Perbedaan Aspek Hukum Pembiayaan Konsumen Dengan Kredit Konsumsi

FAZLUR RAHMAN & REKAN

Oleh : Fazlur Rahman AS (ditulis pada 11 November 2013)

Latar Belakang

Seiring dengan bertambah pesatnya jumlah penduduk dan bertumbung kembangnya tingkat perekonomian di Indonesia, maka diperlukan berbagai infrastruktur keuangan dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat, baik keperluan usaha atau investasi maupun keperluan konsumsi. Pada satu sisi terdapat sebagian orang baik perorangan maupun kelompok yang memiliki sejumlah dana lebih dalam kas mereka, namun disisi lain terdapat orang yang memerlukan dana untuk kegiatan produksi ataupun konsumsi mereka. Dari sini timbullah berbagai praktik pinjam meminjam dana, dari yang paling konvensional menggunakan sistem yang boleh jadi memberatkan pihak yang memerlukan dana seperti praktik tengkulak/ lintah darat, sampai perkembangannya muncul lembaga perbankan dan non perbankan yang dikelola pemerintah maupun swasta dalam memenuhi kebutuhan dana masyarakat dengan sistem yang lebih fair.

Meskipun sebelumnya sudah ada beberapa infrastruktur penyaluran dana, tetapi baru pada kuartal ketiga tahun 1988 Indonesia memiliki dasar hukum administratif setelah pemerintah mengeluarkan Keputusan Presiden…

View original post 2,860 more words

Advertisements

Awali Pagi Dengan Do’a

AWALI PAGI DENGAN DO’A

Setiap memasuki pagi, nabi shallallahu alaihi wasallam selalu membaca do’a ini:

اَللَّهُمَّ إنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang halal, dan amalan yang maqbul.” 
(HR. Ahmad (6/322)

Catatan:

Terdapat korelasi yang kuat antara makna yang terkandung pada dzikir diatas dan waktu untuk membacanya. Ummu salamah mengabarkan bahwa dzikir tersebut dibaca oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam usai mengucapkan salam pada sholat subuh, dimana pada waktu tersebut setiap orang memulai aktifitasnya.

Tiga permohonan yang termaktub dalam hadits diatas seolah menggambarkan sasaran utama yang harus digapai seorang muslim saat mengarungi harinya. Seakan-akan dengan membaca dzikir ini ia telah menentukan apa yang harus digapai olehnya pada hari itu, sehingga dirinya termotifasi untuk mewujudkan semua itu dibawah taufiq dan bimbingan Allah. Berbeda dengan orang yang tidak memulia paginya dengan dzikir diatas. Langkahnya tidak menentu, hidupnya seolah tak memiliki tujuan dan arah yang pasti.

Wallahu a’lam 
Selamat beraktifitas
__________
Madinah 03-06-1436 H
ACT El Gharantaly

Kodham Center:
089502816008
=========================
FB : Komunitas Dhuha Ummat
FP : Komunitas Dhuha Ummat
Twitter : @DhuhaUmmat
Blog : kodham.wordpress.com
=========================
Cara gabung kodham (WA only)
Ketik : GabungKodham#nama#L/P#umur#no WA/PIN BBM#domisili#aktivitas
Kirim ke
⏩ WA
Ikhwan : Akh Irawan (089630319724 )
Akhwat: Ukh Suzan (08563212921)
⏩ BBM
Ikhwan : Akh Rocky (553F7F7F)
Akhwat : Ukh indri (28645022)
========================

Hukum Tasyabbuh (Mengikuti Gaya Orang Kafir)

Mengikuti Gaya Orang Kafir (Tasyabbuh)‎

📰Sumber : http://rumaysho.com/jalan-kebenaran/mengikuti-gaya-orang-kafir-tasyabbuh-3076
✒📔✒📔✒📔✒📔✒📔


Macam-Macam Tasyabbuh

Tasyabbuh dengan orang kafir ada dua macam: (1) tasyabbuh yang diharamkan, (2) tasyabbuh yang mubah (boleh).

1- Tasyabbuh yang haram adalah segala perbuatan yang menjadi kekhususan ajaran orang kafir dan diambil dari ajaran orang kafir, tidak diajarkan dalam ajaran Islam.

