KIAT-KIAT HIDUP AGAR SELALU “ON”

KIAT-KIAT HIDUP AGAR SELALU ON

Disampaikan pada kajian Online RDI, Rabu 18 Mei 2016, Pkl 20.00 – 21.30 WIB

Oleh : M. Lukmanul Hakim , S.Pd.I ( Founder Komunitas Dhuha Ummat)

Manusia diciptakan Allah SWT dengan kehidupan yang penuh liku-liku, yang Allah atur sedemikian rupa agar kelak terseleksi siapa hamba sebenarnya hamba yang benar-benar beriman di sisi Allah, yaitu otang yang menggunakan akal dan nafsunya berimbang dan dijadikan bekal untuk selalu taat dan beribadah kepada Allah SWT.

Hidup bersemangat, hidup bergairah setiap hari merupakan kunci untuk menjalani hidup selanjutnya. Agar selalu “ON” dan siap dalam berbagai masalah yang akan dihadapi hari ini dan dan masa yang kan datang maka berikut adalah tipsnya antara lain :

  1. Positive Thinking

Positif Thinking dalam bahasa arabnya “Husnudzon” artinya berbaik sangka terhadap sesama makhluk dan kepada Sang Kholik.  Sifat “husnudzon” akan menghilangkan prasangka buruk setiap kejadian yang menimpa diri sendiri atau orang lain, sehingga lebih cenderung melihat sebuah kejadian itu dari hikmah yang diperoleh.

Sebaliknya Suudzon (berburuk sangka) akan menimbulkan :

  1. Fitnah
  2. Mencari kesalahan orang lain
  3. Merasa diri benar
  4. Sulit intropeksi diri

Firman Allah dalam surat Al Hujarat : 12

Artinya :

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka. Sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.

  1. Pandai Bersyukur

Hidup kita akan lebih bermakna jika kita pandai bersyukur. Bersyukur adalah menerima  atas nikmat  yang dianugerahkan Allah SWT dan menunjukkan rasa terimakasih  dengan ucapan  dan perbuatan.

Ada juga yang mendefinisikan syukur dengan makna lain seperti:
1.    Mengakui nikmat yang diberikan dengan penuh ketundukan.
2.    Memuji yang memberi nikmat atas nikmat yang diberikannya.
3.    Cinta hati kepada yang memberi nikmat dan (tunduknya) anggota badan dengan ketaatan serta lisan dengan cara memuji dan menyanjungnya.
4.    Menyaksikan kenikmatan dan menjaga (diri dari) keharaman.
5.    Mengetahui kelemahan diri dari bersyukur.
6.    Menyandarkan nikmat tersebut kepada pemberinya dengan ketenangan.
7.    Engkau melihat dirimu orang yang tidak pantas untuk mendapatkan nikmat.
8.    Mengikat nikmat yang ada dan mencari nikmat yang tidak ada.

 

Allah berfirman dalam Surat Ibrohim ayat 7 :

“ Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS Ibrohim : 7)

  1. Istiqomah Sedekah

Sedekah adalah meninfaqkan sebagian rizki yang kita terima kepada fakir miskin, anak-anak terlantar dan orang-orang yang membutuhkan. Sedekah yang iklas merupakan kunci utama menuju kekayaan hakiki. Dengan bersedekah kita akan dapat banyak do’a baik dari orang yang kita beri sedekah dan orang disekeliling mereka.  Do’a orang lapar atau orang teraniaya itu tidak terhijab dan akan Allah kabulkan.

Allah berfirman dalam surat  Al Baqoroh ayat 261 :

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui” (QS Al Baqoroh : 261).

Pengertian menafkahkan harta di jalan Allah meliputi belanja untuk kepentingan jihad, pembangunan perguruan, rumah sakit, usaha penyelidikan ilmiah dan lain-lain, dalil-dalil lanjutan mengenai bersyukur dapat dilihat di surat Al Baqoroh : 262-271.

