KIAT-KIAT HIDUP AGAR SELALU “ON”

KIAT-KIAT HIDUP AGAR SELALU ON

Disampaikan pada kajian Online RDI, Rabu 18 Mei 2016, Pkl 20.00 – 21.30 WIB

Oleh : M. Lukmanul Hakim , S.Pd.I ( Founder Komunitas Dhuha Ummat)

Manusia diciptakan Allah SWT dengan kehidupan yang penuh liku-liku, yang Allah atur sedemikian rupa agar kelak terseleksi siapa hamba sebenarnya hamba yang benar-benar beriman di sisi Allah, yaitu otang yang menggunakan akal dan nafsunya berimbang dan dijadikan bekal untuk selalu taat dan beribadah kepada Allah SWT.

Hidup bersemangat, hidup bergairah setiap hari merupakan kunci untuk menjalani hidup selanjutnya. Agar selalu “ON” dan siap dalam berbagai masalah yang akan dihadapi hari ini dan dan masa yang kan datang maka berikut adalah tipsnya antara lain :

  1. Positive Thinking

Positif Thinking dalam bahasa arabnya “Husnudzon” artinya berbaik sangka terhadap sesama makhluk dan kepada Sang Kholik.  Sifat “husnudzon” akan menghilangkan prasangka buruk setiap kejadian yang menimpa diri sendiri atau orang lain, sehingga lebih cenderung melihat sebuah kejadian itu dari hikmah yang diperoleh.

Sebaliknya Suudzon (berburuk sangka) akan menimbulkan :

  1. Fitnah
  2. Mencari kesalahan orang lain
  3. Merasa diri benar
  4. Sulit intropeksi diri

Firman Allah dalam surat Al Hujarat : 12

Artinya :

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka. Sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.

  1. Pandai Bersyukur

Hidup kita akan lebih bermakna jika kita pandai bersyukur. Bersyukur adalah menerima  atas nikmat  yang dianugerahkan Allah SWT dan menunjukkan rasa terimakasih  dengan ucapan  dan perbuatan.

Ada juga yang mendefinisikan syukur dengan makna lain seperti:
1.    Mengakui nikmat yang diberikan dengan penuh ketundukan.
2.    Memuji yang memberi nikmat atas nikmat yang diberikannya.
3.    Cinta hati kepada yang memberi nikmat dan (tunduknya) anggota badan dengan ketaatan serta lisan dengan cara memuji dan menyanjungnya.
4.    Menyaksikan kenikmatan dan menjaga (diri dari) keharaman.
5.    Mengetahui kelemahan diri dari bersyukur.
6.    Menyandarkan nikmat tersebut kepada pemberinya dengan ketenangan.
7.    Engkau melihat dirimu orang yang tidak pantas untuk mendapatkan nikmat.
8.    Mengikat nikmat yang ada dan mencari nikmat yang tidak ada.

 

Allah berfirman dalam Surat Ibrohim ayat 7 :

“ Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS Ibrohim : 7)

  1. Istiqomah Sedekah

Sedekah adalah meninfaqkan sebagian rizki yang kita terima kepada fakir miskin, anak-anak terlantar dan orang-orang yang membutuhkan. Sedekah yang iklas merupakan kunci utama menuju kekayaan hakiki. Dengan bersedekah kita akan dapat banyak do’a baik dari orang yang kita beri sedekah dan orang disekeliling mereka.  Do’a orang lapar atau orang teraniaya itu tidak terhijab dan akan Allah kabulkan.

Allah berfirman dalam surat  Al Baqoroh ayat 261 :

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui” (QS Al Baqoroh : 261).

Pengertian menafkahkan harta di jalan Allah meliputi belanja untuk kepentingan jihad, pembangunan perguruan, rumah sakit, usaha penyelidikan ilmiah dan lain-lain, dalil-dalil lanjutan mengenai bersyukur dapat dilihat di surat Al Baqoroh : 262-271.

  1. Senang menyampaikan berita baik.

Setiap orang senantiasa gembira apabila mendapatkan kabar yang baik tentang dirinya atau kerabatnya. Agar bergaul dapat diterima dengan baik, mulailah dengan menceritakan hal yang baik-baik yang membuat orang disekitar kita gembira dan tidak tersinggung dengan apa yang kita ceritakan.

Untuk menjadi pribadi yang menarik juga harus bisa mendengrkan keluh keah orang lain dan senantiasa memberikan masukan yang baik.

Sebagaimana rasulullah SAW diutus oleh Allah untuk menyampaikanberita baik dan perngatan.

  1. Senantiasa memperbanyak bersilaturahmi

Menyambungkan tali silaturahim adalah sebuah perbuatan terpuji yang akan mendatangkan berbagai kemanfaatan antara lain :

  1. Dapat berkumpul dengan orang-orang sholeh/sholehah
  2. Mendatangkan keberkahan dan rizki yang tidak terduga
  3. Memprerat tali persaudaraan antar sesama muslim

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ ، وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barangsiapa yang ingin rizqinya diperluas dan umurnya ditambah, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi.”
Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنِ اتَّقَى رَبَّهُ ، وَوَصَلَ رَحِمَهُ ، نُسِّئَ فِي أَجَلِهِ ، وَثَرَى مَالُهُ ، وَأَحَبَّهُ أَهْلُهُ

“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah dan menyambung silaturahmi, maka ajalnya akan diundur, hartanya akan diperbanyak, dan akan dicintai oleh keluarganya.”

