Inilah 3 Kunci Sukses Berdakwah

​*Inilah Tiga Kunci Sukses Berdakwah*
Disampaikan dalam kajian online Komunitas Thalabul Ilmi (TI),  Kamis 25 Jan 2017, Pukul 20-21 WIB 

Nara Sumber : *M. Lukmanul Hakim, S.Pd.I*

Founder Komunitas Dhuha Ummat (Kodham)
DALAM hidup ini, kalau ingin mengikuti para nabi dan orang-orang hebat di muka bumi ini, tidak ada yang kalah hebat kecuali dakwah menuju Allah SWT. Namun, dalam menjalankan dakwah khususnya di negeri ini, perlu kehati-hatian.

Menurut Pimpinan Arrahman Quranic Learning (AQL) Islamic Center Ustadz Bachtiar Nasir dalam berdakwah  menuju jalan Allah berpesan agar memegang tiga kunci sukses. 

Tiga kata kunci tersebut berdasarkan pada firman Allah yang artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan pengajaran yang baik (mauidzatul hasanah) dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.” (An-Nahl: 125)
0⃣1⃣ *Berdakwah dengan hikmah*
Dalam dunia dakwah, hikmah adalah perkataan benar yang terbebas dari kekeliruan. “Jadi buah dari ilmu adalah hikmah, dan ciri-ciri orang berilmu adalah memiliki hikmah, meski tidak semua orang yang berilmu memiliki hikmah. 

Alquran mengajarkan dakwa melalui pendekatan hikmah dulu. Yaitu perkataan yang tidak jauh dari Alquran dan hadits. Perkataan hikmah itu adalah strategi untuk mengajak manusia masuk dalam Islam.
0⃣2⃣ *Berdakwah dengan mauidzatul hasanah*
Mauidzatul hasanah yakni perkataan yang lemah lembut dan sampai ke hati. Perkataan itu menyangkut perintah dan larangan Allah (nahi dan mungkar) tetapi disampaikan dengan cara yang menyentuh hati. Terkadang seseorang saling hujat padahal hanya karena berbeda persepsi. Itu karena dia tidak punya mauidzatul hasanah.

“Kalau kita tidak paham dengan pola komunikasi sekarang yang sangat bebas ini, kita pasti akan mengalami kesulitan dalam berdakwah kepada Allah SWT. Jadi orang yang keliru atau bersalah, jangan langsung di-bully tapi diberi nasehat atau wasiat.
0⃣3⃣ *Jidal atau debat*
Sebagaimana firman Allah di atas tadi, “bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik”. Jidal itu adalah argumentasi dalam perdebatan yang didasari oleh hujjah dengan sandaran yang kuat. Memang, orang sering gagal menata pola komunikasi dakwahnya karena masuk ke ranah perdebatan. Ada juga yang malas berdebat padahal di saat tertentu, debat itu diperlukan.

“Misalnya, pada saat menghadapi persoalan baru yang ingin mengelabui ummat Islam, saat itu juga debat diperlukan dengan hujjah dan dasar yang kuat. Misalnya, ketika mendapati isu liberalisme lewat wacana Islam Nusantara. Di sini ada penyimpangan bahwa ada yang menunggangi Islam Nusantara untuk kepentingan liberalisme, sekularisme, jadi lawan dengan hujjah yang kuat. Jangan ditunda. Debat harus dilakukan untuk membentengi Islam dari erosi pemikiran dan virus yang ingin merusak Islam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s