Artikel Islami : Hati Sebagai Cermin Akhlaq dan Sensor Cahaya Ilahi

HATI SEBAGAI CERMIN AKHLAQ DAN SENSOR CAHAYA ILAHI                                                                                                       (Oleh Ir. Asep Candra Hidayat, M.Si)                                           

Keberadaan hati dalam diri manusia, tak ubahnya seperti lingkaran penala (sensor gelombang dalam sebuah pesawat radio atau televisi) yang berfungsi untuk menangkap frekuensi gelombang yang lewat di hadapannya.  Manakala sensor tersebut memiliki ferekuensi yang sama dengan frekuensi gelombang yang ada di hadapannya, maka secara otomatis frekuensi gelombang tersebut akan tertangkap oleh sensor tersebut dan kemudian diproses sedemikian rupa oleh suatu mekanisme tertentu yang ada di dalamnya sehingga pada akhirnya pesawat tersebut akan menampilkan pesan yang dibawa oleh frekuensi tersebut melalui manifestasi audio visual yang akan ditangkap oleh panca indrta kita.  Demikian pula halnya dengan hati manusia, ia tak ubahnya seperti sensor tersebut, artinya mekanismenya persis sama dengan cara kerja pesawat tersebut, dimana ia akan menangkap setiap getaran informasi datang ke hadapannya.  Jika getaran hatinya sama persis dengan getaran frekuensi yang ada di hadapannya, maka hati tersebut akan bergetar dan mampu menampilkan pesan yang sampai ke hadapannya.  Namun manakala frekuensi hati tersebut tidak sama dengan frekuensi yang masuk ke hadapannya, maka tentu saja ia tak akan mampu menampilkan pesan tersebut, karena ia tak mampu menangkapnya.

Peristiwa tersebut adalah suatu mekanisme dari fenomena Hukum Alam (Sunatullah) yang mengikuti serangkaian hukum proses sebab akibat yang sudah ditentukan aturan dan kadarnya oleh Allah SWT.  Peristiwa tersebut sendiri secara ilmiah diistilahkan dengan istilah “Resonansi”  atau peristiwa turut bergetarnya materi/benda yang satu karena bergetarnya materi/benda yang lain yang memiliki frekuensi yang sama dengan dirinya.  Peristiwa tersebut sering kali dijumpai dalam kejadian dalam kehidupan sehari-hari seperti :

Peristiwa bergetarnya sebuah garpu tala karena bergetarnya garpu tala yang lain.Peristiwa bergetarnya telpon atau handphone karena frekuensinya digetarkan oleh telpon atau handphone yang lain.Peristiwa tertangkapnya suatu objek atau benda dalam layer suatu radar.Peristiwa tertangkapnya bayangan suatu objek/benda oleh sebuah kameraPeristiwa tertangkapnya bayangan suatu objek/benda oleh mata kitaPeristiwa bergetarnya kaca rumah karena lewatnya sebuah pesawat jet yang dekat dengan dirinya.Peristiwa pecahnya kaca sebuah bangunan karena ledakan sebuah bom yang ada di sekitarnya.dll

Peristiwa-peristiwa tersebut adalah sebagian fenomena yang sering kita saksikan sehari-hari.  Masih banyak fenomena lain yang tidak dapat kita saksikan dengan panca indra kita. Bahkan fenomena sesungguhnya yang tidak tertangkap dengan panca indra kita tersebut jumlahnya tak terhingga dan tak mungkin dapat kita hitung.

Fenomena-fenomena tersebut senantiasa ada selama kita hidup dan keberadaanya senantiasa meliputi kita dalam jumlah yang tak terhingga, baik yang nyata maupun yang tidak nyata, baik yang kita sadari maupun yang tidak kita sadari.

Bagaimana caranya agar kita bisa mengetahui keberadaan fenomena-fenomena baik yang nyata maupun yang tidak nyata tersebut ?  Apakah pancaindra kita mampu menangkap semua fenomena tersebut  ?  Jawabannya adalah tidak.  Kenapa ?  Karena panca indra kita yang kita miliki hanya mampu menangkap sebagian saja dari fenomena tersebut, mengingat tidak semua frekuensi yang dipancarkan oleh fenomena tersebut mampu ditangkap oleh panca indra kita. Kenapa ?  Panca indra kita memiliki kemampuan yang terbatas, yang hanya mampu menangkap frekuensi-frekuensi tertentu saja yang berada dalam batas ambang kemampuannya.  Kemampuan daya tangkap panca indra kita terhadap frekuensi yang ada berdasarkan hasil penelitian berkisar antara 16,5 hertz (getaran per detik) sampai dengan 20.000 hertz.

