Bagaimana Sedekah Yang Sesuai Syariah?

Tanya-Jawab Syariah

Nara Sumber : Tim Assatid IHQ

Tanya : Asalamu alaikum ..
Ada tetangga saya pernah  bertanya, bagaimana hukumnya jika kita ingin berniat sedekah secara sembunyi-sembunyi, kepada seseorang yang kurang mampu ,, tapi kita mengambil uang suami tanpa sepengetahuannya. mohon penjelasannya Syukron.

🍹Jawab :

🍣 Bersedekahlah dengan cara yang makruf dan kepastian harta kita yg di berikan adalah halal, yang lebih penting bukan sedekah tapi memberi pemahaman kepada suami. Dakwahi keutamaan berbagi ,, Sehingga tidak harus sembunyi-sembunyi dalam memberikan shodaqoh.
Jelasnya ada dlm hadits di bawah ini :

Rasulullah صلى الله عليه وسلم: 

عَنْ أَسْمَاءَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « أَنْفِقِى وَلاَ تُحْصِى فَيُحْصِىَ اللَّهُ عَلَيْكِ ، وَلاَ تُوعِى فَيُوعِىَ اللَّهُ عَلَيْكِ »

Dari Asma’, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepadanya, “Berinfaklah dan jangan dihitung-hitung (sehingga engkau merasa sudah banyak berinfak dan pada akhirnya kau berhenti berinfak). Jika demikian maka ALLAH akan perhitungan denganmu dalam anugrahNya dan jangan kau simpan kelebihan hartanya sehingga ALLAH akan menyimpan (baca: menahan) anugrahNya kepadamu” (HR Bukhari no 2451 dan Muslim no 1029).

🍔 Dalam hadist ini Nabi memerintahkan Asma untuk banyak-banyak berinfak dan Nabi tidak memerintahkannya untuk minta izin terlebih dahulu kepada suaminya yaitu az Zubair. Andai itu sebuah keharusan tentu Nabi akan memerintahkannya.

عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « لاَ يَجُوزُ لاِمْرَأَةٍ أَمْرٌ فِى مَالِهَا إِذَا مَلَكَ زَوْجُهَا عِصْمَتَهَا ».

🍤 Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Tidak boleh bagi seorang perempuan yang bersuami untuk membelanjakan harta pribadinya (tanpa seizin suaminya)” (HR Abu Daud no 3546, Nasai no 3756, Ibnu Majah no 2388 dan dinilai al Albani sebagai hadits hasan shahih).

🍡Hadist ini kita kompromikan dengan hadits-hadits di atas dengan kita katakan bahwa di antara bentuk pergaulan yang baik antara suami dan istri adalah jika seorang istri ingin membelanjakan harta pribadinya untuk membeli sesuatu atau berinfak hendaknya bercerita kepada suaminya terlebih dahulu. Inilah adab yang hendaknya dimiliki oleh seorang istri dan itulah yang terbaik.
Berdasarkan uraian di atas maka istri  boleh shodaqoh  dengan harta pribadi,  meski dengan cara diam-diam dan tanpa sepengetahuan suami namun lebih baik jika istri  bercerita kepada suami tentang apa yang ibu lakukan.

🍧Sedangkan penjelasan mengenai seorang istri yang bersedekah dengan menggunakan uang belanja tanpa seizin suami adalah sebagai berikut. Bahwa uang belanja tersebut pada dasarnya adalah harta suami, seorang istri hanya sebagai pihak yang mengelola harta tersebut, tentu dengan izin sang suami. Para fuqaha` sepakat bahwa seorang istri boleh memberikan sedekah dari harta suaminaya dengan izin yang jelas darinya. Sedangkan jika tanpa izin, menurut jumhurul ulama diperbolehkan sepanjang tidak dilarang sang suami dan jumlahnya sedekahnya sedikit. Hal ini sebagaimana dikemukakan dalam kitab yang sama dengan di atas.  

اتَّفَقَ الْفُقَهَاءُ عَلَى أَنَّهُ يَجُوزُ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَتَصَدَّقَ مِنْ بَيْتِ زَوْجِهَا لِلسَّائِل وَغَيْرِهِ بِمَا أَذِنَ الزَّوْجُ صَرِيحًا . كَمَا يَجُوزُ التَّصَدُّقُ مِنْ مَال الزَّوْجِ بِمَا لَمْ يَأْذَنْ فِيهِ ، وَلَمْ يَنْهَ عَنْهُ إِذَا كَانَ يَسِيرًا عِنْدَ جُمْهُورِ الْفُقَهَاءِ 

🍭“Para fuqaha’ telah sepakat bahwa boleh bagi seorang istri bersedekah dari rumah (harta) suaminya kepada peminta atau selainnya dengan izin yang jelas dari sang suami. Sebagaimana boleh menurut jumhurul ulama bagi seorang istri bersedekah dari harta suaminya dimana sang suami tidak mengizinkan dan tidak melarangnya. Hal ini ketika harta yang disedekahkan itu jumlahnya sedikit.” (Kementrian Wakaf dan Urusan Islam Kuwait, al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, cet-1, Mesir-Dar ash-Shofwah, juz, 36, h. 326).

🍫Dari pemaparan mengenai pandangan jumhurul ulama yang memperbolehkan seorang istri memberikan sedekah dari harta suaminya setidaknya bisa diambil kesimpulan bahwa dalam sedekah tersebut tidak mengganggu kebutuhan primer keluarga seperti kebutuhan suami dan anak. Pihak suami mengetahui bahwa sang istri bersedekah dengan hartanya tetapi mendiamkan saja. Sepanjang hal ini terpenuhi maka tidak menjadi persoalan. Namun jika suami melarang tentunya tidak diperbolehkan.

