BENARKAH SHALAT DHUHA MEMBUKA PINTU RIZKI

📣 Kodham Media
📚Motivasi Dhuha

Hari Tanggal : Rabu 30 September 2015 🌝 16 Dzulhijjah 1436 H
No                   : 30/KOM/09/2015
Tujuan         : Sahabat Kodham dan Umum

💟🍑💟🍑💟🍑💟🍑💟

🔮Benarkah Shalat Dhuha Membuka Pintu Rezeki?

Islam mengajarkan, agar kita berusaha mengejar kebahagiaan akhirat sebanyak-banyaknya, melebihi usaha kita dalam mengejar dunia.

Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi.(QS. Al-Qashas: 77)

Anda bisa perhatikan, Allah mengajak kita untuk menjadikan dunia ini kesempatan mencari kebahagiaan bagi akhirat, sebisa yang kita lakukan. Akan tetapi, jangan 100%. Jangan lupakan bagian dari kehidupan dunia.

Setiap muslim, pasti dia melakukan aktivitas dunia dan aktivitas akhirat. Berdasarkan ayat di atas, seharusnya aktivitas akhirat, lebih banyak dari pada aktivitas dunia. Dengan kata lain, orientasi akhirat, lebih dominan dari pada orientasi dunia.

Namun sangat disayangkan, di zaman ini, prinsip yang diajarkan pada ayat di atas dibalik. Orientasi dunia, jauh lebih dominan dari pada orientasi akhirat. Bahkan sampai amal ibadah yang seharusnya dilakukan untuk akhirat, turut dikorbankan untuk mendapatkan dunia.

Lebih dari itu, ada satu ayat yang selayaknya perlu kita ingat ketika kita sedang beramal. Yaitu firman Allah,

🍑Siapa yang menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya maka akan Kami berikan imbalan amal mereka di dunia dan tidak dikurangi. Mereka itulah orang-orang yang hanya akan mendapatkan neraka di akhirat dan terhapuslah segala yang telah mereka lakukan dan batal perbuatan yang telah mereka lakukan.(QS. Hud: 15 16).

Untuk itu, murnikan niat amal kita untuk mendapat ridha Allah, dan bukan tendensi dunia. Agar amal kita menjadi amal yang ikhlas.

♻Keutamaan Shalat Dhuha untuk Akhirat

Terdapat banyak keutamaan shalat dhuha. Dan jika perhatikan, Rasulullahshallallahu alaihi wa sallamlebih banyak menekankan masalah akhirat.

Kita simak beberapa hadis berikut:

🐾Pertama, hadis dari Abu Buraidahradhiyallahu anhu, bahwa Rasulullahshallallahu alaihi wa sallambersabda,

Dalam diri manusia terdapat 360 ruas tulang, wajib bagi semua orang untuk mensedekahi setiap ruas tulangnya. Para sahabat bertanya: Siapakah yang mampu melakukan hal itu, wahai Nabi Allah? Beliau bersabda: Menutupi ludah di masjid dengan tanah, menyingkirkan sesuatu dari jalan (bernilai sedekah). Jika kamu tidak bisa mendapatkan amalan tersebut maka dua rakaat Dhuha menggantikan (kewajiban)mu.(HR. Abu Daud 5242, Ahmad 23037 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

🐾Kedua, hadis dari Abu Hurairahradhiyallahu anhu,

Rasulullahshallallahu alaihi wa sallammengutus sekelompok utusan perang, kemudian utusan ini membawa banyak harta rampasan perang dan pulangnya cepat. Kemudian ada seorang berkata: Wahai Rasulallah, kami tidak pernah melihat kelompok yang lebih cepat pulang dan lebih banyak membawa ghanimah melebihi utusan ini. Kemudian Beliau menjawab:Maukah aku kabarkan keadaan yang lebih cepat pulang membawa kemenangan dan lebih banyak membawa rampasan perang? Yaitu seseorang berwudlu di rumahnya dan menyempurnakan wudlunya kemudian pergi ke masjid dan melaksanakan shalat subuh kemudian (tetap di masjid) dan diakhiri dengan shalat Dhuha. Maka orang ini lebih cepat kembali pulang membawa kemenangan dan lebih banyak rampasan perangnya.

(HR. Abu Yala dalam Musnadnya no. 6559, Ibn Hibban dalam Shahihnya no 2535, dan dishahihkan al-Albani dalam Shahih Targhib wat Tarhib 664)

🐾Ketiga, hadis dari Abu Hurairahradhiyallahu anhu, Rasulullahshallallahu alaihi wa sallambersabda,

Dari Abu Hurairahradhiyallahu anhu, Rasulullahshallallahu alaihi wa sallambersabda: Tidak ada yang menjaga shalat Dhuha kecuali para Awwabin beliau mengatakan:Shalat Dhuha adalah shalatnya para Awwabin

(HR. Ibn Khuzaimah dalam Shahihnya no. 1224, Hakim dalam Mustadrak 1182 dan dihasankan al-Adzami)

Sumber
http://bit.ly/1QJtavC

Kodham Center:
089502816008
=========================
FB : Komunitas Dhuha Ummat
FP : Komunitas Dhuha Ummat
Twitter : @DhuhaUmmat
Website:kodham.org
Blog: kodham.wordpress.com
=========================
Cara gabung kodham
Ketik : GabungKodham#nama#L/P#umur#no WA/PIN BBM#domisili#aktivitas
Kirim ke
⏩ WA
Ikhwan : Akh Irawan (089630319724 )
Akhwat: Ukh Suzan (08563212921)
⏩ BBM
Ikhwan : Akh Rocky (553F7F7F)
Akhwat : Ukh indri (28645022)
========================

Motivasi Puasa Sunnah

📣 Kodham Media
📚Motivasi Puasa Sunnah

Hari Tanggal : Selasa 29 September 2015 🌝 15 Dzulhijjah 1436 H
No                   : 29/KOM/09/2015
Tujuan         : Sahabat Kodham dan Umum

🍃💝🍃💝🍃💝🍃💝🍃

🍃🍃 Ketentuan Penting dalam Puasa Sunnah

🚀 Segala puji bagi Allah, Rabb pemberi segala nikmat. Shalawat dan salam kepada Nabi akhir zaman, begitu pula pada istri, keluarga dan para sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti mereka hingga akhir zaman.