Terkadang tasyabbuh seperti ini dihukumi dosa besar, bahkan ada yang bisa sampai tingkatan kafir tergantung dari dalil yang membicarakan hal ini. Tasyabbuh yang dilakukan bisa jadi karena memang ingin mencocoki ajaran orang kafir, bisa jadi karena dorongan hawa nafsu, atau karena syubhat bahwa hal tersebut mendatangkan manfaat di dunia atau di akhirat.

Bagaimana jika melakukannya atas dasar tidak tahu seperti ada yang merayakan ulang tahun (Ultah) padahal ritual seperti ini tidak pernah diajarkan dalam Islam? Jawabnya, kalau dasar tidak tahu, maka ia tidak terkena dosa. Namun orang seperti ini harus diberitahu. Jika tidak mau nurut, maka ia berarti berdosa.

2- Tasyabbuh yang dibolehkan adalah segala perbuatan yang asalnya sebenarnya bukan dari orang kafir. Akan tetapi orang kafir melakukan seperti ini. Maka tidak mengapa menyerupai dalam hal ini, namun bisa jadi luput karena tidak menyelisihi mereka. Contohnya adalah seperti membiarkan uban dalam keadaan putih. Padahal disunnahkan jika warnanya diubah selain warna hitam. Namun jika dibiarkan pun tidak terlarang keras.

Namun perlu diperhatikan bahwa ada syarat bolehnya tasyabbuh dengan orang kafir:

1- Yang ditiru bukan syi’ar agama orang kafir dan bukan menjadi kekhususan mereka.

2- Yang diserupai bukanlah perkara yang menjadi syari’at mereka. Seperti dalam syari’at dahulu dalam rangka penghormatan, maka disyari’atkan sujud. Namun dalam Islam telah dilarang.

3- Syari’at menjelaskan bolehnya bersesuaian dalam perbuatan tersebut, namun khusus untuk amalan tersebut saja. Seperti misalnya dahulu Yahudi melaksanakan puasa Asyura, umat Islam pun melaksanakan puasa yang sama. Namun juga diselisihi dengan menambahkan puasa pada hari kesembilan dari bulan Muharram.

4- Menyerupai orang kafir di sini tidak sampai membuat kita menyelisihi ajaran Islam. Misalnya, orang kafir sekarang berjenggot. Itu bukan berarti umat Islam harus mencukur jenggot supaya berbeda dengan orang kafir karena memelihara jenggot sudah menjadi perintah bagi pria muslim.

5- Menyerupai orang kafir di sini bukan dalam perayaan mereka. Misalnya, orang kafir merayakan kelahiran Isa (dalam natal), maka bukan berarti kita pun harus merayakan kelahiran Nabi Muhammad (dalam Maulid Nabi). Jadi tidak boleh tasyabbuh dalam hal perayaan orang kafir.

6- Tasyabbuh hanya boleh dalam keadaan hajat yang dibutuhkan, tidak boleh lebih dari itu.

Lihat bahasan dalam Kitab Sunan wal Atsar fin Nahyi ‘an At Tasyabbuh bil Kuffar, oleh Suhail Hasan, hal. 58-59. Dinukil dari Fatwa Al Islam Sual wal Jawab no. 2025.
Wallahul muwaffiq.

HUKUM NADZAR

Nadzar

Nadzar adalah mewajibkan kepada diri sendiri sebuah ibadah yang pada dasarnya tidak wajib dengan menggunakan lafaz yang menunjukkan hal itu. Seperti berkata, “Jika Allah menyembuhkan penyakitku, aku akan berpuasa selama tiga hari.”

Suatu nazar dinyatakan sah, apabila dilakukan oleh orang balig, berakal, mampu memilih (tidak ada paksaan), meski mereka tidak beragama Islam.

Secara umum ulama tdk mensarankan untuk nadzar karena perbuatan orang bakhil karena berniat ibadah ketika diberikan kenikmatan Allah.