[Ustadz Suhendi]

والله أعلم بالصواب

Tim Assatidz IHQ🌴

🍓🍋🍓🍋🍓🍋🍓🍋🍓🍋🍓🍋

🍳 Saya mau bertanya
tentang shodaqoh. saya pernah dengar sebaik-baik shodaqoh adalah lebih utama untuk karib kerabatnya terlebih dahulu sebelum ke orang lain … jika disekitar kita ada yang kekurangan mana yang lebih baik untuk kita beri shodaqoh ?? tetangga kita atau tetap sodara yang masih kekurangan walau tempat tinggalnya jauh dari kita?? syukron.

🍩Jawab :

🍱 Benar bunda .. penerima shodaqoh itu sudah
ada tuntunannya dalam syariah ini. sebagaimana yang ALLAH ta’ala katakan dalam firmanNya, yg maknanya adalah :

” Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada ALLAH, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan salat dan menunaikan zakat, serta orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar, dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (Al-Baqarah [2]: 177)

🍰 Dalam ayat di atas  di jelaskan tentang pemberian harta yang disenangi (shodaqoh) seseorang kepada :
🎍kerabat
🎍anak yatim
🎍orang-orang miskin
🎍orang-orang yang dalam perjalanan (musafir)
🎍peminta-minta 
🎍untuk memerdekakan hamba sahaya.

🍟Perihal shodaqoh banyak hadist yang menjelaskan tentang keutamaan pemberian kepada orang yang berhak.  salah satunya di bawah ini :

🍞Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

« دِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى رَقَبَةٍ وَدِينَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِى أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ » .

“Ada dinar yang kamu infakkan di jalan Allah, dinar yang kamu infakkan untuk memerdekakan budak dan dinar yang kamu sedekahkan kepada orang miskin. Namun dinar yang kamu keluarkan untuk keluargamu (anak-isteri) lebih besar pahalanya.” (HR. Muslim)

🍛 Dari sejumlah referensi terutama kitab-kitab tafsir, yang saya baca terkait dengan ayat di atas, saya dapat mencatat dua hal yang patut kita perhatikan dalam mengeluarkan harta kita. 
📂 harta yang kita keluarkan adalah harta yang kita senangi.
Penjelasan ini juga dikuatkan dengan firman ALLAH SWT di dalam surah Âli ‘Imrân, ayat 92.

📂 Kita memberikan harta kepada golongan yang disebutkan didalam ayat tersebut sesuai dengan prioritas yang disebutkan di dalam ayat tersebut. Prioritas yang dimaksud adalah sesuai dengan urutan penyebutan golongan tersebut. Kerabat lebih prioritas daripada anak yatim. Anak yatim lebih prioritas dari pada orang-orang miskin. Orang-orang miskin lebih prioritas daripada musafir. Dan begitu seterusnya. Karena itu, jika kita hendak menyedekahkan harta kita, sejatinya kita merangkingkan golongan yang berhak menerima sedekah yang disebutkan di dalam ayat tersebut sebagai berikut.

✒ Kerabat (yang fakir).
✏Anak yatim (yang fakir).
✒Orang-orang miskin.
✏Musafir.
✒Peminta-minta.
✏(Biaya) untuk memerdekakan hamba sahaya.

🍦Dalam menyalurkan harta, jika memang terbatas, sebaiknya diberikan kepada pihak penerima nomor satu terlebih dahulu, sebelum diberikan kepada pihak penerima nomor dua. Jangan dilongkap! Jika di antara kerabat kita masih ada yang membutuhkan bantuan finansial dari kita, kita harus lebih memerhatikan mereka. Mereka lebih berhak untuk mendapat perhatian dan menerima bantuan kita. Daripada pihak penerima sedekah yang lain. Hal itu karena kita yang lebih bertanggung jawab untuk mengayomi kerabat dan atau keluarga kita daripada orang lain.

🍴Saya rasa sudah jelas, dari jawaban tersebut berikanlah kepada orang yang lebih membutuhkan (skala prioritas sesuai urutanya).

☕ Maksudnya jika saudara bunda orang yang lebih berkecukupan maka boleh Harta shodaqoh diberikan kepada orang lain meskipun jauh lokasinya jika benar-benar membutuhkannya.

[Ustadz Suhendi]

والله أعلم بالصواب

Tim Assatidz IHQ🌴

🍋🍓🍋🍓🍋🍓🍋🍓🍋🍓🍋🍓

Tanya : Bagaimana caranya agar kita bisa hidup produktif dan berkualitas?

🍝 Jawab :

Ukhti penanya yang InsyaaALLAH dirahmati ALLAH …

🍵 Dalam sebuah hadist yang mulia, RasuluLLAH berpesan kepada seluruh umatnya bahwa,

خير الناس انفعهم للناس…

“Sebaik-baik manusia adalah mereka yang bermanfaat untuk orang lain”

🍜 Dengan kata lain, semakin kita bermanfaat untuk orang lain maka derajat “khoirun naas” kita juga akan semakin tinggi, wallahu a’lam.

Tanya : Lalu bagaimana sih caranya agar kita bisa lebih produktif dan bisa bermanfaat untuk orang lain?

Jawab : Tentunya kita ikhlaskan niat kita dalam melakukan sesuatu itu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s