Dalam beberapa posting terdahulu, kami telah banyak membahas mengenai macam-macam puasa sunnah. Saat ini kita akan melihat ketentuan penting dalam melaksanakan puasa sunnnah, yang mungkin di antara kita belum mengetahuinya. Semoga bermanfaat.

📝 Pertama: Boleh berniat puasa sunnah setelah terbit fajar jika belum makan, minum dan selama tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa. Berbeda dengan puasa wajib maka niatnya harus dilakukan sebelum fajar.

Dalil masalah ini adalah hadits ‘Aisyah berikut ini.

Dari Aisyah Ummul Mukminin, ia berkata,

دَخَلَ عَلَىَّ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- ذَاتَ يَوْمٍ فَقَالَ « هَلْ عِنْدَكُمْ شَىْءٌ ». فَقُلْنَا لاَ. قَالَ « فَإِنِّى إِذًا صَائِمٌ ». ثُمَّ أَتَانَا يَوْمًا آخَرَ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أُهْدِىَ لَنَا حَيْسٌ. فَقَالَ « أَرِينِيهِ فَلَقَدْ أَصْبَحْتُ صَائِمًا ». فَأَكَلَ.

“Pada suatu hari, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menemuiku dan bertanya, “Apakah kamu mempunyai makanan?” Kami menjawab, “Tidak ada.” Beliau berkata, “Kalau begitu, saya akan berpuasa.” Kemudian beliau datang lagi pada hari yang lain dan kami berkata, “Wahai Rasulullah, kita telah diberi hadiah berupa Hais (makanan yang terbuat dari kura, samin dan keju).” Maka beliau pun berkata, “Bawalah kemari, sesungguhnya dari tadi pagi tadi aku berpuasa.” (HR. Muslim no. 1154).

An Nawawi memberi judul dalam Shahih Muslim, “Bab: Bolehnya melakukan puasa sunnah dengan niat di siang hari sebelum waktu zawal (bergesernya matahari ke barat) dan bolehnya membatalkan puasa sunnah meskipun tanpa udzur. ”

📝 Kedua: Boleh menyempurnakan atau membatalkan puasa sunnah.

Dalil dari hal ini adalah hadits ‘Aisyah yang telah kami sebutkan di atas.

Ada dua pelajaran yang bisa kita petik dari hadits ‘Aisyah di atas sebagaimana penjelasan An Nawawi rahimahullah:

Puasa sunnah niatnya boleh di siang hari sebelum waktu zawal (sebelum matahari bergeser ke barat). Inilah pendapat mayoritas ulama.Puasa sunnah boleh dibatalkan dengan makan di siang hari karena ia hanya puasa sunnah saja. Jadi puasa sunnah merupakan pilihan bagi seseorang ketika ia ingin memulainya, begitu pula ketika ia ingin meneruskan puasanya. Inilah pendapat dari sekelompok sahabat, pendapat Imam Ahmad, Ishaq, dan selainnya. Akan tetapi mereka semua, termasuk juga Imam Asy Syafi’i bersepakat bahwa disunnahkan untuk tetap menyempurnakan puasa tersebut.[1]

📝 Ketiga: Seorang istri tidak boleh berpuasa sunnah sedangkan suaminya bersamanya kecuali dengan seizin suaminya.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَصُومُ الْمَرْأَةُ وَبَعْلُهَا شَاهِدٌ إِلاَّ بِإِذْنِهِ

“Janganlah seorang wanita berpuasa sedangkan suaminya ada kecuali dengan seizinnya.”[2] Imam Bukhari membawakan hadits ini dalam Bab: Puasa sunnah si istri dengan izin suaminya.

An Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Yang dimaksudkan dalam hadits tersebut adalah puasa sunnah yang tidak terikat dengan waktu tertentu. Larangan yang dimaksudkan dalam hadits di atas adalah larangan haram, sebagaimana ditegaskan oleh para ulama Syafi’iyah. Sebab pengharaman tersebut karena suami memiliki hak untuk bersenang-senang dengan istrinya setiap harinya. Hak suami ini wajib ditunaikan dengan segera oleh istri. Dan tidak bisa hak tersebut terhalang dipenuhi gara-gara si istri melakukan puasa sunnah atau puasa wajib yang sebenarnya bisa diakhirkan.”[3]

Lalu bagaimana jika suami tidak di tempat seperti ketika suami bersafar?

Jawabannya, boleh ketika itu si istri berpuasa karena sebab pelarangan tadi tidak ada.

An Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Adapun jika si suami bersafar, maka si istri boleh berpuasa. Karena ketika suami tidak ada di sisi istri, ia tidak mungkin bisa bersenang-senang dengannya.”[4]

Semoga artikel ini bermanfaat. Jangan ketinggalan membaca artikel puasa sunnah lainnya di kategori “Puasa” di web ini.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihat.

