Berpolitik Dalam Islam, Bolehkah?

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

🍃🌷Kenapa dan Bagaimana? Serta Jawabannya🌷🍃

Ikhwah fillah …

Mungkin masih ada di antara kita bertanya kenapa   berpolitik.

Jawabannya adalah ….

✔ Karena politik juga ditempuh para nabi ‘Alaihimussalam.

Rasulullah  ﷺ telah bersabda:
كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمْ الْأَنْبِيَاءُ
“Adalah Bani Israil, dahulu mereka di-siyasah-kan oleh para nabi.” (HR. Bukhari No. 3268 dan Muslim No.1842)

Maka, berpolitik adalah jalannya para nabi  sebagaimana da’wah dan jihad.

✔Karena politik itu melayani

Imam An Nawawi Rahimahullah menjelaskan: “Yaitu: mereka (para nabi) mengurus urusan mereka (Bani Israil) sebagaimana yang dilakukan para pemimpin (umara’) dan penguasa terhadap rakyatnya.    (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 6/316)

✔ Karena prinsip politik yang hakiki itu mengajak kepada kebaikan dan menjauhi kerusakan

Imam Ibnu ‘Aqil Al Hambali Rahimahullah menjelaskan:

السِّيَاسَةُ مَا كَانَ مِنْ الْأَفْعَالِ بِحَيْثُ يَكُونُ النَّاسُ مَعَهُ أَقْرَبَ إلَى الصَّلَاحِ وَأَبْعَدَ عَنْ الْفَسَادِ

“As Siyaasah (politik) adalah aktifitas yang memang  melahirkan maslahat bagi manusia dan menjauhkannya dari kerusakan (Al fasad).” (I’lamul Muwaqi’in, 6/26)

✔Karena hakikatnya politik adalah salah satu wujud keadilan Allah dan RasulNya

Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah menjelaskan:

وَنَحْنُ نُسَمِّيهَا سِيَاسَةً تَبَعًا لِمُصْطَلَحِهِمْ ، وَإِنَّمَا هِيَ عَدْلُ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ، ظَهَرَ بِهَذِهِ الْأَمَارَاتِ وَالْعَلَامَاتِ .

“Kami menamakannya dengan politik karena mengikuti istilah yang mereka buat. Padahal itu adalah keadilan Allah dan RasulNya, yang ditampakkan tanda-tandanya melalui politik.”  (Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyah, Ath Thuruq Al Hukmiyah, Hal. 18. Mathba’ah Al Madani. Tahqiq: Muhammad Jamil Ghazi)

Ikhwah fillah ……

Mungkin ada di antara kita bertanya, kenapa kita ikut dalam kompetisi perebutan kekuasaan?

Jawabannya adalah:

✔ Karena agama dan kekuasaan adalah saudara kembar, maka satukanlah!

Hujjatul Islam, Imam Al Ghazali Rahimahullah menjelaskan:

“Sesungguhnya dunia adalah ladang bagi akhirat, tidaklah sempurna agama kecuali dengan dunia. Kekuasaan dan agama adalah saudara kembar; agama merupakan  pondasi dan penguasa adalah penjaganya. Apa saja yang tidak memiliki pondasi akan hancur, dan apa saja yang tidak memiliki penjaga akan hilang. Dan tidaklah sempurna kekuasaan dan hukum kecuali dengan adanya pemimpin.” (Imam Al Ghazali, Ihya ‘Ulumuddin, 1/17. Mawqi’ Al Warraq) 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahulkah menjelaskan:

            “Wajib diketahui bahwa kepemimpinan yang mengurus urusan manusia termasuk kewajiban agama yang paling besar, bahkan agama dan dunia tidaklah tegak kecuali dengannya. Segala kemaslahatan manusia tidaklah sempurna kecuali dengan memadukan antara keduanya,  di mana satu sama lain saling menguatkan. Dalam perkumpulan seperti inilah diwajibkan adanya kepemimpinan, sampai-sampai Nabi  ﷺ mengatakan: “Jika tiga orang keluar bepergian maka hendaknya salah seorang mereka menjadi pemimpinnya.” Diriwayatkan Abu Daud dari Abu Said dan Abu Hurairah.   (As Siyasah Asy Syar’iyyah, 169. Mawqi’ Al Islam)

