Menghayati Sejarah Nabi

📚Menghayati Sejarah Nabi

Judul : Logika Perantara

Jauh sebelum diutusnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam di jazirah Arab, ada seorang tokoh yang hadir mengubah arah sejarah bangsa Arab kala itu. Bangsa yang menjadi pewaris nilai-nilai ketauhidan yang di bawa oleh khalilullah, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, berubah seratus delapan puluh derajat, menjadi bangsa pelaku syirik, penyembah berhala. Semua itu disebabkan oleh satu orang; Amr ibnu Luhay namanya.

Di tengah kaumnya, Amr ibnu Luhay dikenal sebagai orang yang penuh dengan kebajikan, murah hati, gemar mendermakan hartanya kepada fakir miskin, dan terkenal sebagai seorang yang sangat taat menjalankan agama warisan Ibrahim; menyembah Allah, dan mensucikan syiar-syiar-Nya. Karena sifat-sifat mulia inilah, Amr ibnu Luhay dicintai oleh seluruh orang kala itu. Bagi kaumnya, ia adalah seorang ulama besar yang pasti didengar tiap perkataannya.

Hingga suatu ketika ia mengadakan perjalanan ke negeri Syam, sebuah negeri yang ketika itu menjadi model kemajuan. Di sanalah Amr ibnu Luhay menyaksikan bahwa para penduduk negeri Syam yang dikaguminya itu menyembah berhala. Maka dengan logika berfikir yang terlalu sederhana bahwa Syam adalah negeri dimana para Nabi dan Rasul diutus, negeri tempat diturunkannya kitab suci; maka dengan serta merta ia menyimpulkan lantas meyakini bahwa praktek penyembahan berhala yang dilakukan oleh penduduk syam, adalah sebagai kebenaran dalam beragama. Ia pun meng-copy paste logika para penyembah berhala di Syam bahwa berhala-berhala yang mereka sembah itu adalah para perantara-nya Allah, dalam mengabulkan segenap doa-doa dan harapan-harapan mereka. Logika perantara ini sampai Allah abadikan dalam Al-Qur’an, agar kita mawas diri, tidak terjatuh dalam kubangan kesyirikan bersebab logika ini:

“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan Kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.” (QS. Az-Zumar : 3)

Ya.. sungguh tidak disangka, Amr ibn Luhay yang dianggap kaumnya sebagai orang yang paling mengerti tentang agama tauhid Ibrahim, justru kini menyakini bahwa Allah mempunyai sekutu yang bertugas membantu Allah dalam mengabulkan permohonan para hamba-Nya.

Pulanglah ia ke Makkah dengan membawa serta Berhala, Hubal namanya. Maka penduduk Makkah yang telah menganggap Amr ibnu Luhay sebagai alim ulama, dengan taklid buta segera mengikuti praktek penyekutuan Allah tersebut. Dengan cepat, praktek penyembahan berhala itu pun menyebar keseluruh dataran Hijaz, Najd, Yamamah, hingga Yaman, penduduk kota-kota itu pun sama taklidnya dengan penduduk Makkah. Mereka turut latah dengan menyembah berhala-berhala, dengan anggapan taklid bahwa penduduk Makkah adalah penduduk istimewa penerus agama Ibrahim (Islam) yang lurus, sekaligus penjaga Rumah-Nya (Ka’bah) yang suci.

Maka bila penduduk Makkah mayoritas menyembah berhala, mereka pun harus turut latah menyembah berhala. Bagi mereka penduduk Makkah adalah standar mereka dalam beragama. Mereka telah salah dalam mengambil standar kebenaran, alih-alih berpegang teguh dengan kitab suci, mereka justru lebih memilih SUARA MAYORITAS dalam memandang kebenaran, walaupun suara mayoritas itu nyata-nyata bertentangan dengan ajaran agama yang lurus. Maka sejak saat itu, seluruh sudut kota Hijaz, Najd, Yamamah hingga Yaman bertebaran berhala-hala yang tiap saat disembah. Seperti berhala Manat di Musyallal, tepi laut merah, Lata di Thaif,  dan ‘Uzza di Wady Nakhlah.

Tak hanya sampai disitu, Sang Pelopor kesyirikan di jazirah Arab kala itu, Amr Ibnu Luhay  bahkan melakukan penggalian arkeologis terhadap berhala-berhala kaun Nuh yang telah ribuan tahun terkubur dalam tanah. Dengan dibantu oleh pembantunya dari kalangan jin, ia berhasil menemukan kembali berhala kuno kaum Nuh yang tertimbun tanah dan bebatuan di Jeddah. Ia berhasil menemukan Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr. Dalam berbagai tafsir Quran saat mengkaji surat Nuh, kita dapati bahwa nama berhala-berhala kuno tersebut adalah nama-nama orang shalih yang telah wafat di zaman Nabi Nuh, orang-orang shalih itu pun dianggap kaum Nuh sebagai Perantara Allah di muka bumi, mereka adalah orang-orang shalih yang dekat dan berkoresponden dengan Allah. Wadd, Suwa’, Yahguts, Ya’uq, dan Nasr, adalah sekutu bagi Allah, sebab itu menurut keyakinan bathil kaum Nuh, mereka pun berhak di sembah sama seperti Allah.

Dan berkat kiprah Amr ibnu Luhay itulah, praktek kesyirikan yang telah lama dibasmi oleh Nabi Ibrahim, kala itu justru tumbuh dan semarak kembali di jazirah Arab. Sejak saat itu, Amr ibnu Luhay pun giat dalam mempelopori berbagai bentuk ibadah syirik, seperti Thawaf pada berhala, bersujud memohon kepadanya, berhaji, berqurban, bernadzar untuk berhala itu dengan aneka ritual yang menjijikan bagi kita, tapi tidak bagi masyarakat yang telah terpesona dengan Amr ibnu Luhay kala itu. Bersamaan dengan itu tumbuh sumbur pula praktik perdukunan, ramalan, perjudian, dan khamr yang juga dibangun oleh asas logika yang sama.

Mari belajar dari Kisah Amr ibnu Luhay ini, betapa keimanan yang tak diikat dengan ilmu, tidak dikokohkan dengan pemahaman yang benar, akan mudah sekali rapuh, akan mudah goncang. Dari kaum Amr ibnu Luhay yang membebek itu kita belajar, betapa kekaguman kita terhadap seseorang selain Rasulullah, janganlah sampai membuat kita taklid buta, sampai berani menentang nash-nash shahih yang nyata kebenarannya. Dari kaum membebek itu kita belajar, bahwa suara mayoritas tidak identik dengan kebenaran, terlebih bila nyata-nyata hal itu bertentangan dengan nilai-nilai kebenaran yang telah rinci dijelaskan oleh islam. Terlebih kita tengah hidup di penghujung zaman, yang telah diwanti-wanti oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:

“Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi)

Wallahu’alam

Oleh : Rahmat Banu Aji

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s