  1. Senang menyampaikan berita baik.

Setiap orang senantiasa gembira apabila mendapatkan kabar yang baik tentang dirinya atau kerabatnya. Agar bergaul dapat diterima dengan baik, mulailah dengan menceritakan hal yang baik-baik yang membuat orang disekitar kita gembira dan tidak tersinggung dengan apa yang kita ceritakan.

Untuk menjadi pribadi yang menarik juga harus bisa mendengrkan keluh keah orang lain dan senantiasa memberikan masukan yang baik.

Sebagaimana rasulullah SAW diutus oleh Allah untuk menyampaikanberita baik dan perngatan.

  1. Senantiasa memperbanyak bersilaturahmi

Menyambungkan tali silaturahim adalah sebuah perbuatan terpuji yang akan mendatangkan berbagai kemanfaatan antara lain :

  1. Dapat berkumpul dengan orang-orang sholeh/sholehah
  2. Mendatangkan keberkahan dan rizki yang tidak terduga
  3. Memprerat tali persaudaraan antar sesama muslim

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ ، وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barangsiapa yang ingin rizqinya diperluas dan umurnya ditambah, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi.”
Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنِ اتَّقَى رَبَّهُ ، وَوَصَلَ رَحِمَهُ ، نُسِّئَ فِي أَجَلِهِ ، وَثَرَى مَالُهُ ، وَأَحَبَّهُ أَهْلُهُ

“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah dan menyambung silaturahmi, maka ajalnya akan diundur, hartanya akan diperbanyak, dan akan dicintai oleh keluarganya.”

  1. Mudah meminta maaf dan memaafkan kesalahan

Kadang seseorang gengsi untuk meminta maaf jika telah berbuat kesalahan atau memberi maaf terhadap kesalahan orang lain, padahal itu adalah perbuatan yang akan mempersempit ruang gerak diri sendiri. Mulailah melakukan rutinitas dalam keluarga dengan melakukan ritual minta maaf setiap hari kepada anggota keluarga sehingga ganti hari dosa antar sesama keluarga nol kembali. Jangan memulai menumpuk-numpuk dosa, apalagi meminta maafnya setahun sekali saat hari raya idul fitri.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللهِ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa. Barangsiapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (Asy-Syura: 40)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (At-Taghabun: 14)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللهُ

Shadaqah –hakikatnya– tidaklah mengurangi harta, dan tidaklah Allah Subhanahu wa Ta’ala menambah seorang hamba karena memaafkan kecuali kemuliaan, dan tiada seorang yang rendah hati (tawadhu’) karena Allah Subhanahu wa Ta’ala melainkan diangkat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

  1. Senang menolong orang susah

Salah satu orang yang patut kita tolong adalah orang yang dalam keadaan kesusahan baik dalam menjalani hidup, berjuang melawan penyakit, tidak berdaya dan teraniaya. Menolong orang yang susah akan menimbulkan aura positif yang dipancar dari do’a-do’a orang yang kita tolong.

Dari Abu Hurairah ra, Nabi SAW, bersabda: “Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong hamba Nya selama hamba Nya itu suka menolong saudaranya”. (HR. Muslim, lihat juga Kumpulan Hadits Arba’in An Nawawi hadits ke 36).

Demikian tips yang bisa disampaikan pada kajian kali ini, semoga bermanfaat.

INILAH AKIBAT TIDAK SERIUS DALAM TILAWAH

📖 📖 📖
AKIBAT TIDAK SERIUS MELAKUKAN TILAWAH 

Ust  :  Abdul Aziz Abdur Rauf,Lc

🚨 Sedikitnya BAROKAH  DAKWAH  atau AMAL JIHADI  kita dan menjadi indikasi lemahnya hubungan kita sebagai jundi  kepada  ALLAH SWT.