Rosulullah bersabda :

“Sesungguhnya nadzar iu tidak akan mendatangkan kebaikan, karena sesungguhnya nadzar itu hanyalah dilakukan oleh orang- orang yg sifatnya bakhil (HR Bukhari Muslim)

Sah atau Tidaknya Nadzar Dinyatakan

Nadzar dinyatakan sah, apabila dimaksudkan sebagai bentuk pendekatan (taqarrub) kepada Allah. Nadzar seperti itu wajib dipenuhi atau dilaksanakan.Sedangkan nadzar dengan maksud melakukan maksiat kepada Allah, dinyatakan tidak sah untuk dilaksanakan, seperti bernadzar meminum khamar, membunuh, meninggalkan shalat, atau menyakiti orang tua. Apabila bernadzar seperti demikian, maka tidak wajib memenuhinya, bahkan haram melakukannya, dan tidak kafarat bagi pelanggarnya, karena nadzar tersebut tidak sah.

Kafarat Nadzar

Seseorang bernazar, akan tetapi ia melanggar atau membatalkannya, maka ia wajib membayarkafarat. Sebagaimana dijelaskan dalam riwayat dari Uqbah bin Amir, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Kafarat nadzar jika tidak disebutkan secara mendetail, maka digolongkan sebagai kafarat sumpah.” (HR Ibnu Majah dan Tirmidzi)

Meninggal Dunia Sebelum Memenuhi Nadzar Puasa

Dalam riwayat dari Ibnu Majah disebutkan bahwa seorang wanita bertanya kepada Rasulullah SAW:

“Ibuku telah meninggal dunia, namun ia meninggal dunia. sebelum memenuhi nazar puasanya. “Rasulullah menjawab, “Hendaknya Walinya yang melakukan puasa tersebut.”

Wallahu’alam bi showab.

Disarikan dari Fiqh Sunah . Syeikh Sayyid Sabiq

AHLI DZIKIR

‎Ingin nyaman dan aman? Kurangi bicara yang tak manfaat dan perbanyak mendengarkan serta sibuklah dengan zikir.


Ahli Dzikir – AaGym | SMSTauhiid‎

http://www.smstauhiid.com/ahli-dzikir-aagym/

‎‎
Segala puji hanya milik Alloh Swt. Semoga Alloh Yang Maha Baik, senantiasa memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada kita sehingga kita menjadi hamba-hamba-Nya yang gemar berdzikir, mengingat-Nya dalam setiap langkah dan perbuatan kita. Sholawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada suri teladan kita, baginda nabi Muhammad Saw.
Saudaraku, Rosululloh Saw. pernah memberi wasiat kepada sahabat Muadz, “Demi Allah, aku benar-benar mencintaimu. Maka janganlah kamu lupa untuk membaca doa di setiap akhir shalat: ‘Allohumma a’innii ‘ala dzikrika wa syukrika, wa husni ‘ibaadatika.’ (Ya Allah, bantulah aku untuk mengingat-Mu dan bersyukur kepada-Mu, serta agar bisa beribadah dengan baik kepada-Mu).” (HR. An Nasa’i  dan Ahmad)
Barangsiapa yang merindukan menjadi seorang ahli dzikir, maka kita tahu bahwa dzikir adalah amalan yang tiada bandingannya. Ahli dzikir adalah orang yang paling sering diingat oleh Allah Swt. Allah Swt. berfirman, “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)Ku.”(QS. Al Baqarah [2] : 152)
Dan, barangsiapa yang ingin menjadi ahli syukur, maka kita tahu bahwa syukur adalah pembuka nikmat Allah Swt. Jauh lebih hebat bersyukur daripada berkeinginan. Bersyukur akan mendatangkan jaminan Allah berupa berbagai macam nikmat, sedangkan berkeinginan tidak mendatangkan apa-apa selain bagaikan rasa haus yang tiada berkesudahan.
Dan, barangsiapa yang ingin menjadi ahli ibadah dengan ibadah yang benar dan istiqomah, maka Rosululloh Saw. mengajarkan sebuah doa untuk kita amalkan. Doa tersebut berbunyi, “Allohumma a’innii ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatika”, “Duhai Allah, tolonglah kami, bantulah kami menjadi orang yang selalu dzikir kepada-Mu, ingat kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan menjadi ahli ibadah yang benar.”
Saudaraku, kita harus tahu bahwa kita bisa beramal, menjadi ahli dzikir, itupun karena pertolongan Allah Swt. Kita bisa terbuka hati melihat berbagai karunia sehingga kita bersyukur, itupun karena bimbingan Allah Swt. Dan, kitapun harus tahu bahwa kita bisa beribadah dengan niat yang benar, dengan tatacara yang benar, dan dengan istiqomah, itu semua merupakan karunia yang datang kepada kita karena petunjuk dari Allah Swt.
Betapa indah jikalau Allah Swt. senantiasa hadir dalam hati kita kapan dan dimanapun kita berada. Saat dipuji, maka Alloh Swt. ada di hati kita sehingga kita segera membungkus pujian itu dan mempersembahkannya hanya kepada Alloh Swt. Saat dicaci, maka Alloh Swt. pun ada di hati kita sehingga kita segera bermuhasabah diri sembari meyakini bahwa tiada satupun kejadian kecuali atas kekuasaan Alloh Swt.
Membiasakan hati untuk selalu berdzikir mengingat Alloh akan membuat hidup kita senantiasa terbimbing oleh-Nya. Hati yang berdzikir kepada Alloh akan menjadi pendorong bagi kita untuk senantiasa bersyukur dan beribadah kepada-Nya, hanya melakukan apa saja yang Alloh ridhoi.
Marilah kita berusaha mencari ilmunya, kita berusaha untuk berjuang dalam beramal sholeh, namun janganlah lupa untuk berdoa kepada Allah Swt. dengan doa yang telah diajarkan oleh Rosululloh Saw. Inilah doa yang diwasiatkan Rosululloh Saw. untuk kita baca setiap seusai menunaikan sholat. “Allohumma a’innii ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatika”.

