat untuk orang lain”

🍜 Dengan kata lain, semakin kita bermanfaat untuk orang lain maka derajat “khoirun naas” kita juga akan semakin tinggi, wallahu a’lam.

Tanya : Lalu bagaimana sih caranya agar kita bisa lebih produktif dan bisa bermanfaat untuk orang lain?

Jawab : Tentunya kita ikhlaskan niat kita dalam melakukan sesuatu itu