Selesai disusun di Panggang-GK, 20 Jumadil Awwal 1431 H (04/05/2010)

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber
http://bit.ly/1L0Oqx6

Kodham Center:
089502816008
=========================
FB : Komunitas Dhuha Ummat
FP : Komunitas Dhuha Ummat
Twitter : @DhuhaUmmat
Website:kodham.org
=========================
Cara gabung kodham
Ketik : GabungKodham#nama#L/P#umur#no WA/PIN BBM#domisili#aktivitas
Kirim ke
⏩ WA
Ikhwan : Akh Irawan (089630319724 )
Akhwat: Ukh Suzan (08563212921)
⏩ BBM
Ikhwan : Akh Rocky (553F7F7F)
Akhwat : Ukh indri (28645022)
========================

Artikel Islami : Hati Sebagai Cermin Akhlaq dan Sensor Cahaya Ilahi

HATI SEBAGAI CERMIN AKHLAQ DAN SENSOR CAHAYA ILAHI                                                                                                       (Oleh Ir. Asep Candra Hidayat, M.Si)                                           

Keberadaan hati dalam diri manusia, tak ubahnya seperti lingkaran penala (sensor gelombang dalam sebuah pesawat radio atau televisi) yang berfungsi untuk menangkap frekuensi gelombang yang lewat di hadapannya.  Manakala sensor tersebut memiliki ferekuensi yang sama dengan frekuensi gelombang yang ada di hadapannya, maka secara otomatis frekuensi gelombang tersebut akan tertangkap oleh sensor tersebut dan kemudian diproses sedemikian rupa oleh suatu mekanisme tertentu yang ada di dalamnya sehingga pada akhirnya pesawat tersebut akan menampilkan pesan yang dibawa oleh frekuensi tersebut melalui manifestasi audio visual yang akan ditangkap oleh panca indrta kita.  Demikian pula halnya dengan hati manusia, ia tak ubahnya seperti sensor tersebut, artinya mekanismenya persis sama dengan cara kerja pesawat tersebut, dimana ia akan menangkap setiap getaran informasi datang ke hadapannya.  Jika getaran hatinya sama persis dengan getaran frekuensi yang ada di hadapannya, maka hati tersebut akan bergetar dan mampu menampilkan pesan yang sampai ke hadapannya.  Namun manakala frekuensi hati tersebut tidak sama dengan frekuensi yang masuk ke hadapannya, maka tentu saja ia tak akan mampu menampilkan pesan tersebut, karena ia tak mampu menangkapnya.

Peristiwa tersebut adalah suatu mekanisme dari fenomena Hukum Alam (Sunatullah) yang mengikuti serangkaian hukum proses sebab akibat yang sudah ditentukan aturan dan kadarnya oleh Allah SWT.  Peristiwa tersebut sendiri secara ilmiah diistilahkan dengan istilah “Resonansi”  atau peristiwa turut bergetarnya materi/benda yang satu karena bergetarnya materi/benda yang lain yang memiliki frekuensi yang sama dengan dirinya.  Peristiwa tersebut sering kali dijumpai dalam kejadian dalam kehidupan sehari-hari seperti :

Peristiwa bergetarnya sebuah garpu tala karena bergetarnya garpu tala yang lain.Peristiwa bergetarnya telpon atau handphone karena frekuensinya digetarkan oleh telpon atau handphone yang lain.Peristiwa tertangkapnya suatu objek atau benda dalam layer suatu radar.Peristiwa tertangkapnya bayangan suatu objek/benda oleh sebuah kameraPeristiwa tertangkapnya bayangan suatu objek/benda oleh mata kitaPeristiwa bergetarnya kaca rumah karena lewatnya sebuah pesawat jet yang dekat dengan dirinya.Peristiwa pecahnya kaca sebuah bangunan karena ledakan sebuah bom yang ada di sekitarnya.dll

Peristiwa-peristiwa tersebut adalah sebagian fenomena yang sering kita saksikan sehari-hari.  Masih banyak fenomena lain yang tidak dapat kita saksikan dengan panca indra kita. Bahkan fenomena sesungguhnya yang tidak tertangkap dengan panca indra kita tersebut jumlahnya tak terhingga dan tak mungkin dapat kita hitung.

Fenomena-fenomena tersebut senantiasa ada selama kita hidup dan keberadaanya senantiasa meliputi kita dalam jumlah yang tak terhingga, baik yang nyata maupun yang tidak nyata, baik yang kita sadari maupun yang tidak kita sadari.

Bagaimana caranya agar kita bisa mengetahui keberadaan fenomena-fenomena baik yang nyata maupun yang tidak nyata tersebut ?  Apakah pancaindra kita mampu menangkap semua fenomena tersebut  ?  Jawabannya adalah tidak.  Kenapa ?  Karena panca indra kita yang kita miliki hanya mampu menangkap sebagian saja dari fenomena tersebut, mengingat tidak semua frekuensi yang dipancarkan oleh fenomena tersebut mampu ditangkap oleh panca indra kita. Kenapa ?  Panca indra kita memiliki kemampuan yang terbatas, yang hanya mampu menangkap frekuensi-frekuensi tertentu saja yang berada dalam batas ambang kemampuannya.  Kemampuan daya tangkap panca indra kita terhadap frekuensi yang ada berdasarkan hasil penelitian berkisar antara 16,5 hertz (getaran per detik) sampai dengan 20.000 hertz.