✔ Karena kekuasaan merupakan alat pukul nahi munkar yang sangat efektif

Utsman bin ‘Affan Radhiallahu ‘Anhu menjelaskan:

إن الله ليزع بالسلطان ما لا يزع بالقرآن

“Sesungguhnya Allah ﷻ memberikan wewenang kepada penguasa untuk menghilangkan   sesuatu (kemungkaran) yang  tidak bisa dihilangkan oleh Al Quran.” (Imam Ibnu Katsir, Al Bidayah wan Nihayah, 2/12. Dar Ihya At Turats) 

Kita akui dan melihat adanya manusia atau kemungkaran yang tidak bisa berubah menuju baik, dengan hanya petuah, nasihat, dan bimbingan Kitabullah. Mereka baru dapat diubah dengan kekuatan dan wewenang penguasa dan kekuasaan, berupa aparat dan peraturan.

Seribu khutbah khatib Jumat yang berkhutbah tentang khamr, belum tentu  dalam waktu dekat mampu menghilangkan khamr. Bandingkan dengan tanda tangan satu orang penguasa (cth: wali kota, bupati, gubernur) yang mengatur peredaran khamr, yang dilengkapi hukuman bagi para pelanggarnya.

Inilah kekuasaan, dia bisa memaksa, berbeda dengan nasihat ulama yang tugasnya: fadzakkir innama anta mudzakkir lasta ‘alaihim bimushaythir – “Berikanlah peringatakan, sesungguhnya tugasmu hanya memberi peringatakan, kamu tidak ada kuasa memaksa mereka.”

Ikhwah fillah ….

Mungkin ada di antara kita bertanya, bukankah kita para da’i ilallah, apakah tidak mengapa meminta-minta jabatan dan kekuasaan?

Jawabannya adalah:

Ya, Karena hal itu tidak mengapa  jika dia punya kecakapan dan kelayakan, bukankah kita berdoa kepada Allah ﷻ : waj’alnaa lil muttaqiina imaama – dan jadikanlah kami sebagai PEMIMPIN bagi orang-orang bertaqwa. Bukankah kita sering memintanya kepada Allah ﷻ ?

✔Karena Nabi ﷺ tidak melarang seseorang minta jabatan kepemimpinan jika dia pantas.

Utsman bin Abu Al ‘Ash Radhiallahu ‘Anhu  berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ اجْعَلْنِي إِمَامَ قَوْمِي قَالَ أَنْتَ إِمَامُهُمْ وَاقْتَدِ بِأَضْعَفِهِمْ وَاتَّخِذْ مُؤَذِّنًا لَا يَأْخُذُ عَلَى أَذَانِهِ أَجْرًا

Wahai Rasulullah jadikanlah aku sebagai pemimpin bagi kaumku! Beliau bersabda: “Engkau adalah pemimpin bagi mereka, perhatikanlah orang yang paling lemah di antara mereka, dan angkatkah seorang muadzin dan jangan upah dia karena azannya.” (HR. Abu Daud No. 531, Ahmad No. 17906, Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Kabir No. 8365, An Nasa’i dalam As Sunan Al Kubra No. 1636, Al Hakim No. 715, katanya: shahih sesuai syarat Imam Muslim. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: shahih. Ta’liq Musnad Ahmad No. 17906)

✔Karena para ulama pun tidak memandang itu sebagai perbuatan terlarang demi maslahat yang syar’i

Imam Abul Hasan Al Mawardi Rahimahullah  berkata:

“Sebagian fuqaha mengatakan bahwa memperebutkan jabatan kepepimpinan tidaklah tercela dan  terlarang, dan mengincar jabatan imamah bukan suatu yang dibenci.” (Al Ahkam As Sulthaniyah, Hal. 7)