Jangan biarkan orang lain yg mengajarkan Al Fatihah Untuk Anakmu

منْ دعاَ إلى هُدَى كَانَ له من الأجرِ مثلُ أُجورِ منْ تَبِعَهُ لا ينْقُصُ ذَلِكَ منْ أُجْورِهمْ شَيْئاً ومنْ دعاَ إِلىَ ضَلاَلةِ كاَن عليهِ من الإثمِ مثْلُ آثامِ مَنْ تبعَهُ لاَ ينْقُصُ ذَلِكَ من آثامهم شَيئاً رواه مسلم.

“Barangsiapa menyeru kepada hidayah (petunjuk) maka ia mendapatkan pahala sebagaimana pahala orang yang mengerjakannya tanpa mengurangi pahala  mereka sedikitpun. Dan barangsiapa menyeru kepada kesesatan maka ia mendapatkan dosa sebagaimana dosa yang mengerjakannya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun” (HR Muslim).

 إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim).

Dua hadits diatas, dengan jelas, menggambarkan betapa pentingnya peran orangtua dalam mendidik anak-anaknya. Bahkan seorang anak berhak untuk menuntut orangtuanya jika tidak mampu memberikan pendidikan yang baik dan benar kepada anak-anaknya.

Satu contoh kecil dan mudah yang bisa kita pelajari dalam kehidupan sehari-hari adalah, tentang Al-Fatihah. Berapa banyak kita sebagai seorang muslim membaca Ummul Kitab setiap harinya? Berapa banyak kita berdzikir sembari melafadzkan ayat-ayatnya? Saking seringnya surat ini dibaca, sampai-sampai Allah swt menyebutnya sebagai As-Sab’ul Matsani, yang berarti “Tujuh (ayat) yang berulang-ulang”.

Sementara setiap kita melafadzkan ayat-ayat Al-Quran, Allah swt membalasnya dengan sepuluh kebaikan tiap hurufnya, dengan sejumlah huruf dalam surat Al-Fatihah, dan membacanya berulang-ulang, tentu akan ada banyak pahala mengalir ke dalam tabungan amal kita.

Tapi, jangan lupakan hadits diatas, DUA HADITS TENTANG MENGAJARKAN KEBAIKAN KEPADA ORANG LAIN, dimana orang yang mengajarkan suatu kebaikan, akan mendapatkan pahala sebesar orang yang melaksanakannya tanpa mengurangi pahala orang yang melaksanakannya, dan tetap akan terus mengalir meski kita telah meninggal dunia.