Jangkauan frekuensi yang sangat terbatas tersebut tidak akan mampu menangkap frekuensi gerakan semut di dinding yang berada di bawah 16.5 hertz, atau bahkan menangkap frekuensi radio atau televisi yang berada di atas 20.000 hertz.  Kenapa begitu ?  Karena Allah sebagai pencipta kita sangat menyayangi dan mengasihi kita, mengapa ?  Karena jika kita bisa mendengar frekuensi yang berada baik dibawah maupun di atas batas ambang frekuensi tersebut (di bawah 16.5 hertz dan di atas 20.000 hertz), maka kita selamanya tidak akan bisa tenang dan  tidak bisa tidur (istirahat) karena semua suara akan terdengar sama kita, baik itu suara yang berada dibawah frekuensi 16.5 hertz seperti halnya langkah semut, suara gerakan atom, suara gerakan amuba, semua gerakan molekul, semua gerakan dan suara binatang, dll maupun suara yang berada di atas frekuensi 20.000 hertz seperti siaran acara televisi, siaran radio, pesan frekeuensi telpon/handphone, wujud makhluk gaib seperti jin, setan dan malaikat, dll baik yang dekat maupun yang jauh dengan kita.

Sekarang muncul pertanyaan, apakah bisa kita menangkap semua frekuensi tersebut ? dan bagaimana caranya ?  Jawabannya adalah  bisa dan caranya adalah dengan hati.  Mengapa bisa begitu dan bagaimana caranya ? Mari kita pelajari dan pahami uraian dan penjelasan berikut ini.

Hati adalah sensor jiwa, dimana kita bisa menangkap dan merespon setiap informasi yang masuk.  Tentu saja informasi yang masuk tersebut dapat masuk baik melalui panca indra maupun langsung melalui getaran yang masuk ke dalam hati tersebut ?  Bagaimana bisa ?

Coba kita perhatikan lampu yang menyala di rumah kita, ia dapat menyala karena kita menekan tombol saklarnya bukan ?  Begitu saklar tersebut ditekan maka dengan otomatis lampu tersebut akan menyala pada saat bersamaan kita menekan saklarnya, nyaris tanpa jeda sedikitpun.  Begitu pula coba kita perhatikan pada saat kita menonton siaran langsung pertandingan sepak bola dari luar negeri.  Meskipun kita dipisahkan oleh jarak yang sangat jauh, namun kita bisa menyaksikan siaran tersebut nyaris pada saat yang bersamaan.  Hal tersebut terjadi juga dengan hati kita,  sebenarnya hati kita tersebut mirip sebuah cermin atau sensor .  Manakala cermin itu persis menangkap frekuensi cahaya yang menimpa dirinya maka tentu saja kita dapat menangkap fantulan bayangan tersebut asalkan sudut pantulnya tepat berada di depan mata kita.  Sama halnya dengan sebuah sensor, iapun akan mampu menangkap frekuensi gelombang yang datang kepadanya asalkan sesuai dengan frekeunsi sensornya itu sendiri.  Namun akan muncul satu pertanyaan, apakah cermin atau sensor tersebut akan mampu menangkap setiap bayangan atau getaran yang ada ?  Jawabanya tidak ?  Mengapa ?  Karena belum tentu cermin atau sensor tersebut berada dalam kondisi yang baik, artinya belum tentu cermin tersebut bersih, belum tentu sensor itu tersebut juga sensitif terhadap getaran.  Kalau cermin itu kusam atau berkarat, maka ia tidak akan mampu menangkap bayangkan dengan sempurna, apalagi cermin tersebut kotor, maka ia tidak akan mampu menangkap bayangan tersebut sama sekali.  Begitu pula dengan sensor, jika sensor tersebut tidak sensitif, maka sensor tersebut tidak akan mampu menangkap getaran halus yang masuk dengan baik, terlebih sensor tersebut rusak , maka jangan harap ia akan mampu menangkap getaran yang tinggi sekalipun

Begitu halnya dengan hati kita, hati kita akan mampu menangkap frekuensi gelombang yang datang ke hadapannya, jika dan hanya jika hati kita tersebut suci dan bersih dari kotoran hati, namun jika tidak artinya jika hati tersebut diliputi oleh kotoran yang melekat pada dirinya, maka ia tidak akan mampu menangkapnya dengan baik.  Terlebih jika hati itu sudah terlanjur kotor sama sekali, maka jangan harap hati kita akan mampu menangkap semua informasi yang masuk, karena informasi tersebut akan terhalang oleh kotoran tersebut.

Hati yang bersih, akan mampu menangkap frekuensi informasi yang lewat ke hadapannya, selemah apapun frekuensi tersebut. Hati yang bersih akan mampu menangkap getaran sinyal dari sekelilingnya baik yang baik maupun yang buruk, baik yang datang dari makhluk hidup maupun yang datang dari alam lingkungan sekelilingnya.  Baik yang muncul dari sikaf, perilaku maupun dari tindakan yang nyata.  Baik yang nyata, maupun yang abstrak.  Baik yang lahir maupun yang dzohir.  Bahkan lebih dari itu iapun akan mampu menangkap getaran frekuensi cahaya Ilahi (Hidayah) yang datang ke hadapannya. Hidayah Allah hanya akan dapat ditangkap oleh orang yang memiliki hati yang bersih dan suci. Hidayah Allah itu sendiri sebenarnya amat luas seluas langit dan bumi, namun hidayah seluas itu justru tidak akan memiliki makna sama sekali dan tidak ada artinya apa-apa bagi orang yang memiliki hati yang kotor.