Imam Ash Shan’ani  Rahimahullah mengomentari:

Hadits ini menunjukkan kebolehan meminta jabatan kepemimpinan dalam kebaikan. Telah ada di antara doa-doa para ibadurrahman, di mana Allahq Ta’ala mensifati mereka dengan sifat tersebut,  bahwa mereka berkata (Dan jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang bertaqwa), dan   meminta jabatan itu bukanlah merupakan hal yang dibenci. (Subulus Salam, 1/128)

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz Rahimahullah  berkata:

“Beliau (Utsman) Radhiallahu ‘Anhu meminta jabatan sebagai pemimpin karena pertimbangan maslahat syar’i, dalam rangka mengantarkan manusia kepada kebaikan, mengajarkan mereka, dan memerintahkan yang baik, dan mencegah kemungkaran, sebagaimana yang dilakukan Yusuf ‘Alaihissalam .

Berkata para ulama: bahwasanya meminta jabatan adalah perkara yang terlarang, jika memang tidak ada keperluan untuk itu karena hal itu berbahaya sebagaimana diterangkan dalam hadits yang menyebutkannya. Tetapi jika karena didorong oleh keperluan dan maslahat yang syar’i untuk memintanya maka hal itu dibolehkan, berdasarkan kisah Nabi Yusuf ‘Alaihissalam dan hadits ‘Utsman (bin Abu Al ‘Ash) Radhiallahu ‘Anhu tersebut. (Majmu’ Fatawa Ibni Baaz, 7/232)

Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr  Hafizhahullah: 

Maka, bolehkah meminta menjadi seorang pemimpin? Jawabannya: jika hal itu membawa kepada maslahat tidaklah apa-apa, karena kepemimpinan adalah termasuk qurbah (mendekatkan diri kepada Allah ﷻ) dan ibadah. (Syarh Sunan Abi Daud, 3/404)

✔ Karena larangan meminta jabatan berlaku bagi yang lemah seperti kasus Abu Dzar Al Ghifari Radhiallahu ‘Anhu, juga karena ketamakkan, dan ada orang yang dikecualikan dari larangan tersebut

Abu Dzar  Radhiallahu ‘Anhu berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَا تَسْتَعْمِلُنِي قَالَ فَضَرَبَ بِيَدِهِ عَلَى مَنْكِبِي ثُمَّ قَالَ يَا أَبَا ذَرٍّ إِنَّكَ ضَعِيفٌ وَإِنَّهَا أَمَانَةُ وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ إِلَّا مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ فِيهَا

Wahai Rasulullah, tidakkah engkau memperkerjakan aku? Lalu dia menepuk tangannya ke pundakku, lalu bersabda: “Wahai Abu Dzar, kamu ini lemah, sedangkan tugas itu adalah amanah, dan pada hari kiamat hal itu akan menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang  mengambilnya sesuai haknya dan menjalankannya dengan baik.” (HR. Muslim No. 1725)

Hadits ini menunjukkan sebab larangan meminta jabatan, yakni kelemahan dari Abu Dzar Al Ghifari Radhiallahu ‘Anhu. Kelemahan itu dapat membuat seseorang tidak mampu menjalankan amanahnya sehingga akan membawa malapetaka dan penyesalan di akhirat. Sehingga larangan ini adalah khusus bagi mereka yang lemah. Ada pun bagi yang mampu menjalankan dengan baik dan sesuai haknya, maka ini diluar larangan tersebut dan tidak akan mengalami penyesalan yang dimaksud. Oleh karenanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan: “ …  kecuali bagi orang yang  mengambilnya sesuai haknya dan menjalankannya dengan baik.”

Pengecualian ini harus diperhatikan, jangan hanya melihat larangannya saja. Namun, di sisi lain pengecualian ini juga menunjukkan betapa hanya sedikit manusia yang mampu menjalankannya, sehingga dia dijadikan pengecualian, dan biasanya pengecualian selalu lebih sedikit dibanding umumnya.