Oleh karena itu, ada salah satu cara termudah untuk menabung amal bagi tiap orang, terutama bagi yang sudah dan akan memiliki anak keturunan. CAMKAN DALAM PIKIRANMU, AZZAM-KAN DALAM HATIMU, (sekali lagi) JANGAN BIARKAN ORANG LAIN MENGAJARKAN AL-FATIHAH UNTUK ANAKMU!

Pertanyaannya adalah, sejauh mana bacaan surat Al-Fatihah kita? Apakah sudah sesuai dengan apa yang Rasulullah saw ajarkan kepada para sahabatnya? Apakah sudah sesuai dengan riwayat Imam yang kita ikuti? Ataukan sudah sesuai dengan yang diajarkan oleh guru TPA kita? Ataukah kita hanya sekedar bisa membaca saja? Bahkan belum mampu membaca dengan sempurna? Belepotan sana-sino, tabrak sana, tabrak sini?

Wahai saudaraku dalam iman, mulai hari ini, Marilah kita tekadkan, mumpung masih ada waktu, kita benarkan bacaan Al-Quran kita, setidaknya untuk surat Al-Fatihah dulu, syukuur, bisa seluruhnya, sehingga kita bisa meng-khatam-kan Al-Quran dengan Mutqin. Cari guru yang engkau sukai asal ilmunya jelas, bersanad baik, dan benar sesuai tuntunan darti Rasulullah saw.

Sekali lagi…

JANGAN BIARKAN ORANG LAIN MENGAJARKAN AL-FATIHAH UNTUK ANAKMU!

Kisah Tauladan : Halal Buat Kami, Haram Untuk Tuan

HALAL BUAT KAMI, HARAM BUAT TUAN

Adalah ulama Abu Abdurrahman Abdullah bin al-Mubarak al-Hanzhali al Marwazi [1] ulama
terkenal di makkah yang menceritakan riwayat ini.

Suatu ketika, setelah selesai menjalani salah satu ritual haji, ia beristirahat dan tertidur. Dalam tidurnya ia bermimpi melihat dua malaikat yang turun dari langit. Ia mendengar percakapan mereka,
“Berapa banyak yang datang tahun ini?” tanya
malaikat kepada malaikat lainnya.

“Tujuh ratus ribu,” jawab malaikat lainnya.
“Berapa banyak mereka yang ibadah hajinya
diterima?”
“Tidak satupun”

Percakapan ini membuat Abdullah gemetar.
“Apa?” ia menangis dalam mimpinya.
“Semua orang-orang ini telah datang dari belahan bumi yang jauh, dengan kesulitan yang besar dan keletihan di sepanjang perjalanan, berkelana menyusuri padang pasir yang luas, dan semua usaha mereka menjadi sia-sia?”

Sambil gemetar, ia melanjutkan mendengar
cerita kedua malaikat itu.
“Namun ada seseorang, yang meskipun tidak
datang menunaikan ibadah haji, tetapi ibadah
hajinya diterima dan seluruh dosanya telah
diampuni . Berkat dia seluruh haji mereka
diterima oleh Allah.”

“Kok bisa”
“Itu Kehendak Allah”
“Siapa orang tersebut?”
“Sa’id bin Muhafah[2], tukang sol sepatu di kota Damsyiq (damaskus sekarang)”

Mendengar ucapan itu, ulama itu langsung
terbangun. Sepulang haji, ia tidak langsung pulang kerumah, tapi langsung menuju kota Damaskus, Siria.

Sampai disana ia langsung mencari tukang sol
sepatu yang disebut Malaikat dalam mimpinya.
Hampir semua tukang sol sepatu ditanya, apa
memang ada tukang sol sepatu yang namanya
Sa’id bin Muhafah.

“Ada, ditepi kota” Jawab salah seorang sol
sepatu sambil menunjukkan arahnya. Sesampai disana ulama itu menemukan tukang sepatu yang berpakaian lusuh,

“Benarkah anda bernama Sa’id bin Muhafah?”
tanya Ulama itu
“Betul, siapa tuan?”
“Aku Abdullah bin Mubarak”
Said pun terharu, “bapak adalah ulama terkenal, ada apa mendatangi saya?”