Setiap orang tentunya senantiasa mengharapkan sekali akan Hidayat Allah tersebut, untuk menuntun jalan kehidupannya ke arah jalan yang benar jalan yang diridhoi Allah.  Kalau begitu maka sebenarnya sangat mudah untuk menangkap Hidayat tersebut kapan saja dimana saja dan bagi siapa saja. Caranya adalah bersihkan hati kita dari segala macam kotoran yang melekat tersebut.  Pertanyaannya adalah, apa saja yang bisa menyebabkan hati kita kotor ?  Jawabannya sangat sederhana yaitu segala sesuatu yang akan mengarahkan hati kita untuk tidak berbuat ikhlas. Tentu kita bertanya apa sebenarnya definisi ikhlas itu ?  Ikhlas adalah sikap hati yang mengarahkan hati untuk berniat dan berbuat dalam segala sesuatu hanya karena Allah semata. Artinya Ikhlas adalah orientasi positif yang hanya untuk Allah semata, tidak untuk yang lain. Masalahnya adalah justru sekarang sebagian besar orang pada umumnya sangat jauh dari dari sandaran ikhlas hanya karena Allah semata, sekarang orang lebih cenderung bahkan seratus persen bersandar pada aspek non Ilahi, aspek keduniawian yang notabene adalah perangkap setan.  Orang sekarang semakin terpedaya oleh gemerlapnya duniawi, baik itu harta (materi), tahta (kedudukan/jabatan), popuratitas dan hal-hal lain yang dapat dianggap dapat memuaskan dorongan bathin dan hawa napsunya.

Dengan materi/dunia yang ia miliki, sebenarnya disadari atau tidak ia secara langsung telah terjebak dalam pilihan yang salah, artinya orientasi yang ia tuju sudah salah arah, tidak lagi dalam kerangka mencari ridho Allah, melainkan dalam kerangka mencari kepuasa duniawi.  Jika ini yang terjadi, maka bukanlah pahala yang akan ia dapatkan, melainkan dosa.  Nauzubilaahimindzalik.

Dalam ilmu teknik pengambilan keputusan, jika kita salah dalam menentukan pilihan, maka konsekuensi dan implikasinya adalah bisa berdampak luas, paling tidak adalah sebagai berikut :

Tujuan tidak akan tercapaiDampak negatif akan segera kita hadapiKerugian-kerugian lain akan segera kita dapatkan, misalnya kerugian waktu, biaya, tenaga, sosial (dikucilkan orang), moral (malu), dllMembahayakan keselamatan kitaMendapatkan murka dan azab Allah

Supaya kita terhindar dari hal-hal tersebut, maka seyogyanya kita mengetahui hal-hal apa saja secara kongkret yang harus kita hindari jauh-jauh untuk tidak kita lakukan.  Hal-hal yang harus kita hindari jumlahnya sangat banyak, namun secara umum dapat disimpulkan ke dalam satu hal, yaitu hindari penyakit hati, yaitu penyakit yang akan membuat hati tidak sehat lagi, karena diracuni oleh hal-hal yang sifanya dapat merusak hati itu sendiri.  Apa sajakah itu ?  Jawabannya sangat luas, namun dapat dikelompokkan sebagai berikut :

Hindari suu’zon (berprasangka buruk kepada orang lain)Hindari sifat iri dan dengki terhadap orang lainHindari perasaan dendamHindari hal-hal yang akan menimbulkan fitnah bagi orang lainHindari mencari-cari kesalahan orang lainHindari menggunjing dan menjelek-jelekkan orang lainHindari sifat sombong dan takaburHindari hal-hal yang akan merusak nilai-nilai akidah dan keimananHindari hal-hal yang akan membawa kemaksiatan dan kemungkaran, seperti judi, mabuk, madat, prostitusi, tindak kriminak, kekerasan, pemerkosaan dan kekejaman terhadap orang lain.Dll

Hal-hal tersebut di atas seringkali melekat pada diri kita selaku orang yang mengaku beriman kepada Allah SWT.  Kalau itu yang terjadi, maka azab Allah akan lebih dahsyat lagi kita dapatkan di yaumil akherat kelak.  Mengapa ?  karena hukuman yang keras hanya berlaku bagi orang yang tahu aturan main, tetapi melanggarnya, sedangkan bagi orang yang belum tahu aturan mainnya, masih ada kemungkinan untuk bisa dimaklumi dan dimaapkan kekeliruannya tersebut Oleh Allah SWT.

Kala kita mengaku sebagai orang yang beriman, maka hendaknya aturan main tersebut dipegang untuk dijadikan pegangan agar kita tidak melenceng dan salah arah dari aturang yang sudah ditentukan tersebut.

Terhadap hal-hal tersebut di atas, umumnya orang masih bisa menghindari untuk satu hal, tetapi tidak dapat menghidari untuk hal lain.  Sifat suu’dzon misalnya, ini hampir menerpa setiap orang yang mengaku dirinya beriman, dimanapun ia berada, kapanpun dan dimanapun.  Sifat suu’dzon tersebut senantiasa melekat dalam hatinya.  Mengapa ?  Karena sifat suu’dzon tersebut muncul karena pengaruh kita terlalu mencintai dunia dibanding keyakinan dan keimanan kita tentang adanya hari perhitungan dan pembalasan di akhirat yang akan memperhitungkan dan menghukum sifat suu’zdon tersebut.  Sifat suu’dzon muncul pada diri seseorang dimana orang tersebut lebih menghargai nilai sebuah materi (harta) dibanding pentingnya nilai hubungan kemanusiaan.  Ia lebih takut kehilangan materi (harta) yang nilainya mungkin tidak seberapa dibandingkan dengan hilangnya nilai persaudaraan, persahabatan dan pertemanan.  Orang seperti ini dalam setiap pergaulan akan senantiasa selalu waspada dan selalu menaruh rasa curiga yang mestinya tidak terjadi.  Orang seperti ini senantiasa menuruti dorongan hati dan hawa napsunya ketimbang akal sehat dan iman.   Orang seperti ini manakala bergaul dengan orang lain akan senantiasa mengecek barang milik dirinya, misalnya handphone, dompet, dll, manakala orang lain tersebut dekat dengan dirinya.  Atau mungkin ia akan selalu menjaga barang yang ia anggap sangat berharga tersebut sampai orang yang ia curigai tersebut pergi atau pulang.  Ia mungkin tidak menyadari bahwa apa yang ia lakukan tersebut dirasakan dan diketahui oleh orang tersebut yang justru sangat menyinggung dan melukai perasaannya.  Akibatnya apa ?  Akibatnya adalah :

