SUDUT PANDANG MENURUT IMAM AL GHAZALY

SUDUT PANDANG MENURUT IMAM ALGHAZALY

📌 Suatu hari di tepi sungai Dajlah, Hasan al-Basri melihat seorang pemuda duduk berdua-duaan dengan seorang perempuan. Di sisi mereka terletak sebotol arak.

📌 Kemudian Hasan berbisik dalam hati,
“Alangkah buruk akhlak orang itu dan baiknya kalau dia seperti aku!”

📌 Tiba-tiba Hasan melihat sebuah perahu di tepi sungai yang sedang tenggelam. Lelaki yang duduk di tepi sungai tadi segera terjun untuk menolong penumpang perahu yang hampir lemas karena karam.

📌 Enam dari tujuh penumpang itu berhasil diselamatkan.

📌 Kemudian orang itu berpaling ke arah Hasan al-Basri dan berkata,
“Jika engkau memang lebih mulia daripada saya, maka dengan nama Allah, selamatkan seorang lagi yang belum sempat saya tolong. Engkau saya minta untuk menyelamatkan satu orang saja, sedang saya telah menyelamatkan enam orang.”

📌 Bagaimanapun Hasan al-Basri gagal menyelamatkan yang seorang itu. Maka lelaki itu berkata padanya,
“Tuan, sebenarnya perempuan yang duduk di samping saya ini adalah ibu saya sendiri, sedangkan botol itu hanya berisi air biasa, bukan anggur atau arak.”

📌 Hasan al-Basri tertegun lalu berkata,
“Kalau begitu, sebagaimana engkau telah menyelamatkan enam orang tadi dari bahaya tenggelam ke dalam sungai, maka selamatkanlah saya dari tenggelam dalam kebanggaan dan kesombongan.”

📌 Lelaki itu menjawab,
“Mudah-mudahan Allah mengabulkan permohonan tuan.”

📌 Semenjak itu, Hasan al-Basri semakin dan selalu merendahkan hati bahkan ia menganggap dirinya sebagai makhluk yang tidak lebih daripada orang lain.

📌 Jika Allah membukakan pintu shalat tahajjud untuk kita, janganlah lantas kita memandang rendah saudara seiman yang sedang tertidur nyenyak.

📌 Jika Allah membukakan pintu puasa sunnah, janganlah lantas kita memandang rendah saudara seiman yang tidak ikut berpuasa sunnah.

📌 Boleh jadi orang yang gemar tidur dan jarang melakukan puasa sunnah itu lebih dekat dengan Allah, daripada diri kita. Ilmu Allah sangat amatlah luas.
Jangan pernah membanggakan diri dan sombong pada amalanmu.

📌 Mudah-mudahan cerita ini sbagai pengobat jiwa kita agar terhindar dari
sifat mazmumah walau sehebat manusia.
Semoga kita trhindar dari sikap bangga diri, sombong, ujub dengan amalan kita sendiri. Sekali-kali jangan pernah berkata,
“Aku lebih baik daripada kamu.”

📌 Perlu kita ingat selalu nasehat ini,
Yang singkat itu – “waktu”
Yang menipu itu – “dunia”
Yang dekat itu – “kematian”
Yang besar itu – “hawa nafsu”
Yang berat itu – “amanah”
Yang sulit itu – “ikhlas”
Yang mudah itu – “berbuat dosa”
Yang susah itu – “sabar”
Yang sering lupa itu – “bersyukur”
Yang membakar amal itu – “ghibah”
Yang sering memasukkan ke neraka itu – “lidah”
Yang berharga itu – “iman”
Yang menentramkan hati itu – “sahabat sejati”
Yang ditunggu-tunggu Allah SWT itu – “taubat”

(Imam al-Ghazali)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s