Boleh jadi  BANYAK PRODUKTIVITAS DAKWAH DAN AMAL JIHADI, tetapi semua keberhasilan itu justru dikhawatirkan berdampak pada hal-hal yang  tidak kita inginkan.

🚨Kemungkinan lainnya-bahkan lebih besar- adalah tertundanya PERTOLONGAN ALLAH SWT dalam AMAL JIHADI kita.

Jika Jihad Salafush Shalih saja tertunda kemenangannya  hanya karena meninggalkan sunah bersiwak,apalagi jika meninggalkan  amal yang bobotnya  jauh lebih besar  dari itu? Oleh karena itu,interaksi dengan AL QUR’AN selalu disinggung  dalam ayat-ayat jihad,seperti di surat al anfal  dan al qital   (Muhammad)

🚨Semakin jauhnya ASHSHALAH (orisinalitas) dakwah.

Sejak awal dakwah ini dikumandangkan, semangatnya adalah DAKWAH BIL QUR’AN, jika interaksi  kita sendiri bersama Al Qur’an  sangat Lemah, bahkan tidak mencapai tingkat interaksi yang minim seperti  sekedar  tilawah  1Juz  perhari ?

🚨Semakin jauh dakwah yang memiliki  JAWWUL  ‘ILMI   (nuansa  ilmu)

Padahal Hakekat  Dakwah adalah meningkatkan kualitas keilmuan  umat yang sumber  utamanya  AL QUR’AN.
Minimnya  pengetahuan Al Qur’an  kita akan berdampak pada lemahnya  bobot  ilmu dinniyah  kita.
Seandainya  setiap kita BER-ILTIZAM  dengan manhaj  tarbiyyah  yang sudah ada pasti  kita akan mendapati  potret  Harokah  Dakwah yang jauh lebih cantik  dan lebih ilmiah.

🚨Semakin jauhnya  dakwah dari shalatul  manhaj.

Bacalah semua kitab yang menjelaskan  dakwah ini,wa bil  khusus  MAJMU’ATUR  RASA’IL ,  Pasti kita dapatkan begitu kentalnya  dakwah ini  memberi  perhatian  pada INTERAKSI  BERSAMA AL QUR’AN.

📝diambil  dari buku “Tarbiyah  Syakhsiyah  Qur’aniyah

Diposting kembali oleh M. Lukmanul Hakim
kodham.WordPress.com
Kodham.org

BERDOA DI WAKTU MUSTAJAB

📣 Kodham Media
📚Motivasi Berdoa di waktu Mustajab

Hari Tanggal : Kamis 12 November 2015 🌝 30 Muharram 1437 H
No                   : 12/KOM/11/2015
Tujuan         : Sahabat kodham dan umum

🍀🍄🍀🍄🍀🍄🍀🍄

🌴Keutamaan Berdiam Di Masjid Ba’da Ashar Hari Jumat 🌴

🍄Pada hari Jumat terdapat waktu yang  merupakan waktu yang mustajab untuk berdoa, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ فِي الْجُمُعَةِ لَسَاعَةٌ لاَ يُوَافِقُهَا مُسْلِمٌ قَائِمٌ يُصَلِّي يَسْأَلُ اللهَ خَيْرًا إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ وأَشَارَ بِيَدِهِ يُقَلِّلُهَا.‘

Sesungguhnya pada hari Jum’at itu terdapat satu waktu yang tidaklah seorang hamba muslim bertepatan dengannya sedang dia berdiri berdo’a memohon sesuatu kebaikan kepada Allah, melainkan Dia akan memberikan hal itu kepadanya.’ Dan beliau memberi isyarat dengan tangan beliau untuk menunjukkan sedikitnya waktu itu.”[1]

🍄Dari beberapa dalil yang dijelaskan ulama waktu tersebut adalah:

🍀. Setelah imam Jumat naik mimbar, duduk antara dua khutbah sampai selesai shalat

🍀.Setelah ashar

Mungkin antara dua khutbah sudah banyak yang mengetahuinya sebagai waktu mustajab doa. Ternyata, ba’da ashar waktu yang mustajab.