Orang lain tersebut secara diam-diam mulai tidak respek dan antipati terhadapnya.Ia akan memetik dosa dari apa yang ia lakukan.Ia beresiko untuk mendapatkan hal terburuk akibat do’a buruk dari orang yang dizaliminya.Azab akhirat telah menantinya

Mengapa azab di akhirat akan ia dapatkan ?  Karena apa yang ia lakukan tersebut tak ubahnya seperti perbuatan setan.  Dimana Allah berfirman bahwa “Janganlah kau turuti langkah-langkah setan, karena setan itu musuh yang nyat bagimu”  Perbuatan berprasangka buruk (suu’dzon) tersebut jelas-jelas merupakan bisikan setan, karena Allah telah berpirman bahwa “…… yang menghembuskan prasangka buruk tersebut adalah setan, yaitu dari bangsa jin dan manusia”  Apa artinya ini ?  Artinya adalah ada 2 hal, yaitu yang pertama adalah bahwa hembusan prasangka  buruk itu dihembuskan sendiri oleh setan yang membisikan ke dalam hati busuknya, dan yang kedua adalah bahwa setelah ia terpengaruh oleh bisikan setan tersebut, maka ia sendiri menjadi setan.  Lantas bagaimana kalau ia sendiri telah menjadi setan ?  Kalau ia sudah menjadi setan, maka jelas hukumannya adalah azab api neraka.

Demikianlah hukumannya orang yang punya hati yang selalu diisi dengan sifat suu’dzon atau hal-hal buruk lainnya karena mengikuti cumbu rayu dan bisikan setan yang menganggap dunia ini indah dibanding keindahan surga di akhirat. Nauzubillahiminzalik.

Mudah-mudahan setelah kita memahami ini semua, kita bisa merubah diri kita 180 derajat ke arah sifat yang baik, sifat yang diisi oleh prasangka baik dan hal-hal atau perbuatan-perbuatan yang terpuji dan membawa kemaslahatan baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain. Amiin

Apakah shalat ied bisa menggantikan shalat dhuha?

Tanya Jawab Seputar Dhuha
Bersama Ust. Lukman
Pendiri Komunitas Dhuha Ummat (KODHAM)

Tanya :
Assalamu’alaikum Ustad, pada hari raya idul fitri dan idul adha itu ada shalat ied, apakah shalat dhuha tidak perlu dikerjakan karena sudah ada shalat ied yg waktunya sama? Jika dikerjakan, mana lebih afdhol  shalat dhuha dulu baru shalat ied atau sebaliknya?
Mohon pencerahannya.

Jawab :
Waalaikum salam warohmatullahi wabarokatuh

Sebenarnya shalat ied dgn shalat sunnah lain tdk saling menggugurkan.
Saya belum menemukan dalil naqlinya.  Kecuali ied di hari jumat, maka boleh tdk melakukan shalat jumat tapi wajib melaksanskan shalat zhuhur.
Adapun baiknya shalat dhuha dilaksanakan setelah shalat ied. Karena shalat ied dilakukan saat matahari terbit, sedangkan shalat dhuha ketika matahari terbit naik sktr 1 hasta.

Wallahu a’lam bish showab…

Pesan Rasulullah SAW di hari Arafah

Kutbah Arafah : Inilah Pesan Terakhir Nabi Yang Disampaikan Pada Waktu Hari Arafah

Di padang Arafah, 14 abad yang lalu, Baginda Nabi Muhammad SAW pernah menyampaikan mauidzah sebagai pesan terakhirnya yang ditujukan kepada jamaah haji yang hadir saat itu dan juga merupakan pesan untuk seluruh umatnya.

Ceramah Nabi yang disampaikan di atas untanya tersebut dihadiri sekitar 100 ribu orang. Isi dari pesan nabi tersebut antara lain sebagai berikut:

“Wahai manusia, dengarkanlah perkataanku ini, karena aku tidak tahu apakah aku dapat menjumpaimu lagi setelah tahun ini di tempat wukuf ini.

“Wahai manusia. Sesungguhnya darah kamu dan harta kekayaan kamu merupakan kemuliaan bagi kamu sekalian, sebagaimana mulianya hari ini di bulan yang mulia ini, di negeri yang mulia ini. Ketahuilah sesungguhnya segala tradisi jahiliyah mulai hari ini tidak berlaku lagi. Segala sesuatu yang berkaitan dengan perkara kemanusiaan (seperti pembunuhan, dendam, dan lain-lain) yang telah terjadi di masa jahiliyah, semuanya batal dan tidak boleh berlaku lagi.