Sejenak Ulama itu kebingungan, dari mana ia
memulai pertanyaanya, akhirnya iapun menceritakan perihal mimpinya.

“Saya ingin tahu, adakah sesuatu yang telah
anda perbuat, sehingga anda berhak
mendapatkan pahala haji mabrur?”
“Wah saya sendiri tidak tahu!”
“Coba ceritakan bagaimana kehidupan anda
selama ini
Maka Sa’id bin Muhafah bercerita.
“Setiap tahun, setiap musim haji, aku selalu
mendengar :
Labbaika Allahumma labbaika.
Labbaika la syarika laka labbaika.
Innal hamda wanni’mata laka wal mulka.
laa syarika laka.
Ya Allah, aku datang karena panggilanMu.
Tiada sekutu bagiMu.
Segala ni’mat dan puji adalah kepunyanMu dan
kekuasaanMu.
Tiada sekutu bagiMu.
Setiap kali aku mendengar itu, aku selalu
menangis
Ya allah aku rindu Mekah
Ya Allah aku rindu melihat kabah
Ijinkan aku datang…..
ijinkan aku datang ya Allah..

Oleh karena itu, sejak puluhan tahun yang lalu
setiap hari saya menyisihkan uang dari hasil
kerja saya, sebagai tukang sol sepatu.
Sedikit demi sedikit saya kumpulkan.
Akhirnya pada tahun ini, saya punya 350
dirham, cukup untuk saya berhaji.

“Saya sudah siap berhaji”
“Tapi anda batal berangkat haji”
“Benar”
“Apa yang terjadi?”
“Istri saya hamil, dan sering ngidam. Waktu saya hendak berangkat saat itu dia ngidam berat”
“Suami ku, engkau mencium bau masakan yang
nikmat ini?
“ya sayang”
“Cobalah kau cari, siapa yang masak sehingga
baunya nikmat begini. Mintalah sedikit untukku”

“Ustadz, sayapun mencari sumber bau masakan itu. Ternyata berasal dari gubug yang hampir runtuh.
Disitu ada seorang janda dan enam anaknya.
Saya bilang padanya bahwa istri saya ingin
masakan yang ia masak, meskipun sedikit.
Janda itu diam saja memandang saya, sehingga saya mengulangi perkataan saya

Akhirnya dengan perlahan ia mengatakan “tidak boleh tuan”
“Dijual berapapun akan saya beli”
“Makanan itu tidak dijual, tuan” katanya sambil
berlinang mata.

Akhirnya saya tanya kenapa?
Sambil menangis, janda itu berkata “daging ini
halal intuk kami dan haram untuk tuan”
katanya.
Dalam hati saya: Bagaimana ada makanan yang halal untuk dia, tetapi haram untuk saya,
padahal kita sama-sama muslim? Karena itu
saya mendesaknya lagi “Kenapa?”

“Sudah beberapa hari ini kami tidak makan.
Dirumah tidak ada makanan. Hari ini kami
melihat keledai mati, lalu kami ambil sebagian
dagingnya untuk dimasak.
“Bagi kami daging ini adalah halal, karena andai kami tak memakannya kami akan mati
kelaparan. Namun bagi Tuan, daging ini haram”.

Mendengar ucapan tersebut spontan saya
menangis, lalu saya pulang.
Saya ceritakan kejadian itu pada istriku, diapun
menangis, kami akhirnya memasak makanan dan mendatangi rumah janda itu.

“Ini masakan untuk mu”
Uang peruntukan Haji sebesar 350 dirham pun
saya berikan pada mereka.”
Pakailah uang ini untuk mu sekeluarga. Gunakan untuk usaha, agar engkau tidak kelaparan lagi”

Ya Allah……… disinilah Hajiku
Ya Allah……… disinilah Mekahku.
Mendengar cerita tersebut Abdullah bin
Mubarak tak bisa menahan air mata.

“Kalau begitu engkau memang patut
mendapatkannya”…