Jangkauan frekuensi yang sangat terbatas tersebut tidak akan mampu menangkap frekuensi gerakan semut di dinding yang berada di bawah 16.5 hertz, atau bahkan menangkap frekuensi radio atau televisi yang berada di atas 20.000 hertz.  Kenapa begitu ?  Karena Allah sebagai pencipta kita sangat menyayangi dan mengasihi kita, mengapa ?  Karena jika kita bisa mendengar frekuensi yang berada baik dibawah maupun di atas batas ambang frekuensi tersebut (di bawah 16.5 hertz dan di atas 20.000 hertz), maka kita selamanya tidak akan bisa tenang dan  tidak bisa tidur (istirahat) karena semua suara akan terdengar sama kita, baik itu suara yang berada dibawah frekuensi 16.5 hertz seperti halnya langkah semut, suara gerakan atom, suara gerakan amuba, semua gerakan molekul, semua gerakan dan suara binatang, dll maupun suara yang berada di atas frekuensi 20.000 hertz seperti siaran acara televisi, siaran radio, pesan frekeuensi telpon/handphone, wujud makhluk gaib seperti jin, setan dan malaikat, dll baik yang dekat maupun yang jauh dengan kita.

Sekarang muncul pertanyaan, apakah bisa kita menangkap semua frekuensi tersebut ? dan bagaimana caranya ?  Jawabannya adalah  bisa dan caranya adalah dengan hati.  Mengapa bisa begitu dan bagaimana caranya ? Mari kita pelajari dan pahami uraian dan penjelasan berikut ini.

Hati adalah sensor jiwa, dimana kita bisa menangkap dan merespon setiap informasi yang masuk.  Tentu saja informasi yang masuk tersebut dapat masuk baik melalui panca indra maupun langsung melalui getaran yang masuk ke dalam hati tersebut ?  Bagaimana bisa ?

Coba kita perhatikan lampu yang menyala di rumah kita, ia dapat menyala karena kita menekan tombol saklarnya bukan ?  Begitu saklar tersebut ditekan maka dengan otomatis lampu tersebut akan menyala pada saat bersamaan kita menekan saklarnya, nyaris tanpa jeda sedikitpun.  Begitu pula coba kita perhatikan pada saat kita menonton siaran langsung pertandingan sepak bola dari luar negeri.  Meskipun kita dipisahkan oleh jarak yang sangat jauh, namun kita bisa menyaksikan siaran tersebut nyaris pada saat yang bersamaan.  Hal tersebut terjadi juga dengan hati kita,  sebenarnya hati kita tersebut mirip sebuah cermin atau sensor .  Manakala cermin itu persis menangkap frekuensi cahaya yang menimpa dirinya maka tentu saja kita dapat menangkap fantulan bayangan tersebut asalkan sudut pantulnya tepat berada di depan mata kita.  Sama halnya dengan sebuah sensor, iapun akan mampu menangkap frekuensi gelombang yang datang kepadanya asalkan sesuai dengan frekeunsi sensornya itu sendiri.  Namun akan muncul satu pertanyaan, apakah cermin atau sensor tersebut akan mampu menangkap setiap bayangan atau getaran yang ada ?  Jawabanya tidak ?  Mengapa ?  Karena belum tentu cermin atau sensor tersebut berada dalam kondisi yang baik, artinya belum tentu cermin tersebut bersih, belum tentu sensor itu tersebut juga sensitif terhadap getaran.  Kalau cermin itu kusam atau berkarat, maka ia tidak akan mampu menangkap bayangkan dengan sempurna, apalagi cermin tersebut kotor, maka ia tidak akan mampu menangkap bayangan tersebut sama sekali.  Begitu pula dengan sensor, jika sensor tersebut tidak sensitif, maka sensor tersebut tidak akan mampu menangkap getaran halus yang masuk dengan baik, terlebih sensor tersebut rusak , maka jangan harap ia akan mampu menangkap getaran yang tinggi sekalipun

Begitu halnya dengan hati kita, hati kita akan mampu menangkap frekuensi gelombang yang datang ke hadapannya, jika dan hanya jika hati kita tersebut suci dan bersih dari kotoran hati, namun jika tidak artinya jika hati tersebut diliputi oleh kotoran yang melekat pada dirinya, maka ia tidak akan mampu menangkapnya dengan baik.  Terlebih jika hati itu sudah terlanjur kotor sama sekali, maka jangan harap hati kita akan mampu menangkap semua informasi yang masuk, karena informasi tersebut akan terhalang oleh kotoran tersebut.