“Wahai manusia. Aku berwasiat kepada kalian, perlakukanlah perempuan dengan baik. Kalian sering memperlakukan mereka seperti tawanan. Kalian tidak berhak memperlakukan mereka kecuali dengan baik (kesantunan)”.

“Wahai manusia, aku berwasiat kepadamu, perlakukan isteri-isterimu dengan baik. Kalian telah mengambilnya sebagai pendamping hidupmu berdasarkan amanat Allah, dan kalian dihalalkan berhubungan suami-isteri berdasarkan sebuah komitmen untuk kesetiaan yang kokoh”.

“Wahai manusia. Sesungguhnya setan itu telah putus asa untuk dapat disembah oleh manusia di negeri ini, akan tetapi setan itu masih terus berusaha (untuk menganggu kamu) dengan cara yang lain. Setan akan merasa puas jika kamu sekalian melakukan perbuatan yang tercela. Oleh karena itu hendaklah kamu menjaga agama kamu dengan baik”.

“Perhatikanlah perkataanku ini. Sesungguhnya aku telah menyampaikannya…”Aku tinggalkan sesuatu bagi kamu sekalian. Jika kamu berpegang teguh dengan apa yang aku tinggalkan itu, maka kamu tidak akan tersesat selama-lamanya. Itulah Kitab Allah (Al Quran) dan Sunnah nabi-Nya (Al-Hadits)

“Wahai manusia. Dengarkanlah dan taatlah kamu kepada pemimpin kamu, walaupun kamu dipimpin oleh seorang hamba sahaya dari negeri Habsyah (Etiopia) yang berhidung pesek, selama dia tetap menjalankan ajaran Kitabullah (Al Quran) kepada kalian semua”.

“Lakukanlah sikap yang baik terhadap hamba sahaya. Berikanlah makan kepada mereka dengan apa yang kamu makan dan berikanlah pakaian kepada mereka dengan pakaian yang kamu pakai. Jika mereka melakukan sesuatu kesalahan yang tidak dapat kamu maafkan, maka juallah hamba sahaya tersebut dan janganlah kamu menyiksa mereka”.

“Wahai manusia. Dengarkanlah kata-kataku ini dan perhatikanlah dengan sungguh-sungguh. Ketahuilah, bahwa setiap muslim itu adalah saudara bagi muslim yang lain, dan semua kaum muslimin itu adalah bersaudara. Seseorang tidak dibenarkan mengambil sesuatu milik saudaranya kecuali dengan kerelaan hati. Oleh sebab itu janganlah kamu menganiaya diri kamu sendiri”.

“Ya Allah, sudahkah aku menyampaikan pesan ini kepada mereka? Kamu sekalian akan menemui Allah, maka setelah kepergianku nanti janganlah kamu menjadi sesat seperti sebagian kamu memukul tengkuk sebagian yang lain (berkhianat)”.

“Hendaklah mereka yang hadir dan mendengar khutbah ini menyampaikan kepada mereka yang tidak hadir. Acapkali orang yang mendengar berita tentang khutbah ini di kemudian hari lebih memahami daripada mereka yang mendengar langsung pada hari ini”.

“Kalau kamu semua nanti akan ditanya tentang aku, maka apakah yang akan kamu katakan? Semua yang hadir menjawab: Kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan tentang kerasulanmu, engkau telah menunaikan amanah, dan telah memberikan nasehat. Sambil menunjuk ke langit, Nabi Muhammad saw kemudian bersabda: ” Ya Allah, saksikanlah pernyataan kesaksian mereka ini..Ya Allah, Lihatlah, mereka telah menyatakan itu. Ya Allah, saksikanlah pernyataan mereka ini..Ya Allah, saksikanlah pernyataan mereka ini.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wassallam mengatakan secara berulang-ulang di sela-sela pidatonya kepada lautan manusia yang menyemut di padang Arafah itu. Katanya: ”Ala Falyuballigh as-Syahid Minkum al-Ghaib” (Ingat, hendaklah orang yang hadir di antara kamu menyampaikan ”Deklarasi Arafah” ini kepada yang tidak hadir).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam menutup khutbah beliau dengan Assalaamu’alaikum (semoga Allah Subhanahu wa ta’ala melimpahkan keselamatan, kedamaian, kesejahteraan atas diri kamu sekalian). Sesudah Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wassallam menutup khutbah beliau, Allah Subhanahu wa ta’ala pun menurunkan Wahyu Nya

Wahyu itu adalah wahyu terakhir yaitu ayat ke-3 dari Surah Al-Ma’idah: “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.”

Wassalamu’alaikum wr. Wb.

RUQOYAH

📣 Kodham Media
📚 Siroh Nabawiyah

Hari Tanggal : Sabtu, 12 September 2015 🌝 28 Dzulqo’dah 1436 H
No                   : 12/KOM/09/2015
Tujuan         : Sahabat Kodham dan Umum

🍂🍃🍂🍃🍂🍃🍂🍃

                                    RUQAYYAH

Ruqayyah adalah puteri kedua Rasulullah.  Ia satu diantaraputra putri Rasulullah.Nama lengkapnya adalah Ruqayyah binti Muhammad binti Abdullah.Nasabnya adalah anak kandung Muhammad.

Ruqayyah  lahir setelah tujuh tahun Muhammad SAW menikah dengan Khadijah. Waktu itu usia Rasulullah sekitar 32 tahun. Jadi Ruqayyah lahir  8 tahun sebelum tahunbi’tsah[ tahun dimana Muhammad diangkat menjadi Nabi dan Rasul ]Ruqqayah lahir pada tahun 602 M atau 21 tahun sebelum hijrah.