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَوْمُ الْجُمُعَةِ اثْنَتَا عَشْرَةَ سَاعَةً لاَ يُوجَدُ فِيهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللهَ شَيْئًا إِلاَّ آتَاهُ إِيَّاهُ فَالْتَمِسُوهَا آخِرَ سَاعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ.

‘Pada hari Jum’at terdapat dua belas jam (pada siang hari), di antara waktu itu ada waktu yang tidak ada seorang hamba muslim pun memohon sesuatu kepada Allah melainkan Dia akan mengabulkan permintaannya. Oleh karena itu,carilah ia di akhir waktu setelah ‘Ashar.’[3]

Iman Ahmad rahimahullah berkata,

قال الإمام أحمد : أكثر الأحاديث في الساعة التي تُرجى فيها إجابة الدعوة : أنها بعد صلاة العصر ، وتُرجى بعد زوال الشمس . ونقله عنه الترمذي

“Kebanyakan hadits mengenai waktu yang diharapkan terkabulnya doa adalah ba’da ashar dan setelah matahari bergeser (waktu shalat jumat).”[2] 

Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafidzahulla berkata,

فمن أراد أن يتحرى وقت الإجابة بعد العصر يوم الجمعة : فلذلك صور متعددة ، منها :1. أن يبقى بعد صلاة العصر لا يخرج من المسجد يدعو ، ويتأكد ذلك منه في آخر ساعة من العصر ، وهذه أعلى المنازل .وكان سعيد بن جبير إذا صلى العصر لم يكلم أحداً حتى تغرب الشمس .2. أن يذهب إلى المسجد قبل المغرب بزمن ، فيصلي تحية المسجد ، ويدعو إلى آخر ساعة من العصر ، وهذه أوسط المنازل .3. أن يجلس في مجلس – في بيته أو غيره – يدعو ربه تعالى في آخر ساعة من العصر ، وهذه أدنى المنازل .

“Bagi yang menginginkan mencari waktu mustajab setelah Ashar hari jumat, ada beberapa cara:
🍄1. Tetap tinggal di masjid setelah shalat ashar, tidak keluar dari masjid dan berdoa. Ditekankan ketika akhir waktu ahsar (menjelang magrib), ini adalah kedudukan tertinggiSaid bin Jubair jika shalat ashar tidaklah berbicara dengan sseorangpun samapi tenggelam matahari.
🍄2. Ia berangkat ke masjid menjelang magrib kemudian shalat tahiyatul masjid, berdoa sampai akhir waktu ashar ini adalah kedudukan pertengahan
🍄3. Ia duduk ditempatnya –rumah atau yang lain- berdoa kepada Rabb-nya sampai akhir waktu ashar. Ini adalah kedudukan terendah. 

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata,

ظاهر الأحاديث الإطلاق ، وأن من دعا في وقت الاستجابة : يُرجى له أن يجاب في آخر ساعة من يوم الجمعة ، يُرجى له أن يجاب ، ولكن إذا كان ينتظر الصلاة في المسجد الذي يريد فيه صلاة المغرب : فهذا أحرى ؛ لأن النبي صلى الله عليه وسلم قال : (وَهُوَ قَائِمٌ يُصّلِّي) – رواه البخاري – ، والمنتظر في حكم المصلي ، فيكون في محل الصلاة أرجى لإجابته ، فالذي ينتظر الصلاة في حكم المصلين ، وإذا كان مريضاً وفعل في بيته ذلك : فلا بأس ، أو المرأة في بيتها كذلك تجلس تنتظر صلاة المغرب في مصلاها ، أو المريض في مصلاه ويدعو في عصر الجمعة يرجى له الإجابة ، هذا هو المشروع ، إذا أراد الدعاء يقصد المسجد الذي يريد فيه صلاة المغرب مبكراً فيجلس ينتظر الصلاة ، ويدعو