Hati yang bersih, akan mampu menangkap frekuensi informasi yang lewat ke hadapannya, selemah apapun frekuensi tersebut. Hati yang bersih akan mampu menangkap getaran sinyal dari sekelilingnya baik yang baik maupun yang buruk, baik yang datang dari makhluk hidup maupun yang datang dari alam lingkungan sekelilingnya.  Baik yang muncul dari sikaf, perilaku maupun dari tindakan yang nyata.  Baik yang nyata, maupun yang abstrak.  Baik yang lahir maupun yang dzohir.  Bahkan lebih dari itu iapun akan mampu menangkap getaran frekuensi cahaya Ilahi (Hidayah) yang datang ke hadapannya. Hidayah Allah hanya akan dapat ditangkap oleh orang yang memiliki hati yang bersih dan suci. Hidayah Allah itu sendiri sebenarnya amat luas seluas langit dan bumi, namun hidayah seluas itu justru tidak akan memiliki makna sama sekali dan tidak ada artinya apa-apa bagi orang yang memiliki hati yang kotor.

Setiap orang tentunya senantiasa mengharapkan sekali akan Hidayat Allah tersebut, untuk menuntun jalan kehidupannya ke arah jalan yang benar jalan yang diridhoi Allah.  Kalau begitu maka sebenarnya sangat mudah untuk menangkap Hidayat tersebut kapan saja dimana saja dan bagi siapa saja. Caranya adalah bersihkan hati kita dari segala macam kotoran yang melekat tersebut.  Pertanyaannya adalah, apa saja yang bisa menyebabkan hati kita kotor ?  Jawabannya sangat sederhana yaitu segala sesuatu yang akan mengarahkan hati kita untuk tidak berbuat ikhlas. Tentu kita bertanya apa sebenarnya definisi ikhlas itu ?  Ikhlas adalah sikap hati yang mengarahkan hati untuk berniat dan berbuat dalam segala sesuatu hanya karena Allah semata. Artinya Ikhlas adalah orientasi positif yang hanya untuk Allah semata, tidak untuk yang lain. Masalahnya adalah justru sekarang sebagian besar orang pada umumnya sangat jauh dari dari sandaran ikhlas hanya karena Allah semata, sekarang orang lebih cenderung bahkan seratus persen bersandar pada aspek non Ilahi, aspek keduniawian yang notabene adalah perangkap setan.  Orang sekarang semakin terpedaya oleh gemerlapnya duniawi, baik itu harta (materi), tahta (kedudukan/jabatan), popuratitas dan hal-hal lain yang dapat dianggap dapat memuaskan dorongan bathin dan hawa napsunya.

Dengan materi/dunia yang ia miliki, sebenarnya disadari atau tidak ia secara langsung telah terjebak dalam pilihan yang salah, artinya orientasi yang ia tuju sudah salah arah, tidak lagi dalam kerangka mencari ridho Allah, melainkan dalam kerangka mencari kepuasa duniawi.  Jika ini yang terjadi, maka bukanlah pahala yang akan ia dapatkan, melainkan dosa.  Nauzubilaahimindzalik.

Dalam ilmu teknik pengambilan keputusan, jika kita salah dalam menentukan pilihan, maka konsekuensi dan implikasinya adalah bisa berdampak luas, paling tidak adalah sebagai berikut :

Tujuan tidak akan tercapaiDampak negatif akan segera kita hadapiKerugian-kerugian lain akan segera kita dapatkan, misalnya kerugian waktu, biaya, tenaga, sosial (dikucilkan orang), moral (malu), dllMembahayakan keselamatan kitaMendapatkan murka dan azab Allah

Supaya kita terhindar dari hal-hal tersebut, maka seyogyanya kita mengetahui hal-hal apa saja secara kongkret yang harus kita hindari jauh-jauh untuk tidak kita lakukan.  Hal-hal yang harus kita hindari jumlahnya sangat banyak, namun secara umum dapat disimpulkan ke dalam satu hal, yaitu hindari penyakit hati, yaitu penyakit yang akan membuat hati tidak sehat lagi, karena diracuni oleh hal-hal yang sifanya dapat merusak hati itu sendiri.  Apa sajakah itu ?  Jawabannya sangat luas, namun dapat dikelompokkan sebagai berikut :

Hindari suu’zon (berprasangka buruk kepada orang lain)Hindari sifat iri dan dengki terhadap orang lainHindari perasaan dendamHindari hal-hal yang akan menimbulkan fitnah bagi orang lainHindari mencari-cari kesalahan orang lainHindari menggunjing dan menjelek-jelekkan orang lainHindari sifat sombong dan takaburHindari hal-hal yang akan merusak nilai-nilai akidah dan keimananHindari hal-hal yang akan membawa kemaksiatan dan kemungkaran, seperti judi, mabuk, madat, prostitusi, tindak kriminak, kekerasan, pemerkosaan dan kekejaman terhadap orang lain.Dll

Hal-hal tersebut di atas seringkali melekat pada diri kita selaku orang yang mengaku beriman kepada Allah SWT.  Kalau itu yang terjadi, maka azab Allah akan lebih dahsyat lagi kita dapatkan di yaumil akherat kelak.  Mengapa ?  karena hukuman yang keras hanya berlaku bagi orang yang tahu aturan main, tetapi melanggarnya, sedangkan bagi orang yang belum tahu aturan mainnya, masih ada kemungkinan untuk bisa dimaklumi dan dimaapkan kekeliruannya tersebut Oleh Allah SWT.

