SOP KODHAM

No          :002/INFO/IV/2015
Tanggal : 17 April 2014
Perihal   : SOP Kodham Revisi 1
Tujuan    : Kormin, Admin, dan seluruh anggota Kodham

###########################

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Judul : SOP Komunitas Dhuha Ummat
Revisi: 01
Tanggal Terbit: 17 April 2015

A. Pengertian

Mengatur mekanisme pembagian grup, pembagian anggota, proses dalam group KODHAM dan tugas serta tanggung jawab admin, Penanggung Jawab Harian (PJH), PJ Unit, dan anggota dalam group.

B. Tujuan

1. Menjadi panduan yang jelas bagi admin dan anggota KODHAM
2. Menciptakan keseragaman aturan di semua grup KODHAM
3. Memberikan kenyamanan bagi admin dan anggota di dalam grup KODHAM
4. Terbentuk grup KODHAM yang kondusif, saling memotivasi dalam mengingatkan dan istiqomah shalat dhuha
5. Terbentuknya sistem pelaporan mutaba’ah shalat dhuha yang tertib sebagai bentuk kontrol mutaba’ah bagi semua anggota KODHAM.

C. Prosedur

C.1. PEMBAGIAN GRUP

1. Grup KODHAM terpisah antara laki-laki dan perempuan. Setiap grup terdiri dari 20 anggota dan dibagi unit @5 anggota atau sesuai kesepakatan

2. Grup terdiri dari:

a. Admin, bertanggung jawab penuh mengendalikan grup, melaporkan mutaba’ah shalat dhuha anggota ke kormin dan memoderasi grup bila ada diskusi. Admin adalah pengambil keputusan tertinggi dalam grup dengan tetap mematuhi SOP yang berlaku.

b.  PJ unit, bertanggung jawab pada unit masing2 untuk mengingatkan shalat dhuha, mengingatkan laporan anggota dan menanyakan kendala yg tidak dhuha

c. PJH, ditunjuk secara bergiliran, bertanggung jawab mengingatkan, merekap laporan anggota dan menanyakan anggota yg berhalangan shalat dhuha. Setiap anggota wajib bersedia jadi PJH, kecuali ada halangan dan sudah menunjuk anggota lain untuk menggantikannya.

d. Anggota, peserta dalam grup yang bertanggung jawab menjaga ketertiban grup dengan mematuhi SOP yang berlaku. Anggota juga bertanggung jawab dalam menghidupkan grup dan menjaga kondusifitas grup.

e. Co – admin, bertanggung jawab membantu admin dalam menyelesaikan tugasnya. Co – admin optional tergantung kebijakan admin masing-masing.

3. Setiap orang hanya boleh menjadi anggota di satu grup KODHAM.

C.2. ADMIN

1. Admin menerangkan bahwa setiap anggota akan laporan mutaba’ah shalat dhuha setiap hari

2. Mengarahkan grup utk menunjuk PJ Harian yg bergantian berurutan setiap hari sesuai dgn kesepakatan grup.

3. Mengarahkan grup utk menyepakati waktu batas laporan grup maksimal pkl 16:00 WIB (laporan ke grup), atau sesuai kesepakatan grup masing-masing yg tidak melebihi pkl 16:00 WIB.

4. Memotivasi, memonitor, dan mengevaluasi grup.

5. Setiap hari menyampaikan laporan mutaba’ah shalat dhuha dan evaluasi grup ke kormin.

C.3. PENANGGUNG JAWAB HARIAN

A. PJH membuat daftar list laporan untuk mempermudah member lain melihat laporan dan PJ unit masing2.

B. PJH merekap laporan mutaba’ah shalat dhuha anggota secara berkala, misal setiap jam, dll.

C. PJH aktif memotivasi semua anggota untuk sholat dhuha dan laporan mutaba’ah shalat dhuha, baik lewat grup atau jaringan pribadi (japri).