Imam Abu Ja’far Ath Thahawi Rahimahullah   mengatakan:

Dan “dikecualikan bagi yang mengambilnya sesuai haknya dan menjalankannya dengan baik”, bahwasanya siapa saja yang seperti itu maka dia bukanlah termasuk yang dilarang dan bukan termasuk yang dibenci, sesungguhnya dibencinya itu adalah jika melekat padanya ketamakan untuk meminta jabatannya itu. (Bayan Musykil Al Aatsar, 1/26)

Imam An Nawawi Rahimahullah menjelaskan bahwa  penyesalan yang dihasilkan dari jabatan pada hari kiamat nanti adalah besar, tetapi pahalanya juga besar bagi yang benar menjalankannya. Beliau mengatakan:

“Hadits ini merupakan dasar yang agung dalam hal menjauhi dari jabatan kepemimpinan, apalagi bagi mereka yang lemah dalam menjalankan tugas-tugas kepemimpinan itu. Ada pun kehinaan dan penyesalan itu adalah hak bagi siapa yang bukan ahlinya (tidak memiliki kapasitas, pen), atau dia ahli tapi tidak menjalankannya secara adil, maka Allah  ﷺ akan membuatnya hina pada hari kiamat, dan akan membuka kejelekannya serta menyesali atas apa yang dia lalaikan. Sedangkan bagi orang yang ahli dan adil, maka baginya keutamaan yang agung,  seperti yang nampak dalam berbagai hadits shahih seperti hadits tujuh golongan manusia yang akan Allah  ﷻ  berikan naungan kepada mereka.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 12/211)

Ikhwah fillah …

Mungkin di antara kita ada yang bertanya, bagaimana kalau perjuangan politik kita gagal atau orang yang kita pilih melakukan penyimpangan?

Jawabannya:

✔  Terkadang kita melihat ada individu yang terseok-seok dalam menjalankan tugas-tugas publiknya, dia tidak mampu menghadapi ‘dunia  baru’ yang sebelumnya justru dia jauhi yakni pemerintahan ‘thaghut’. Namun akhirnya dia tenggelam dalam kesalahan baik yang prinsip atau partikular, baik kesalahan moralitas atau pemikiran. Kasus-kasus yang sifatnya perorangan ini tidak bisa dijadikan alasan melarang  atau menarik diri dari partisipasi politik yang lebih bermaslahat umum, sebab jika ternyata secara global dan lebih luas justru lebih mendatangkan maslahat yang langsung dirasakan masyarakat, maka tidak cukup alasan untuk menghentikan  partisipasi ini. Sebab kasus tersebut adalah akibat kelemahan individu itu sendiri.

Syaikh Ahmad Ar Raisuni Hafizhahullah menjelaskan:

“Sebenarnya adanya tantangan dan kesulitan adalah realita saat ini dan masa lalu. Itu semua bukan alasan bagi kita, itu adalah alasan bagi orang-orang yang lemah dan semisal mereka yang telah melakukan penyimpangan. Penyimpangan personal yang mereka lakukan merupakan bukti kelemahan pribadi yang bersangkutan, dan itu bukan berarti tidak ada lagi dari umat ini yang berhasil dalam partisipasi politiknya. Orang yang baik tidak hanya berfikir dua kemungkinan dalam berpolitik: gagal lalu keluar atau larut dalam penyimpangan. Di dalam umat dan jamaah ini pasti ada tambang berharga yang mampu berhasil dalam partisipasi politiknya. Kita saling tolong menolong dalam barisan  yang solid dan kokoh dalam rangka terus mewujudkan keberhasilan  partisiapasi dalam politik ini.”
(Lihat teks aslinya dalam http://www.raissouni.org/Docs/155200710648AM.doc)

Di atas semuanya adalah Ridha Allah dan SurgaNya. Jangan sampai target kemenangan politik sebagai penghalang tujuan tertinggi dan mulia. Sebab yang kita inginkan adalah keberkahan dan curahan rahmatNya, maka jalankanlah perjuangan dengan cara-cara yang mulia dan tetap dalam koridor syariatNya yang suci.

Wallahu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s