Beliau kemudian  dipersuntingkan oleh Utbah bin Abu Lahab sebelum tahun 610 M [ tahun dimana Muhammad diangkat menjadi Rasul ].

Dan adiknya Ummu Kultsum disunting oleh ‘Utaibah bin Abi Lahab.

Namun, rencana pernikahan itu tak berjalan lama. Berawal dengan diangkatnya Muhammad sebagai nabi, menyusul kemudian turun Surat Al-Lahab yang berisi cercaan terhadap Abu Lahab, maka Abu Lahab dan istrinya, Ummu Jamil, menjadi berang. Dia berkata kepada dua putranya, ‘Utbah dan ‘Utaibah yang menyunting putri-putri Rasulullah , “Haram jika kalian berdua tidak menceraikan kedua putri Muhammad!”Kembalilah dua putri yang mulia ini dalam keteduhan naungan ayah bundanya, sebelum sempat dicampuri suaminya. Bahkan dengan itulah Allah selamatkan mereka berdua dari musuh-musuh-Nya.

Ruqayyah dan Ummu Kultsum pun berislam bersama ibunda dan saudari-saudarinya.Allah memberi ganti yang jauh lebih baik bagi Ruqayyah bintu Rasulullah, ia disunting oleh seorang sahabat mulia, Utsman bin ‘Affan .

Sebagaimana kaum muslimin yang lain, mereka berdua menghadapi gelombang ujian yang sedemikian dahsyat melalui tangan kaum musyrikin Mekkah dalam menggenggam keimanan. Hingga akhirnya, pada tahun kelima setelah nubuwah, Allah  bukakan jalan untuk hijrah ke bumi Habasyah, menuju perlindungan seorang raja yang tidak pernah menzalimi siapa pun yang ada bersamanya. ‘Utsman bin ‘Affan z membawa istrinya di atas keledai, meninggalkan Mekkah, bersama sepuluh orang sahabat yang lainnya, berjalan kaki menuju pantai. Di sana mereka menyewa sebuah perahu seharga setengah dinar.

Di bumi Habasyah, Ruqayyah  melahirkan seorang putra yang bernama Abdullah. Akan tetapi, putra Utsman ini tidak berusia panjang. Konon, suatu ketika, ada seekor ayam jantan yang mematuk matanya hingga membengkak wajahnya. Dengan sebab musibah ini, ‘Abdullah meninggal dalam usia enam tahun.

Perjalanan mereka belum berakhir. Saat kaum muslimin meninggalkan negeri Makkah untuk hijrah ke Madinah, mereka berdua pun turut berhijrah ke negeri itu.

Begitu pun Ummu Kultsum, berhijrah bersama keluarga Rasulullah.Selang berapa lama mereka tinggal di Madinah, bergema seruan perang Badr. Para sahabat bersiap untuk menghadapi musuh-musuh Allah.

Namun bersamaan dengan itu, Ruqayyah bintu Rasulullah diserang sakit. Rasulullah r pun memerintahkan ‘Utsman bin ‘Affan z untuk tetap tinggal menemani istrinya.Ternyata itulah pertemuan mereka yang terakhir. Di antara malam-malam peristiwa Badr, Ruqayyah bintu Rasulullah kembali ke hadapan Rabb-nya karena sakit yang dideritanya. Utsman bin ‘Affan z sendiri yang turun untuk meletakkan jasad istrinya di dalam kuburnya.

Ruqayyah wafat sekitar tahun 624 M atau 2 Hijriyah

Sumber :
http://bit.ly/1Q7HqhF

Kodham Center:
089502816008
=========================
FB : Komunitas Dhuha Ummat
FP : Komunitas Dhuha Ummat
Twitter : @DhuhaUmmat
Website:kodham.org
=========================
Cara gabung kodham
Ketik : GabungKodham#nama#L/P#umur#no WA/PIN BBM#domisili#aktivitas
Kirim ke
⏩ WA
Ikhwan : Akh Irawan (089630319724 )
Akhwat: Ukh Suzan (08563212921)
⏩ BBM
Ikhwan : Akh Rocky (553F7F7F)
Akhwat : Ukh indri (28645022)
========================

PAHALA MENGAJAK BERBUAT KEBAIKAN

Dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amir Al Anshari radhiyallahu ‘anhu , ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ﻣَﻦْ ﺩَﻝَّ ﻋَﻠَﻰ ﺧَﻴْﺮٍ ﻓَﻠَﻪُ ﻣِﺜْﻞُ ﺃَﺟْﺮِ ﻓَﺎﻋِﻠِﻪِ
“ Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang
mengerjakannya .” (HR. Muslim no. 1893). Bahkan pahala orang yang didakwahi tidak berkurang sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
ﻣَﻦْ ﺩَﻋَﺎ ﺇِﻟَﻰ ﻫُﺪًﻯ ﻛَﺎﻥَ ﻟَﻪُ ﻣِﻦَ ﺍﻷَﺟْﺮِ ﻣِﺜْﻞُ ﺃُﺟُﻮﺭِ
ﻣَﻦْ ﺗَﺒِﻌَﻪُ ﻻَ ﻳَﻨْﻘُﺺُ ﺫَﻟِﻚَ ﻣِﻦْ ﺃُﺟُﻮﺭِﻫِﻢْ ﺷَﻴْﺌًﺎ
“ Barangsiapa memberi petunjuk pada kebaikan, maka ia akan  mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikuti ajakannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun juga. ” (HR. Muslim no. 2674) Tanda umat terbaik adalah gemar mengajak kebaikan dan amal shalih.

REPOST:  Mr Looks
http://rinastkip.wordpress.com