Kala kita mengaku sebagai orang yang beriman, maka hendaknya aturan main tersebut dipegang untuk dijadikan pegangan agar kita tidak melenceng dan salah arah dari aturang yang sudah ditentukan tersebut.

Terhadap hal-hal tersebut di atas, umumnya orang masih bisa menghindari untuk satu hal, tetapi tidak dapat menghidari untuk hal lain.  Sifat suu’dzon misalnya, ini hampir menerpa setiap orang yang mengaku dirinya beriman, dimanapun ia berada, kapanpun dan dimanapun.  Sifat suu’dzon tersebut senantiasa melekat dalam hatinya.  Mengapa ?  Karena sifat suu’dzon tersebut muncul karena pengaruh kita terlalu mencintai dunia dibanding keyakinan dan keimanan kita tentang adanya hari perhitungan dan pembalasan di akhirat yang akan memperhitungkan dan menghukum sifat suu’zdon tersebut.  Sifat suu’dzon muncul pada diri seseorang dimana orang tersebut lebih menghargai nilai sebuah materi (harta) dibanding pentingnya nilai hubungan kemanusiaan.  Ia lebih takut kehilangan materi (harta) yang nilainya mungkin tidak seberapa dibandingkan dengan hilangnya nilai persaudaraan, persahabatan dan pertemanan.  Orang seperti ini dalam setiap pergaulan akan senantiasa selalu waspada dan selalu menaruh rasa curiga yang mestinya tidak terjadi.  Orang seperti ini senantiasa menuruti dorongan hati dan hawa napsunya ketimbang akal sehat dan iman.   Orang seperti ini manakala bergaul dengan orang lain akan senantiasa mengecek barang milik dirinya, misalnya handphone, dompet, dll, manakala orang lain tersebut dekat dengan dirinya.  Atau mungkin ia akan selalu menjaga barang yang ia anggap sangat berharga tersebut sampai orang yang ia curigai tersebut pergi atau pulang.  Ia mungkin tidak menyadari bahwa apa yang ia lakukan tersebut dirasakan dan diketahui oleh orang tersebut yang justru sangat menyinggung dan melukai perasaannya.  Akibatnya apa ?  Akibatnya adalah :

Orang lain tersebut secara diam-diam mulai tidak respek dan antipati terhadapnya.Ia akan memetik dosa dari apa yang ia lakukan.Ia beresiko untuk mendapatkan hal terburuk akibat do’a buruk dari orang yang dizaliminya.Azab akhirat telah menantinya

Mengapa azab di akhirat akan ia dapatkan ?  Karena apa yang ia lakukan tersebut tak ubahnya seperti perbuatan setan.  Dimana Allah berfirman bahwa “Janganlah kau turuti langkah-langkah setan, karena setan itu musuh yang nyat bagimu”  Perbuatan berprasangka buruk (suu’dzon) tersebut jelas-jelas merupakan bisikan setan, karena Allah telah berpirman bahwa “…… yang menghembuskan prasangka buruk tersebut adalah setan, yaitu dari bangsa jin dan manusia”  Apa artinya ini ?  Artinya adalah ada 2 hal, yaitu yang pertama adalah bahwa hembusan prasangka  buruk itu dihembuskan sendiri oleh setan yang membisikan ke dalam hati busuknya, dan yang kedua adalah bahwa setelah ia terpengaruh oleh bisikan setan tersebut, maka ia sendiri menjadi setan.  Lantas bagaimana kalau ia sendiri telah menjadi setan ?  Kalau ia sudah menjadi setan, maka jelas hukumannya adalah azab api neraka.

Demikianlah hukumannya orang yang punya hati yang selalu diisi dengan sifat suu’dzon atau hal-hal buruk lainnya karena mengikuti cumbu rayu dan bisikan setan yang menganggap dunia ini indah dibanding keindahan surga di akhirat. Nauzubillahiminzalik.

Mudah-mudahan setelah kita memahami ini semua, kita bisa merubah diri kita 180 derajat ke arah sifat yang baik, sifat yang diisi oleh prasangka baik dan hal-hal atau perbuatan-perbuatan yang terpuji dan membawa kemaslahatan baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain. Amiin

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s