“Dzahir hadits adalah mutlak yaitu barangsiapa yang berdoa di waktu musjatab  pada akhir hari jumat (yaitu menjelang magrib, karena akhir hari dalam hijriyah adalah magrib). Diharapkan bias dkabulkan. Akan tetapi jika ia menunggu shalat di masjid tempat shalat magrib, ini lebih hati-hati karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘ia menegakkan shalat’. Dan orang yang menunggu sebagaimana kedudukan orang yang shalat maka dalam keadaan shalat lebih diharapkan mustajab.  Orang yang menunggu shalat sebagaimana orang shalat.Jika ia sakit bisa dilakukan di rumahnya , tidak mengapa. Atau wanita yang menunggu shalat magrib di mushallanya (tempat shalat di rumah), atau yang sakit di mushallanya berdoa di waktu ashar dan berharap mustajab. Jika ia ingin, menuju masjid tempat ia ingin shalat magrib lebih awal, duduk menunggu shalat dan berdoa.”[3]

Ibnu Majah meriwayatkan,

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ سَلاَمٍ قَالَ: قُلْتُ وَرَسُولُ اللهِ جَـالِسٌ إِنَّا لَنَجِدُ فِي كِتَابِ اللهِ فِي يَوْمُِ الْجُمُعَةِ سَـاعَةً لاَ يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُؤْمِنٌ يُصَلِّي يَسْأَلُ اللهَ فِيهَا شَيْئًا إِلاَّ قَضَى لَهُ حَاجَتَهُ، قَالَ عَبْدُ اللهِ: فَأَشَارَ إِلَيَّ رَسُولُ اللهِ أَوْ بَعْضُ سَاعَةٍ، فَقُلْتُ: صَدَقْتَ أَوْ بَعْضُ سَاعَةٍ، قُلْتُ: أَيُّ سَاعَةٍ هِيَ؟ قَالَ: هِيَ آخِرُ سَاعَاتِ النَّهَارِ، قُلْتُ: إِنَّهَا لَيْسَتْ سَاعَةَ صَلاَةٍ؟ قَالَ: بَلَى إِنَّ الْعَبْدَ الْمُؤْمِنَ إِذَا صَلَّى ثُمَّ جَلَسَ لاَ يَحْبِسُهُ إِلاَّ الصَّلاَةُ فَهُوَ فِي الصَّلاَةِ.

“Dari ‘Abdullah bin Salam Radhiallahu ‘anhu, dia berkata, aku berkata ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tengah duduk, ‘Sesungguhnya kami mendapatkan di dalam kitab Allah, Pada hari Jum’at terdapat satu waktu yang tidaklah seorang hamba mukmin bertepatan dengannya sedang dia berdo’a memohon sesuatu kepada Allah pada saat itu melainkan Dia akan memenuhi kebutuhannya.’ ‘Abdullah mengatakan, lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan kepadaku atau sebagian waktu. Lalu aku katakan, ‘Engkau benar atau sebagian waktu.’ Maka aku tanyakan, “Kapan waktu itu?” Beliau menjawab, “Yaitu akhir waktu siang.” Lalu kukatakan, “Ia bukan waktu shalat?” Beliau menjawab,“Benar, sesungguhnya seorang hamba mukmin jika mengerjakan shalat kemudian duduk, yang dia tidak tertahan kecuali oleh shalat, maka dia dalam keadaan shalat.”[4]