  1. Mudah meminta maaf dan memaafkan kesalahan

Kadang seseorang gengsi untuk meminta maaf jika telah berbuat kesalahan atau memberi maaf terhadap kesalahan orang lain, padahal itu adalah perbuatan yang akan mempersempit ruang gerak diri sendiri. Mulailah melakukan rutinitas dalam keluarga dengan melakukan ritual minta maaf setiap hari kepada anggota keluarga sehingga ganti hari dosa antar sesama keluarga nol kembali. Jangan memulai menumpuk-numpuk dosa, apalagi meminta maafnya setahun sekali saat hari raya idul fitri.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللهِ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa. Barangsiapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (Asy-Syura: 40)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (At-Taghabun: 14)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللهُ

Shadaqah –hakikatnya– tidaklah mengurangi harta, dan tidaklah Allah Subhanahu wa Ta’ala menambah seorang hamba karena memaafkan kecuali kemuliaan, dan tiada seorang yang rendah hati (tawadhu’) karena Allah Subhanahu wa Ta’ala melainkan diangkat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

  1. Senang menolong orang susah

Salah satu orang yang patut kita tolong adalah orang yang dalam keadaan kesusahan baik dalam menjalani hidup, berjuang melawan penyakit, tidak berdaya dan teraniaya. Menolong orang yang susah akan menimbulkan aura positif yang dipancar dari do’a-do’a orang yang kita tolong.

Dari Abu Hurairah ra, Nabi SAW, bersabda: “Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong hamba Nya selama hamba Nya itu suka menolong saudaranya”. (HR. Muslim, lihat juga Kumpulan Hadits Arba’in An Nawawi hadits ke 36).

Demikian tips yang bisa disampaikan pada kajian kali ini, semoga bermanfaat.

HUKUMAN TIDAK TERASA

HUKUMAN YANG TIDAK TERASA

Seorang murid mengadu kepada gurunya:

“Ustadz, betapa banyak kita berdosa kepada Allah dan tidak menunaikan hakNya sebagaimana mestinya, tapi saya kok tidak melihat Allah menghukum kita”

Sang Guru menjawab dengan tenang:
_”Betapa sering Allah menghukummu tapi engkau tidak terasa”_.

_”Sesungguhnya salah satu hukuman Allah yang terbesar yang bisa menimpamu wahai anakku, ialah: *Sedikitnya taufiq*  (kemudahan) untuk mengamalkan ketaatan dan amal amal kebaikan”_.

Tidaklah seseorang diuji dengan musibah yang lebih besar dari *”kekerasan hatinya dan kematian hatinya”*.

Sebagai contoh:
Sadarkah engkau, bahwa Allah telah *mencabut darimu rasa bahagia dan senang* dengan munajat kepadaNya, merendahkan diri kepadaNya, menyungkurkan diri di harapannya..?

Sadarkah engkau *tidak diberikan rasa khusyu’* dalam shalat..?

Sadarkah engkau, bahwa  beberapa hari2 mu telah berlalu dari hidupmu, tanpa membaca Al-Qur’an, padahal engkau mengetahui firman Allah:
_”Sekiranya Kami turunkan Al-Qur’an ini ke gunung, niscaya engkau melihatnya tunduk, retak, karena takut kepada Allah”_.

Tapi engkau tidak tersentuh dengan Ayat Ayat Al-Qur’an, seakan engkau tidak mendengarnya…

Sadarkah engkau, telah berlalu beberapa malam yang panjang sedang engkau tidak melakukan Qiyamullail di hadapan Allah, walaupun terkadang engkau begadang…

Sadarkah engkau, bahwa telah berlalu atasmu musim musim kebaikan seperti: Ramadhan.. Enam hari di bulan Syawwal.. Sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, dst.. tapi engkau belum diberi taufiq untuk memanfaatkannya sebagaimana mestinya..??

Hukuman apa lagi yang lebih berat dari itu..???
Tidakkah engkau merasakan beratnya mengamalkan banyak ketaatan (amal ibadah)..???

Tidakkah Allah menahan lidahmu untuk berdzikir, beristighfar dan berdo’a kepadanya..???

Tidakkah terkadang engkau merasakan bahwa engkau lemah di hadapan hawa nafsu..???

Hukuman apa lagi yang lebih berat dari semua ini..???

Sadarkah engkau, yang mudah bagimu berghibah, mengadu domba, berdusta, memandang ke yang haram..???

Sadarkah engkau, bahwa Allah membuatmu lupa kepada Akhirat, lalu Allah menjadikan dunia sebagai perhatian terbesarmu dan ilmu tertinggi..???

Semua *bentuk pembiaran* ini dengan berbagai bentuknya ini, hanyalah beberapa bentuk hukuman Allah kepadamu, sedang engkau menyadarinya, atau tidak menyadarinya…

Waspadalah wahai sahabatku, agar engkau tidak terjatuh ke dalam dosa dosa dan meninggalkan kewajiban kewajiban.

Karena *hukuman yang paling ringan* dari Allah terhadap hambaNya ialah:
_*”Hukuman yang terasa”* pada harta, atau anak, atau kesehatan._

Sesungguhnya *hukuman terberat* ialah: _*”Hukuman yang tidak terasa”*_ pada kematian hati, lalu ia tidak merasakan nikmatnya ketaatan, dan tidak merasakan sakitnya dosa._

Karena itu wahai sahabat2ku, *Perbanyaklah di sela sela harimu, amalan taubat dan istighfar, semoga Allah menghidupkan hatimu…*

(Diterjemahkan dari Taushiyah Syaikh Abdullah Al-‘Aidan di Masjidil Haram)
Sumber:  Silaturahim Founder (SF) Komunitas Islam Indonesia

Mau Istiqomah Shalat Dhuha?

Yuk Gabung Komunitas Dhuha Ummat (KODHAM) bersama member di lebih dari 15 Negara.. 

Klik tautan ini untuk daftar : 

https://chat.whatsapp.com/Hp5YJwloz40CNhs3YmBphO