C.4. ANGGOTA

1. Berkomitmen kuat untuk shalat dhuha setiap hari dan melapor ke grup/ PJH
2. Bila ada udzur syari (sakit atau bepergian jauh) sangat dianjurkan untuk tetap shalat dhuha, dan anggota melaporkan udzurnya ke grup.
3. Iqob apabila anggota tidak shalat dhuha adalah membaca Istighfar, Shalawat, dan Laa Ilaaha Ilallaah @100x
4. Bagi anggota wanita yang haid/nifas silakan lapor pada admin atau PJH atau PJ unit sebagai pengurang pembagi saat dipresentasekan.
5. Di dalam grup, anggota tidak diperbolehkan untuk :
a. Berjualan
b. Menyebarkan hal-hal yang berkaitan dengan partai politik, berbau SARA, atau paham-paham yang bisa memecah belah hubungan anggota di dalam grup.
_____________________________

Catatan :
Diharapkan kepada setiap admin grup agar sudah menyesuaikan SOP grup dengan SOP revisi 1 ini dalam rentang waktu 2 minggu – 1 bulan sejak diterbitkannya informasi ini.

Terimakasih

Wassalamu’allaikum Wr. Wb.
-Pengurus Kodham-

Advertisements

KEUTAMAAN SHALAT DHUHA DALAM QUR’AN & HADITS

Keutamaan Dhuha dalam Al-Quran
dan Hadits ::
Didalam Surah Adh-Dhuha Allah swt
bersumpah dengan waktu dhuha dan waktu
malam: “Demi waktu matahari sepenggalahan
naik, dan demi malam apabila telah
sunyi.” (QS. 93:1-2). Pernahkah terlintas
dalam benak kita mengapa Allah swt sampai
bersumpah pada kedua waktu itu?. Beberapa
ahli tafsir berpendapat bahwa kedua waktu itu
adalah waktu yang utama paling dalam setiap
harinya.
Sahabat Zaid bin Arqam ra ketika beliau
melihat orang-orang yang sedang
melaksanakan shalat dhuha: “Ingatlah,
sesungguhnya mereka telah mengetahui
bahwa shalat itu dilain sa’at ini lebih utama.
Sesungguhnya Rasulullah saw bersabda:
“Shalat dhuha itu (shalatul awwabin) shalat
orang yang kembali kepada Allah, setelah
orang-orang mulai lupa dan sibuk bekerja,
yaitu pada waktu anak-anak unta bangun
karena mulai panas tempat
berbaringnya.” (HR Muslim).
Lantas bagaimana tidak senang Allah dengan
seorang hamba yang seperti ini, sebagaimana
janjiNya: “Hai orang-orang yang beriman
bertaqwalah Kepada Allah
dan carilah jalan yang mendekatkan diri
kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya,
supaya kamu mendapat keberuntungan. (QS.
5:35).
Disamping itu shalat dhuha ini juga dapat
mengantikan ketergadaian setiap anggota
tubuh kita pada Allah, dimana kita wajib
membayarnya sebagaimana sabda Rasulullah
saw: “Setiap pagi setiap persendian salah
seorang diantara kalian harus (membayar)
sadhaqah; maka setiap tasbih adalah
sadhaqah, setiap tahmid adalah sadhaqah,
setiap tahlil adalah sadhaqah, setiap takbir
adalah sadhaqah, amar ma’ruf adalah
sadhaqah, mencegah kemungkaran adalah
sadhaqah, tetapi dua raka’at dhuha sudah
mencukupi semua hal tersebut” (HR Muslim).
Tetapi yang lebih dalam dari itu lagi adalah
shalat dhuha ini adalah salah amalan yang
disukai Rasulullah saw beserta para
sahabatnya (sunnah), sebagaimana anjuran
beliau yang disampaikan oleh Abu Hurairah
ra: “Kekasihku Rasulullah saw telah berwasiat
kepadaku dengan puasa tiga hari setiap
bulan, dua raka’at dhuha dan witir sebelum
tidur” (Bukhari, Muslim, Abu Dawud).
Kalaulah tidak khawatir jika ummatnya
menganggap shalat dhuha ini wajib hukumnya
maka Rasulullah saw akan tidak akan pernah
meninggalkannya. Para orang alim, awliya
dan ulama sangatlah menjaga shalat
dhuhanya sebagaimana yang dikatakan oleh
Imam Syafei’: Tidak ada alasan bagi seorang