عَن ْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ خَيْـرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ فِيهِ الشَّمْسُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فِيهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيهِ أُدْخِلَ الْجَنَّةَ وَفِيهِ أُهْبِطَ مِنْهَا وَفِيهِ سَاعَةٌ لاَ يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ يُصَلِّي فَيَسْأَلُ اللهَ فِيهَا شَيْئًا إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ، قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ: فَلَقِيتُ عَبْدَ اللهِ بْنَ سَلاَمٍ، فَذَكَرْتُ لَهُ هَذَا الْحَدِيثَ، فَقَالَ: أَنَا أَعْلَمُ بِتِلْكَ السَّاعَةِ، فَقُلْتُ: أَخْبِرْنِي بِهَا وَلاَ تَضْنَنْ بِهَا عَلَيَّ، قَالَ: هِيَ بَعْدَ الْعَصْرِ إِلَى أَنْ تَغْرُبَ الشَّمْسُ، فَقُلْتُ: كَيْفَ تَكُونُ بَعْدَ الْعَصْرِ وَقَدْ قَالَ رَسُولُ اللهِ لاَ يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ وَهُوَ يُصَلِّي وَتِلْكَ السَّاعَةُ لاَ يُصَلَّى فِيهَا، فَقَـالَ عَبْدُ اللهِ بْنُ سَلاَمٍ: أَلَيْسَ قَدْ قَالَ رَسُولُ اللهِ : مَنْ جَلَسَ مَجْلِسًا يَنْتَظِرُ الصَّلاَةَ فَهُوَ فِي صَلاَةٍ، قُلْتُ: بَلَى قَالَ: فَهُوَ ذَاكَ.

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sebaik-baik hari di mana matahari terbit adalah hari Jum’at. Pada hari itu Adam diciptakan, pada hari yang sama dia dimasukkan ke Surga, pada hari itu juga dia diturunkan darinya. Pada hari itu terdapat satu waktu di mana seorang hamba muslim tidak bertepatan dengannya ketika dia dalam keadaan shalat lalu berdo’a memohon sesuatu kepada Allah, melainkan Dia akan memberi-kannya kepadanya.’ Abu Hurairah mengatakan, lalu aku menjumpai ‘Abdullah bin Salam, kemudian aku sampaikan hadits ini kepada-nya. Maka dia berkata, ‘Aku lebih mengetahui waktu tersebut.’ Kemudian aku katakan, ‘Be-ritahukan waktu itu kepadaku, dan janganlah engkau kikir kepadaku.’ Dia menjawab, ‘Yaitu setelah ‘Ashar sampai terbenamnya matahari.’ Selanjutnya aku katakan, bagaimana bisa setelah ‘Ashar, sementara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tidaklah seorang hamba muslim bertepatan dengannya sedang dia dalam keadaan shalat,’ sedang pada waktu itu tidak diperbolehkan mengerjakan shalat?’ Maka ‘Abdullah bin Salam berkata, ‘Bukankah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Barangsiapa duduk di tempat duduk sambil menunggu shalat, maka dia dalam keadaan shalat?’ ‘Benar,’ jawabku. Dia berkata, ‘Itulah waktu tersebut.’”[5] 

Demikian semoga bermanfaat.  

 [1] HR. Bukhari dan Muslim
[2] Sunan At-Tirmidzi 2/360
[3] Majmu’ Fatawa bin Baz 30/270
[4] HR. Ibnu Majah, Al-Albani mengatakan, “Hasan shahih.”
[5] HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh al-Albani di dalam kitab Shahiih at-Tirmidzi.

Sumber :
http://bit.ly/1kNYD5T

Kodham Center:
089502816008
=========================
FB : Komunitas Dhuha Ummat
FP : Komunitas Dhuha Ummat
Twitter : @DhuhaUmmat
Website: kodham.org
Blog : kodham.worpress.com
=========================
Cara gabung kodham
Ketik : GabungKodham#nama#L/P#umur#no WA/PIN BBM#domisili#aktivitas
Kirim ke
⏩ WA
Ikhwan : Akh Irawan (089630319724 )
Akhwat: Umi Asih (085878400076)
⏩ BBM
Ikhwan : Akh Rocky (553F7F7F)
Akhwat : Ukh indri (28645022)
========================