mukmin untuk tidak melakukan shalat dhuha”.
Hal ini sudah jelas dikarenakan oleh seorang
mukmin sangat apik dan getol untuk
mendekatkan diri kepada Tuhannya”.
“Dari Abu Huraerah ridliyallhu ‘anhu,
Rasulullah SAW bersabda : Pada tiap-tiap
persendian itu ada shadaqahnya, setiap
tasbih adalah shadaqah, setiap tahmid adalah
shadaqah, setiap tahlil adalah shadaqah,
setiap takbir adalah shadaqah (bacaanya :
SUBHANALLAH, ALHAMDULILLAH, LAA ILAHA
ILLALLAHU, ALLHU AKBAR), setiap amar
ma’ruf nahyil munkar itu shadaqah. Dan
cukuplah memadai semua itu dengan
memperkuat/melakukan dua rakaat shalat
dhuha” (Riwayat Muslim – Dalilil Falihin Juz
III, hal 627).
Dalam hadits qudsi disebutkan bahwa shalat
empat rakaat dipagi hari, Allah bakal
menjamin dan mencukupkan segalanya
dengan limpahan barakah sepanjang hari itu,
sehingga bathinpun akan terasa damai walau
apapun tantangan hidup yang merongrong,
karena dia telah sadar semua itu ketetapan
Allah : “Hai anak Adam, tunaikanlah
kewajibanmu untuk KU, yaitu sembahyang
empat rakaat pada pagi hari, niscaya Aku
akan mencukupi sepanjang harimu (Hadits
Riwayat Imam Ahmad, Abu Ya’la).
Dengan lafadz lain berbunyi : “Hai anak Adam,
bersembahyanglah untuk KU empat rakaat
pada pagi hari, aku akan mencukupimu
sepanjang hari itu” (Riwayat Ahmad dari Abi
Murrah).
Doa setelah menunaikan sholat dhuha yang
diajarkan Rasulullah SAW : “Ya Allah,
bahwasanya waktu dhuha itu waktu dhuha
(milik) Mu, kecantikan ialah kencantikan
(milik) Mu, keindahan itu keindahan (milik)
Mu, kekuatan itu kekuatan (milik) Mu,
kekuasaan itu kekuasaan (milik) Mu, dan
perlindungan itu perlindungan Mu. Ya Allah,
jika rizqiku masih diatas langit, turunkanlah,
dan jika ada di didalam bumi, keluarkanlah,
jika sukar, mudahkanlah, jika haram
sucikanlah, jika masih jauh dekatkanlah,
berkat waktu dhuha, keagungan, keindahan,
kekuatan dan kekuasaan Mu, limpahkanlah
kepada kami segala yang telah Engkau
limpahkan kepada hamba-hamba Mu yang
shaleh”.
Jumlah raka’at shalat dhuha bisa dengan
2,4,8 atau 12 raka’at. Dan dilakukan dalam
satuan 2 raka’at sekali salam. Hadits
Rasulullah SAW terkait shalat dhuha antara
lain : “Barang siapa shalat Dhuha 12 rakaat,
Allah akan membuatkan untuknya istana
disurga” (H.R. Tarmiji dan Abu Majah).
“Siapapun yang melaksanakan shalat dhuha
dengan langgeng, akan diampuni dosanya
oleh Allah, sekalipun dosa itu sebanyak busa
lautan.” (H.R Turmudzi). “Dari Ummu Hani
bahwa Rasulullah SAW shalat dhuha 8 rakaat
dan bersalam tiap dua rakaat.” (HR Abu
Daud). “Dari Zaid bin Arqam ra. Berkata, Nabi
SAW keluar ke penduduk Quba dan mereka
sedang shalat dhuha‘. Beliau bersabda,
“Shalat awwabin (duha‘) berakhir hingga
panas menyengat (tengah hari).” (HR Ahmad
Muslim dan Tirmidzi).
Itulah keistimewaan dan keutamaan shalat
DHUHA, didunia memberikan keberkahan
hidup kepada pelakunya, diakherat pun, di hari
kiamat, orang itu dipanggil Allah untuk
dimasukkan ke dalam syurga, sebagaimana
sabda Nya didalam hadits qudsi :
“Sesungguhnya di dalam syurga, ada pintu
yang dinamakan pintu DHUHA, maka ketika
datang hari kiamat memanggillah (yang
memanggil Allah), dimanakah orang yang
selalu mengerjakan sembahyang atas Ku
dengan sembahyang DHUHA? inilah pintu
kamu, maka masuklah kamu ke dalam syurga
dengan rahmat Allah”. (Riwayat Thabrani dari
Abu Huraerah).

Sumber : http://wandono.blog.unair.ac.id/keutamaan-dhuha-dalam-al-quran-dan-hadits.html